TIME [Bad Future]

TIME [Bad Future]
DUA


__ADS_3

"Kita harus cepat pergi dari tempat ini dan kembali ke Kutub Selatan," kata salah satu robot mirip manusia —namun, tanpa rambut— dengan suara khas robot.


"Kita harus tunggu mereka siuman dulu. Tak mungkin kita tinggalkan mereka. Kita juga tak bisa membawa mereka dalam kondisi seperti ini," satu robotnya lagi menimpali.


Hening sekejap. Kedua robot itu kini sedang mengecek manusia yang terbaring di atas brankar. Alya, Oliv, Rey, dan Risa. Ke empat manusia itu masih tidak sadarkan diri semenjak mereka tiba di laboratorium milik profesor Hermes.


Sebuah robot kembali memasuki ruangan. Sama hal nya dengan kedua robot tadi, robot ini juga mirip manusia yang botak.


Ia membuka dadanya dan menekan sebuah tombol di dalamnya. Dalam hitungan menit, badan robot itu mulai mengelupas dengan sempurna dan terlihat lah seorang pria paruh baya yang cukup tampan. Raut wajahnya terlihat begitu khawatir.


"Apa mereka sudah siuman?" Katanya menghampiri robot dengan baju berwarna biru yang sedang memeriksa Oliv.


"Belum. Namun, detak jantung mereka sudah normal. Kemungkinan mereka akan sadar sebentar lagi," jelas robot itu.


"Ah, sebentar lagi itu berapa lama? Kita harus segera kembali ke Kutub Selatan, sebelum mereka dapat mendeteksi keberadaan ku," katanya sambil mengacak rambutnya frustasi.


"Tenang dulu. Gadis ini akan sadar sekitar dua menit lagi. Gadis yang itu, sekitar tiga menit dua detik, gadis yang di ujung sekitar dua menit tiga puluh detik, dan yang anak laki-laki ini akan sadar sekitar tiga puluh detik lagi," jelas robot dengan baju berwarna merah yang berada di samping brankar Rey. "Jika, perkiraan ku tidak salah," sambung robot tersebut.


"Ya, aku kan sabar," lelaki itu duduk di brankar kosong. Ia mengotak atik sebuah kotak kecil. Kotak itulah yang merubahnya menjadi robot seperti tadi.


"Alex, apa mereka bisa berbicara dengan bahasa kita?" tanya robot yang berbaju merah.


"Tentu, Lucky. Bahkan, sebelum kita mengetahui bahasa, mereka sudah tau lebih dahulu," jawab lelaki tadi.


"Apa kah mereka tau cara memberi makan robot?" tanya robot berbaju biru


"Setahuku, robot dengan kecerdasan buatan sudah ada pada tahun 2015. Kurasa, mereka tidak tau caranya memberi makan kalian.


Mungkin mereka hanya tau cara mengecas nya saja. Hei, lagi pula sejak kapan kalian makan?" Alex mengalihkan pandangannya dari kotak tersebut dan memandang si robot berbaju biru.


Robot berbaju biru itu menekan sebuah tombol di pelipisnya. Saat itu juga, terlihat ada sinar memancar dari matanya. Dari sinar itu terbentuk hologram yang menampilkan sosok berbaju putih dengan wajah yang sudah lumayan tua, dan rambut yang sudah mulai memutih.


"Kalian sudah ku perbaharui. Sekarang, kalian sudah punya sistem pencernaan sendiri seperti manusia. Kalian sekarang dapat makan dan mencicipi rasa layaknya manusia."


Gambar hologram tersebut memperlihatkan lelaki tersebut sedang sibuk berjalan-jalan. Sesekali ia terlihat beberapa alat mekanik lainnya yang ada di tangannya.


"Wow! Itu sebabnya kenapa selama dua bulan ini, kalian lama tinggal di rumah profesor dan tidak keluar rumah?"


"WANJIIIRRR APAAN NI ORANG KOK TERBANG-TERBANG!" rey sudah siuman. Ia terkejut melihat hologram dari profesor Hermes yang kini sedang berada di samping kasurnya.

__ADS_1


Kelly, si robot berbaju biru, belum mematikan hologramnya. Ia terkejut mendengar teriakan Rey. Refleks, ia menayangkan hologram singa yang sedang membuka wajahnya.


"GUE BELUM JADI MATI! KENAPA GUE UDAH ADA DI NERAKA?" Rey bangun dari tempatnya. Ia lari terbirit-birit.


BUG!


Rey menabrak tembok. Tempat ini memang terlihat sangat luas. Itu karean ada nya ilusi optik di tempat ini.


"Kelly, kau tidak seharusnya begitu. Itu menakut-nakuti nya," Alex berusaha menolong Rey yang sedang memegangi jidatnya.


"Set, dah keras banget, ni!" Rey meringis sembari di bopong Alex kembali ke tempat tidurnya.


"Maaf Alex, aku tidak sengaja. Yang tadi itu adalah gerakan tiba-tiba."


"Ya, tidak masalah. Minta maaf lah pada kakek kita ini."


