
"Jangan pernah mencintai gue"
Ucapan itu terus terngiang-ngiang di benak Zefa. Setelah kepergian Lea dari ruangannya, Zefa langsung berpikir keras tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ucapan mutlak dan tatapan dingin milik Lea, Seolah memberikan kesan menakutkan bagi Zefa.
Zefa mengambil ponselnya dan dengan segera menghubungi Mario, tangan kanannya.
^^^{Temui aku sekarang}. ^^^
Tanpa mendengar balasan dari Mario, Zefa langsung mematikan sambungan teleponnya. Zefa masih bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada gadisnya. Zefa seketika tersentak dari lamunannya saat mendengar pintu ruangannya terbuka.
"Ada apa Anda memanggil saya pak?" Tanya Mario sopan.
Dari raut wajah tidak bersahabat dari Zefa, Mario sudah sangat tau bahkan hapal jika atasannya itu sedang dalam mood yang tidak baik.
"Cari tau lebih dalam mengenai calon istriku. Jangan melewatkan satu hal pun mengenai dirinya meskipun itu hal kecil" titah Zefa dingin.
"Mungkin akan sedikit lama pak. Sebenarnya informasi mengenai nona Lea sangat minim sekali pak. Sepertinya ada orang berkuasa yang menutup rapat informasi pribadi mengenai nona Lea" jelas Mario.
Biasanya dalam waktu 15 menit, Mario mampu mengorek informasi mengenai seseorang secara detail. Namun berbeda dengan yang kali ini, sangat sulit sekali mengorek informasi penting mengenai gadis itu.
"Aku tidak peduli. Sekarang laksanakan tugasmu" titah Zefa mutlak.
Mario pun segera keluar dari ruangan Zefa dan segera mencari tau lebih detail lagi mengenai Lea.
Sepeninggalan Mario, Zefa kembali berpikir keras. Siapa orang berkuasa itu. Jika hanya keluarga Brasmoro itu tidaklah mungkin. Seluruh informasi mengenai keluarga Brasmoro akan sangat mudah ia dapatkan apalagi Zefa termasuk orang yang sangat berkuasa dalam segala hal.
'Mati' adalah kata yang sedikit mengganggu pikiran Zefa. Apa yang sebenarnya terjadi pada gadisnya? Dari sorot mata yang Lea berikan tadi seperti banyak sekali sayatan luka pada hidup gadis itu.
...π...
...π...
...π...
__ADS_1
...π...
Lea kini sedang fokus pada pekerjaannya. Setelah keluar dari ruangan Zefa, Lea langsung ke mejanya dan mengerjakan seluruh pekerjaannya. Bahkan Lea sama sekali tidak menggubris pertanyaan yang di lontarkan oleh kedua temannya. Saat ini mood Lea sedang benar-benar hancur. Lea yang tidak dapat mengontrol emosinya saat berhadapan dengan Zefa tadi membuatnya kini tidak tenang.
Saat sedang fokus pada pekerjaannya, tiba-tiba ada notifikasi pesan di ponselnya. Lea langsung saja melihat pesan yang masuk pada ponselnya.
Abang Fianπ
|Gue di depan.|
^^^Me^^^
^^^|Ngapain?|^^^
Abang Fianπ
|Lo lupa, hari ini jadwal lo kontrol|
^^^Me^^^
Lea hampir saja melupakan jadwalnya untuk kontrol. Setiap bulan Lea pasti akan izin di tanggal yang sama untuk pergi bersama Fian. Lea melihat jam di ponselnya. Ternyata memang sebentar lagi sudah waktunya untuk pulang. Dan untungnya semua pekerjaan Lea sudah selesai. Jadi, kini Lea dapat mengantarkannya ke ruangan pak Burhan yang menjadi atasan Lea di divisi keuangan.
Tok tok tok
Lea mengetuk pintu ruangan milik pak Burhan. Setelah mendapatkan izin dari pak Burhan baru Lea masuk ke dalam ruangan itu.
"Eh Lea. Silahkan duduk" ujar pak Burhan ramah. Pak Burhan sendiri sudah sangat hapal dengan Lea karena seringnya gadis itu memasuki ruangannya untuk menyerahkan hasil kerjanya.
"Makasih pak. Pak, ini laporan yang bapak minta dan saya sudah menyelesaikan semua pekerjaan saya hari ini" ujar Lea sopan.
"Iya terimakasih Lea" ucap pak Burhan tak kalah sopan.
