TIRAI LUKA

TIRAI LUKA
Sepuluh


__ADS_3

Mata cantik Lea perlahan terbuka. Lea menatap langit-langit ruangan tersebut yang terasa asing baginya. Lea benar-benar merasa lemas sekali bahkan sangat pusing. Bau obat menyeruak masuk kedalam indra penciuman milik Lea dan Lea pastikan dirinya berada di rumah sakit.


Lea ingat sebelum kesadarannya hilang, Lea mendengar suara Rara yang berteriak memanggil namanya. Berbagai pertanyaan muncul di dalam pikiran Lea. Apakah Rara yang membawanya ke rumah sakit? Apakah Rara mengetahui tentang penyakitnya? Atau bahkan Ketty mengetahuinya? Bagaimanapun juga Lea tidak siap jika ada orang lain tau akan kelemahan dirinya. Lea benci di kasihani.


Saat sedang melamun memikirkan siapa yang mengantarkannya ke rumah sakit tiba-tiba pintu ruang rawat Lea terbuka dan menampakkan sosok David yang masuk ruangannya.


"Om David?" Lirih Lea pelan. Lea cukup terkejut melihat David memasuki ruangannya.


"Lea sayang, kamu udah sadar?" Tanya David sama terkejutnya dengan Lea.


"Om yang bawa Lea ke sini?" Tanya Lea penasaran.


"Iya, tadi Om mau memantau gimana pekerjaan Zefa di kantor tapi saat sampai di sana Om di kejutkan sama teriakan temen kamu yang minta tolong" jawab David menjelaskan bagaimana ia bisa membantu membawa Lea ke rumah sakit.


"Gimana Om?" Tanya Lea lagi.


David yang tau akan maksud dari pertanyaan Lea pun kembali mengingat apa yang di katakan oleh dokter Rizal. David pun menghembuskan nafasnya berat. David bahkan tak tau bagaimana caranya dia menjelaskan kepada Lea.


"Om gimana?" Ulang Lea. Lea begitu penasaran dengan apa yang dijelaskan oleh dokter yang menanganinya. Walaupun dalam hati Lea yakin bahwa keadaannya semakin memburuk.


"Kamu istirahat dulu, Om akan jelaskan nanti" ucap David mengalihkan perhatian Lea. David hanya ingin mengumpulkan keberanian untuk mengatakan kepada Lea apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Lea untuk cukup kuat untuk mendengar kabar buruknya" ujar Lea meyakinkan David. Lea hanya tidak suka jika ada seseorang yang menyembunyikan tentang keadaan dirinya yang sebenarnya. Apapun hasil dari pemeriksaan dokter Lea siap menerimanya. Bahkan Lea masih ingin mati dalam keadaan mengenaskan yang akan membuat semua orang menyesali semua perlakuannya terhadap Lea terutama Aldi dan Livia.


"Kamu mengidap Leukemia limfositik kronis stadium lanjut. Kangker hati yang kamu idap juga sudah memasuki stadium 3. Dokter bilang kamu harus melakukan transplantasi sumsum tulang belakang sesegera mungkin. Dan alangkah baiknya jika yang mendonorkan adalah dari pihak keluarga" jelas David dengan berat hati. Sakit sekali rasanya mengatakan hal sepahit itu pada Lea yang memiliki jiwa yang rapuh.


Lea terkejut bukan main saat mendengar pernyataan David. Satu penyakit mematikan belum sembuh sepenuhnya kini harus bertambah lagi dengan yang lainnya.


"Om harus janji sama Lea, jangan pernah kasih tau siapapun tentang ini bahkan Abang Fian sekalipun. Penyakit ini cukup kita yang tau jangan ada yang lainnya. Bahkan Lea gak akan melakukan operasi transplantasi sumsum tulang belakang itu" ujar Lea menahan sesak di dadanya. Sesak kali ini bukan lagi tentang penyakit yang menyerang fisiknya melainkan sakit yang menyerang jiwa rapuhnya. Inikah jalan yang Tuhan pilihkan untuknya? Sepahit inikah?


"Enggak mungkin Om akan diam Lea. Kamu membutuhkan sumsum itu. Bahkan Om akan mencari siapapun yang memiliki sumsum yang cocok dengan kamu. Om akan berusaha" tegas David yang kekeh ingin mencari segala cara agar Lea bisa sembuh dari penyakitnya.


