
Malam ini Lea berada di taman belakang untuk sekedar menghirup udara segar. Pikirannya kacau dan hatinya rapuh. Lea bukanlah wanita kuat yang seperti kelihatannya. Lea hanyalah gadis rapuh yang memerlukan tempat untuk bersandar. Lea ingin sekali mengeluarkan segala keluh kesahnya dan menceritakan segala lukanya. Namun Lea tidak tau harus kemana untuk mengutarakannya. Lea memejamkan matanya hingga sebuah suara menyapa telinganya.
"Gimana? Sakit kan?" Tanya wanita dengan suara remehnya.
Lea sudah hapal dengan suara yang menyapa gendang telinganya itu. Livia, itu adalah suara Livia.
"Apa yang sakit?" Ucap Lea balik bertanya.
"Sampai kapan kamu mau menjadi benalu dalam rumah tangga saya?" Ujar Livia tajam.
Livia muak dengan semua drama yang terjadi. Kehadiran Lea menjadi salah satu pemicu ingatannya tentang perzinahan yang telah di perbuatanya. Bagi Livia, Lea adalah noda dalam ikatan suci pernikahannya dengan Anton suaminya.
"Bunda tau, aku gak pernah sekalipun minta Bunda untuk melahirkan aku" ucap Lea dengan nada dinginnya.
Lea sakit ketika ibu kandungnya sendiri menganggap dirinya benalu. Padahal pada kenyataannya Lea tidak pernah meminta untuk hadir.
"Kamu adalah noda dalam pernikahan saya dan suami saya. Kamu yang menghancurkan segala impian pernikahan saya" tekan Livia tajam.
"SAYA GAK PERNAH MEMINTA ANDA MELAHIRKAN SAYA. BAHKAN ANDA SENDIRI YANG MENODAI KESUCIAN PERNIKAHAN ANDA. SAYA HANYALAH BUKTI BAGAIMANA ANDA DAN PAPA SAYA BERHUBUNGAN. SAYA ADALAH BUKTI NYATA TENTANG KEMURAHAN ANDA. JIKA SAYA BISA MEMILIH UNTUK DI LAHIRKAN DENGAN CARA SEPERTI APA, SAYA PASTIKAN SAYA AKAN MEMILIH UNTUK LAHIR PADA KELUARGA YANG BAIK DAN BUKAN DARI RAHIM SEORANG IBU SEPERTI ANDA" teriak Lea tepat di hadapan Livia.
__ADS_1
Lea lelah dengan semua sikap Livia padanya. Ibu yang seharusnya menjadi sosok panutan bagi anak-anaknya kini menjadi alasan seorang anak membenci sebuah hubungan. Membenci perasaan cinta, membenci sebuah hubungan, bahkan membenci sebuah ikatan keluarga terutama tentang ikatan pernikahan. Semua hal itu Lea benci.
"Kenapa kamu hadir dalam kehidupan saya? KENAPA?" Tanya Livia lemah sembari menunduk tak kuasa menahan air matanya yang membasahi pipi.
"Karena saya adalah bukti betapa kotornya sebuah hubungan yang tak berlandaskan sebuah ikatan. Saya adalah bukti dimana Anda membuat sebuah noda dalam pernikahan. Saya adalah bukti nyata bahwa pernah ada sebuah hubungan terlarang antara tuan Aldi Sanjaya dan nyonya Liviana Brasmoro" ungkap Lea sembari menahan gejolak amarah dalam dirinya.
"Saya gak akan pernah memberikan kasih sayang apapun untuk kamu. Sekarang bahkan untuk selamanya" ucap Livia penuh dengan penekanan di setiap katanya.
"Kita lihat nanti Bunda. Seberapa pun rasa benci yang Bunda punya untuk aku. Aku yakin masih ada rasa sayang Bunda untuk aku. Dan di saat Bunda menyadari itu, aku pastikan semuanya sudah berakhir dan selesai" ujar Lea lirih. Hendak bagaimanapun Lea membenci Livia, Lea tetaplah mengharapkan sebuah keajaiban dimana nantinya sang ibu menyayanginya.
Lea meninggalkan Livia yang masih termenung dengan ucapan Lea. Seperti sebuah sayatan tajam yang mengiris hatinya. Benar adanya ucapan Lea seberapa benci pun dirinya pada Lea, tetaplah hati seorang ibu memiliki naluri untuk menyayangi putrinya. Selama ini Livia hanya menyangkal bahwa dirinya menyayangi dan menerima kehadiran Lea di tengah-tengah keluarga kecilnya.