"Kakek? Heh, kalau gue kakek, lo apa? Buyut?" Kata Rey. Ia masih memegangi kepalanya. "Maaf om. Makannya kalau ngomong di pikir dulu om. Masa anak ganteng bebas kerutan kaya saya ini di bilang kakek?" Rey dengan sifat banyak omong nya mulai protes.


"Saya Alex, lahir di tahun dua ribu seratus tiga puluh dua. Dan kau, maksudku anda, pasti lahir di tahun dua ribu tiga?"


"Ya ya ya! Tahun dua ribu lima puluh aja belum ada, udah ada tahun dua ribu seratus. Om nih, bercanda terus!"


"Hallo. Apa anda baik-baik saja?" Kata Kelly dan Lucky.


"Saya minta maaf atas hologram singa yang tadi. Saya benar-benar tidak sengaja."


"Robot humanoid? Pasti ini kembangan robot Shopia? Anjay, gila keren, nih!" Rey turun dari brankar nya lalu meneliti Kelly dan Lucky.


"Gila, mirip banget sama kulit manusia! Cuma botak aja, sih. Jadinya kaya Upin Ipin, Hahaha!" Rey tertawa sedikit.


"Saya akan menjelaskan kepada anda tentang apa yang sedang terjadi. Namun, saya harus menunggu kita sampai di Kutub Selatan. Tempat itu lebih tenang," kata Alex.


"Iya om. Sekarang jam berapa om? Terus, ini rumah sakit mana? Kok saya ada di rumah sakit? Perasaan saya sehat-sehat aja?" kata Rey. Ia sedikit tidak percaya dengan apa yang di ucapakn oleh Alex.


'Lagian yang tinggal di Kutub Selatan 'kan cuma Ilmuan,' batin Rey.


"Sekarang jam dua belas lewat empat puluh menit. Soal pertanyaan anda, saya akan jawab apabila kita sudah akan berangkat ke Kutub Selatan. Untuk keberangkatannya, kita harus menunggu teman-teman anda siuman terlebih dahulu," Jelas Alex.


Rey menoleh. Ia mendapati Oliv, Alya, dan Risa yang masih terbaring di atas brankar. Ia baru sadar jika ada brankar lain di sekitarnya.

__ADS_1


Rey diam sejenak. Banyak hal yang ingin di tanyakan. Namun ia urung. Ia mengira kalau orang di hadapannya ini adalah orang gila.


Ia sedikit ketakutan. Rey mulai naik ke atas brankar lagi. Ia menutupi tubuhnya dengan selimut.


Ruangan ini putih. Dari dinding hingga lantainya putih, tanpa keramik. Namun dengan sedikut ilusi membuat ruangan ini terlihat lebih luas.


Rey takut kalau Alex adalah psikolog yang ingin membunuh targetnya. Dan ia takut, kalau ia adalah targetnya.


"Hallo apa anda baik-baik saja? Ada keluhan?" Kelly menanyakan kondisi Oliv yang baru sadar.


Oliv hanya menggeleng. Ia masih merasa sedikit pusing. Oliv memegangi kepalanya dan memijat-mijat sedikit.


"Apa anda merasa sakit?" Lucky bertanya pada Risa. Risa hanya diam. Ia memperbaiki posisinya. Ia kini bersandar pada kepala brankar dibantu Lucky.


"Hai, apa anda punya keluhan?" alex bertanya pada Alya. Alya diam. Ia menatap kosong ke depan.


"Hallo, apa anda baik-baik saja?" Alex berusaha berkomunikasi dengan Alya. Tapi Alya hanya diam tak menanggapi. Tatapannya masih kosong.


"Nyonya, apa anda baik-baik saja?" Alex mulai mengguncang bahu Alya. Namun, Alya masih tak merespon.


"Lucky! Cepat periksa wanita ini! Kenapa dia tidak merespon ku? Padahal matanya terbuka."


Lucky cepat menghampiri Alex dan Alya. Lucky memeriksa tubuh Alya.


"Alex, wanita ini dalam kondisi normal dan stabil," Lucky memberi sebuah laporan hasil pemeriksaan di tangannya yang memancarkan sebuah cahaya yang menampilkan laporan kesehatan.


"Tenang aja om. Dia emang gitu kalau bangun tidur," Rey sedikit membuka selimutnya.


"Kita ada di mana?" Alya mulai dapat berbicara.


"Saya akan jelaskan semua nya. Namun, untuk saat ini saya harap anda sekalian ikut saya ke Kutub Selatan. Tempat itu lebih aman untuk bertanya jawab daripada tempat ini," Alex menjelaskan.


"Kelly, siapkan mobil terbang!" kata Alex. Kelly segera keluar dari ruangan. Ia langsung menyiapkan mobil terbang yang di minta Alex.


"Mari kita ikuti Kelly. Kalian sudah kuat untuk berjalan sendiri, 'kan?"


Oliv mengangguk. Risa hanya menatap Alex. Alya menatap Alex dengan tatapan penuh tanya. Sedangkan Rey, ia mulai berjalan keluar pintu.


"Mari!" Alex tersenyum sangat manis pada ke tiga gadis itu. Mereka pun turun dari brankar dan mulai berjalan mengikuti Alex.

__ADS_1


☆☆☆


__ADS_2