
Lea menangis meraung di dalam kamarnya setelah pergi dari hadapan ayahnya. Lea merasakan sakit yang teramat sangat dalam hatinya. Setiap hari ibu kandungnya sendiri menyiksa mentalnya. Ibu yang melahirkannya selalu mencari kesempatan untuk membuatnya merasa tidak berguna hidup di dunia. Begitupula bahu kokoh yang seharusnya menjadi sandaran baginya untuk mengistirahatkan tubuh serta pikirannya tidak pernah ia dapatkan. Papa kandungnya hanya bertanggung jawab dari segi materi saja. Sama sekali tidak pernah memikirkan apakah putrinya bahagia atau sebaliknya.
Kehidupan yang menyakitkan seolah sudah menjadi temannya sehari-hari. Hidup yang bahkan sama sekali tidak berpihak padanya. Ia hanya ingin sedikit saja bahagia sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.
"BRENGSEK!!! SEMUANYA BRENGSEK" teriak Lea lelah.
Ya Lea lelah. Lelah dengan penyakitnya, lelah dengan keadaan keluarganya, dan lelah dengan takdirnya.
"Kenapa? Kenapa harus gue? Gue cape. Gue pengen ngerasain bahagia seperti anak-anak yang lain. Gue pengen keluarga gue perhatian sama gue walaupun gak bakalan menyatu layaknya keluarga. Gue cape, gue sakit. TUHAN KENAPA HARUS GUE? KENAPA TAKDIR GUE SEPAHIT INI? KENAPA TUHAN? KENAPA?" ujar Lea sakit.
Dada Lea terasa berdenyut nyeri, rasa pening di kepalanya mulai menyerangnya. Pastinya penyakit sialan itu kembali menyerangnya.
Dikala dadanya berdenyut nyeri, tiba-tiba ada notifikasi pesan di ponselnya.
+62813********
|Sayang!|
|Ini aku Zefaπ|
|Sayang kamu tadi kemana?π₯|
|Aku nyariin kamu lho. Aku tadinya mau ajak kamu pulang bareng tauπ₯|
Ternyata itu Zefa, pria keras kepala yang menjebaknya dalam permainan suatu hubungan.
Dada Lea semakin nyeri dan kepalanya seperti mau pecah. Rasa pening di kepala Lea tak tertahankan.
Lea mengeklik nomor ponsel Aldi Sanjaya. Lea berharap Aldi akan mengangkat teleponnya dan memperhatikannya.
...PAPA...
{Hallo Lea ada apa?}
^^^{Papa, Lea sakit} ^^^
{Minum obat kamu aja Lea, Papa lagi sibuk. Lagian kamu pasti cuma sakit demam kan?}
^^^{Papa.....} ^^^
Belum selesai Lea berbicara, Aldi sudah mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
__ADS_1
Lea sangat terluka dengan semua perlakuan Aldi. Lea hanya ingin, sedikit perhatian dan rasa khawatir dari Aldi. Namun sepertinya itu hanyalah mimpinya yang indah karena pada kenyataannya tak ada siapapun yang dapat mengerti keadaannya.
"Papa, Lea sa..sa..kit. Le..Le..a bukan sakit biasa. Lea sakit parah, ha... hati Lea sakit Pa. Lea cuma butuh Papa" keluh Lea dengan lemah.
Nafas Lea semakin tidak beraturan. Rasa sesaknya semakin menjadi-jadi. Lea juga lupa dia belum menebus obat-obatan yang akan meringankan rasa sakitnya.
...Abang Fianπ...
{Hallo Dek, ada apa?}
^^^{Abang sa..sa..kit. Tolong Lea}^^^
{Dek, Lo sakit lagi?}
^^^{Ce..ce...pet Bang, please Le...Lea udah gak ku...ku..at}^^^
{Dek, tenangin diri Lo. Gue bakal segera ke sana}
^^^{Abang sakit}^^^
{Jangan terlalu panik Dek, gue jalan sekarang}
"Papa, Bunda" rintih Lea lemas. Oksigen di sekitarnya serasa menipis.
Hendak bagaimanapun Papa dan Bundanya, Lea tetaplah seorang anak yang akan mengigaukan orang tuanya saat sedang seperti sekarang. Sebaik apapun orang lain yang menganggapnya putri dan bagaimanapun buruknya perlakuan Papa dan Bundanya memperlakukannya tetap saja yang ada di pikirannya di saat-saat seperti ini adalah orang tuanya.