"Om pikir dengan mereka yang mau mendonorkan semua itu bakal buat Bunda sayang sama Lea? Om pikir Papa akan mau meluangkan waktunya untuk menemani Lea? Enggak kan? Percuma!! Jangan buat Lea lebih sakit lagi dengan melakukan berbagai cara untuk Lea sembuh. Biarin semuanya berjalan sampai Tuhan nyuruh Lea pulang. Biarin Lea menikmati semua rasa sakit ini sebelum Lea bener-bener menutup mata Lea" isak Lea.


"Kalau sampai Om buka mulut tentang ini, maka Lea pastikan Om hanya akan melihat jasad Lea terbaring kaku keesokan harinya. Dan satu lagi, berpura-pura aja Om gak tau apapun tentang Lea di depan Abang Fian" ancam Lea tidak main-main.


David tidak pernah sekalipun di ancam oleh seseorang dan langsung takluk begitu saja. Tapi di hadapan Lea bahkan David sama sekali tidak bisa berkutik ataupun berucap selain menyetujui apapun yang di katakan oleh Lea.


"SAYANG, KAMU KENAPA?" Teriak Zefa yang baru saja sampai di ruangan Lea. Teriak Zefa yang begitu kencangnya membuat Lea dan David menutup telinga mereka masing-masing. Dan bisa di bayangkan bagaimana kencangnya teriakan Zefa mungkin saja seluruh rumah sakit bisa mendengarnya.


"Bisa gak usah teriak?" Sewot David yang berada di sisi kanan ranjang Lea menatap tajam Zefa.


"Dad, Zefa khawatir sama keadaan calon istri Zefa" ketus Zefa yang sepertinya cemburu karena melihat David duduk tepat di sisi Lea.

__ADS_1


"Lo ngapain ke sini?" Tanya Lea malas. Pasalnya jika sudah ada Zefa bisa Lea pastikan ruangan itu tidak akan pernah terlepas dari ocehan pria itu.


"Sayang, aku tadi dapet kabar dari sekertaris aku yang suka ngerumpi sama temen sebelahnya katanya kamu di bawa ke rumah sakit. Jadi aku langsung nyuruh orang buat cari tau dimana kamu dirawat dan akhirnya aku tau kamu di sini, ya udah aku langsung ke sini deh. Lagian sayang kalo kamu lagi gak enak badan kan bisa bilang sama aku jadi kamu bisa istirahat di ruangan aku. Jangan buat aku khawatir lagi ya?" Jawab Zefa panjang lebar.


Lea memutar bola matanya malas mendengar ocehan Zefa yang kelewat alay itu. Zefa akan selalu mengganggu hari-harinya saat Lea salah menolong seseorang kala itu. Dan bisa di pastikan jika Zefa bukanlah orang yang mudah menyerah. Dan itu akan mempersulit ruang gerak bagi Lea.


Bahan David yang menjabat sebagai ayah Zefa tidak menyangka jika putranya dapat bertingkat alay seperti itu. Yang David tau Zefa akan bertingkah konyol jika di hadapan keluarganya saja dan akan bersikap dingin jika berhadapan dengan seorang wanita. Dan apa sekarang? Putranya menjadi seorang budak cinta yang kelewat batas.


"Jadi kalian benar akan menikah?" Tanya David serius.


"Iya/enggak" jawab Zefa dan Lea berlainan.


"Siapa yang benar?" Tanya David lagi.


"Aku/aku" lagi-lagi Zefa dan Lea menjawab bersamaan.


"Denger ya Lo, bos gila. Gue bukan calon istri Lo apalagi ngarepin nikah sama Lo. Semua itu gak ada di rencana hidup gue" ketus Lea yang sudah kelewat jengah.


Tiba-tiba saja Zefa mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Lea. Sekarang jarak di antara Lea dan Zefa hanya berkisar 3 cm saja. Bahkan Zefa tidak memperdulikan David yang menatapnya dengan wajah cengonya.


"Suka gak suka kita udah saling terikat. Dan suka gak suka kamu udah masuk ke dalam kehidupan aku dan gak ada jalan untuk keluar" bisik Zefa.

__ADS_1


__ADS_2