"Sakit kan? Seharusnya kamu sadar, gimana sakitnya Lea mendengar semua cacian yang kamu lontarkan setiap harinya untuk dia. Dia yang selalu mencoba buat baik-baik aja, belum tentu akan terus baik-baik aja. Livia terima dia dan sayangi dia" ucap Anton tenang.
"Gak mas. Mas kenapa kamu dulu nyuruh aku mempertahankan dia?" Tanya Livia menangis tersedu-sedu.
"Karena aku gak mau memiliki istri seorang pembunuh" jawab Anton dingin.
"Maksud mas?" Tanya Livia tak mengerti.
__ADS_1
"Kamu udah selingkuh dari aku sampai menghasilkan buah hati seorang Lea. Dan kamu dengan santainya tanya kenapa. Kamu sadar, saat kamu ingin melenyapkan Lea itu sama saja kamu seorang pembunuh dan lebih kejamnya lagi kamu akan membunuh darah daging kamu sendiri. Livia aku gak pernah sekalipun mempermasalahkan perselingkuhan kamu yang dulu. Pernikahan kita tetap berjalan sesuai dengan yang kamu inginkan. Lea tidak pernah menghancurkan apapun dalam pernikahan kita" jelas Anton lembut.
"Tapi kehadiran anak itu terus aja mengingatkan aku tentang betapa menjijikkannya aku, mas. Betapa bodohnya aku yang bermain api di belakang kamu. Dia bagaikan noda dalam pernikahan kita" ujar Livia masih kekeh dengan pendiriannya.
Anton menghela napasnya kasar. Bagaimana bisa istrinya berpikiran seperti itu. Lea tetaplah seorang anak yang tak berdosa atas kehadirannya.
"Jangan bertingkah bodoh Liv. Jangan sampai kamu menyesal nantinya. Perlahan-lahan kamu harus menerima Lea, karena bagaimanapun dia tetap anak kamu. Jika kamu terus terbayang-bayang tentang kebejatan kamu dulu, maka semua itu adalah resiko yang harus kamu tanggung" jelas Anton lalu pergi begitu saja meninggalkan Livia yang masih terisak-isak.
Lea, gadis itu mendengar semua ucapan yang terlontar dari mulut Ayah dan Bundanya. Begitu menyayat hati ketika Bundanya sendiri menilai dirinya seperti itu. Orang yang melahirkannya bahkan berkata hal menjijikkan itu. Entah harus merasa beruntung atau sebaliknya ketika ia di dilahirkan dari rahim seorang ibu yang bahkan tidak menginginkannya.
"Jangan dipikirin ucapan Bunda" ucap Anton yang baru saja masuk ke dalam rumah. Sebenarnya Anton sedikit terkejut saat melihat Lea masih di depan pintu dan mendengarkan semua percakapannya dengan Livia.
"Ayah" lirih Lea dan memeluk Anton erat. Lea benar-benar rapuh kali ini. Lea memang tidak pernah bisa menyembunyikan kerapuhannya di hadapan Anton.
"Kenapa harus Lea, Ayah? Kenapa harus Lea?" Rintih Lea menyayat. Bahkan Anton sendiri tak mampu menahan air matanya sendiri.
"Karena Tuhan percaya bahwa Putri kecil Ayah adalah anak yang kuat. Karena putri Ayah mampu menghadapinya" jawab Anton menenangkan Lea.
"Pada kenyataannya Lea bukanlah anak kandung Ayah" ucap Lea sembari berlalu pergi meninggalkan Anton yang membeku di tempat.
__ADS_1
Ucapan Lea mampu menusuk hatinya berkali-kali. Kenyataannya anak yang paling di sayanginya bukanlah anak kandungnya membuat dirinya hancur berkali-kali. Kerapuhan yang setiap hari Anton lihat dari Lea membuat ia merasa gagal menjadi seorang Ayah untuk Lea. Gagal menjadikan keluarganya tempat pulang paling nyaman bagi Lea. Dan untuk kesekian kalinya keluarganya memang telah hancur. Semuanya tersakiti bahkan tanpa terkecuali. Semua sakit dengan caranya sendiri. Semua terluka dengan masalah yang sama namun dengan cara pandang yang berbeda. Dan lagi-lagi yang paling tersakiti adalah Analea, gadis yang bahkan tak mampu memilih jalan takdirnya untuk hidup.