Rasa sakit pada mentalnya yang di rasakan oleh Lea sudah berjalan selama 15 tahun lamanya. Semua itu di karenakan Lea terlalu merasa asing dengan dunia. Tetapi jika penyakit yang menyerang fisiknya sudah berlangsung selama tujuh tahun terakhir. Semuanya di derita oleh Lea sendiri. Hanya Fian yang mendukungnya beberapa tahun terakhir ini. Hanya Fian saja yang menjadi bahu untuknya bersandar. Hanya Fian.
...π...
...π...
...π...
...π...
Fian sampai di pekarangan rumah milik Anton setelah menempuh perjalanan 30 menit. Tak lupa Fian juga membawa obat-obatan milik Lea yang ia beli di apotek sebelum menuju ke rumah Anton.
Dengan langkah tergesa-gesa Fian segera menuju teras rumah Anton. Fian langsung saja memencet bel rumah itu.
Tak lama kemudian Livia membuka pintu tersebut. Livia menampilkan mimik wajah sinis ketika melihat Fian lah yang datang di jam 10 malam.
__ADS_1
"Mau apa kamu?" Tanya Livia ketus.
"Dimana Lea?" Tanya Fian dingin. Fian sangat malas jika harus berdebat dengan Livia ibu kandung dari adiknya.
"Gak liat ini udah jam sepuluh malam. Lea udah tidur" jawab Livia tak habis pikir dengan kelakuan Fian yang datang di jam 10 malam hanya untuk menemui Lea.
"Saya gak peduli. Sekarang biarin saya masuk. Saya mau ketemu Lea" ucap Fian kekeh tanpa memperdulikan bagaimana reaksi sang empu pemilik rumah.
"Ada apa Liv?" Tanya Anton yang baru saja keluar karena mendengar suara ribut-ribut dari luar.
"Saya mau ketemu Lea" ucap Fian ketika Anton berada di hadapannya.
"Masuk aja ke kamar Lea. Hari ini mungkin Lea membutuhkan pundak kamu" ucap Anton mengizinkan Fian masuk dan bertemu dengan Lea.
"Tapi mas...." Keluh Livia yang tidak setuju dengan keputusan suaminya itu.
"Ini salah kamu" balas Anton dengan nada tak terbantahkan.
Fian pun dengan cepat melangkahkan kakinya menuju kamar Lea ketika Anton sudah mengizinkannya masuk. Saat Fian masuk kedalam kamar Lea, Fian di kejutkan dengan banyaknya darah yang ada di lantai dan darah yang keluar dari hidung Lea dengan begitu derasnya. Begitu pun Lea yang sudah tergeletak di lantai dekat pintu balkon.
"Dek, bangun" ucap Fian mencoba mengembalikan kesadaran Lea.
Lea yang memang masih setengah sadar pun membuka matanya perlahan. Lea bersyukur karena Fian sudah sampai ketika dirinya sudah tak mampu lagi menahan rasa sakitnya.
"Abang sa...sa..kit" rintih Lea yang berada di pelukan Fian.
Fian merasakan rasa perih dihatinya ketika menyaksikan penderitaan adiknya yang sudah entah berapa kali. Fian benci ketika dirinya tak mampu berbuat apa-apa melihat adiknya Manahan rasa sakit.
"Dek, gue di sini. Jangan khawatir lagi. Sekarang minum obat Lo dulu ya" ujar Fian sembari menggendong Lea ke arah ranjang lalu merebahkan tubuh ringkih Lea.
Lea hanya menurut pada kakaknya. Lea meminum obatnya yang jumlahnya tidak sedikit. Ada rasa lelah dalam diri Lea ketika dia harus meminum obatnya setiap hari. Dia lelah ketika hidupnya bergantung pada obat-obatan. Dirinya lemah dan dia tau bahwa dirinya tidak akan sembuh walaupun dia berusaha untuk selalu hidup.
Setelah Lea merasa sedikit tenang dan nyeri di dadanya juga perlahan menghilangkan lagi-lagi Lea mengatakan hal yang tidak-tidak.
"Abang, Lea Pengen peluk Papa sama Bunda. Lea sakit Bang, Lea udah gak kuat" adu Lea dalam pelukan Fian sembari menangis dalam diam.
Hati Fian kembali merasakan sakit. Kerapuhan Lea sudah sering sekali ia lihat. Keinginan dan mimpi Lea untuk mendapatkan kasih sayang orang tuanya seperti hanya kesemuan semata. Aldi memang menerima kehadiran Lea. Tapi Aldi sangat jarang menemui Lea dan memperhatikan Lea. Aldi hanya bertanggung jawab dari segi finansial dan belum mampu bertanggung jawab secara batin.
"Abang Lea boleh pulang ke pangkuan Tuhan?" Tanya Lea lirih bahkan hampir tak terdengar oleh Fian.
Setelah mengucapkan itu Lea tertidur pulas di pelukan Fian.
__ADS_1