"Emm, pak saya minta izin untuk pulang lebih awal. Saya harus kontrol hari ini" izin Lea seperti biasanya.
__ADS_1
Pak Burhan yang sudah hapal dengan tanggal kontrol Lea pun akhirnya mengizinkan.
"Hati-hati Lea. Semoga cepat sembuh" ujar pak Burhan simpatik.
Lea pun hanya tersenyum dan pergi dari ruangan itu. Tak lupa Lea juga berpamitan pada teman-temannya untuk pulang lebih awal. Teman-teman Lea yang memang tidak tau apa yang terjadi pada Lea pun juga hapal jika di tanggal yang sama Lea akan pulang lebih awal. Dan hingga kini Rara dan Ketty tidak tau akan alasan Lea.
Lea berlari kecil menghampiri Fian yang berdiri cool di depan mobil berwarna merah.
"Sorry lama" ujar Lea acuh.
"Gak apa-apa. Dek bisa kan kalo hubungan kita menjadi layaknya sebuah hubungan?" Ujar Fian yang memang tidak pernah tahan dengan sikap acuh dari Lea.
Tanpa menjawab ucapan Fian, Lea langsung memasuki mobil merah milik Fian. Melihat sikap Lea yang demikian membuat Fian menghela nafasnya berat. Fian tau jika Lea pasti akan memperlakukannya seperti ini. Namun apapun yang terjadi Fian akan berusaha untuk meluluhkan hati Lea. Meluluhkan hati Lea untuk menerima semua keadaan yang memaksa mereka untuk tetap bersama.
Fian melajukan mobilnya ke sebuah rumah sakit yang sudah menjadi tempat rutinitas bagi Lea setiap bulannya. Sesampainya di rumah sakit itu, Fian langsung saja mengantarkan Lea keruangan dokter Farah untuk melakukan pemeriksaan.
"Dek, yakin Lo pasti sembuh" ujar Fian meyakinkan Lea.
"Gue gak peduli, gue sembuh atau enggak. Harapan gue cuma pengen mati dengan keadaan yang paling mengenaskan" ujar Lea dingin.
Fian yang mendengar ucapan Lea yang seperti itu membuat hati Fian sakit. Fian adalah salah satu orang yang bertanggung jawab atas penyakit yang Lea derita saat ini. Fian juga menyesal telah melakukannya. Fian kini sadar bahwa dirinya begitu menyayangi adik semata wayangnya itu.
Setelah satu jam berlalu akhirnya Lea keluar bersama dokter Farah yang mengikuti di belakang Lea.
"Gimana dek?" Tanya Fian pada Lea.
Tanpa menjawab Lea langsung memeluk Fian tanpa memperdulikan sekitar. Fian sudah tidak terkejut dengan Lea yang tiba-tiba akan memeluknya seperti ini. Memang setelah pemeriksaan Lea pasti akan memeluk Fian erat bahkan sangat erat. Fian menatap dokter Farah bertanya 'bagaimana?'.
"Saya akan memberikan semua hasilnya lewat email Anda. Dan untuk Lea jangan terlalu banyak pikiran dan pastikan selalu membawa obatnya" ucap dokter Farah dan berlalu kembali ke ruangannya meninggalkan Fian dan Lea.
"Abang, Lea pusing. Lea gak kuat" rintih Lea yang membuat Fian khawatir.
"Dek, sekarang kita ke ruangan dokter Fahri ya. Gue gendong aja kalo gak kuat" ujar Fian sembari menggendong Lea ala bride style.
__ADS_1
Masih pada rumah sakit yang sama namun dokter dan ruangan berbeda. Lea kembali melakukan pemeriksaan yang membutuhkan waktu cukup lama. Namun Fian tak keberatan dengan semua itu. Justru Fian senang karena dirinya menjadi satu-satunya orang yang mengetahui tentang Lea sedalam ini. Fian benar-benar akan melakukan apapun demi Lea. Bahkan Fian tak segan-segan memberikan nyawanya untuk Lea. Rasa sayang Fian memang tidak dapat di bandingkan dengan perasaan apapun itu. Fian tidak pernah ingin menjadi sosok Kakak yang gagal untuk adik kecilnya itu. Bahkan Fian sama sekali tidak keberatan dengan semua sikap Lea yang kadang-kadang dingin dan terkadang sangat rapuh. Pada intinya Fian adalah orang yang sangat menyayangi Lea.