TIRAI LUKA

TIRAI LUKA
Sembilan Belas


__ADS_3

Entah mengapa tiba-tiba perasaan Zefa tidak nyaman. Zefa berfikir mungkin semua itu karena dirinya khawatir karena Lea kembali ke rumah tanpa di temani siapapun. Saat Zefa ingin mengantar Lea, Lea malah mengancam tidak akan memberikan kesempatan Zefa untuk menjadi kekasihnya. Tentu saja Zefa akan langsung ketar ketir mendengarnya. Zefa sangat ingin menjadi bagian dari hidup Lea, jadi tidak mungkin Zefa akan mengabaikan ancaman dari pujaan hatinya itu.


Zefa benar-benar di buat tidak fokus oleh pikirannya sendiri. Pikirannya melayang tertuju pada sosok Lea. Entah mengapa ada perasaan aneh di hatinya, seperti sedang terjadi sesuatu pada Lea.


Sedang asik berkelana dengan pikirannya, Zefa di kejutkan dengan kedatangan David. Zefa sama sekali tidak mengerti mengapa David masih saja tidak mempercayai perusahaannya pada Zefa. Padahal Zefa sudah berulang kali mengatakan bahwa ia mampu mengatasi perusahaan itu dengan baik. Tapi rasanya percuma sekali ucapnya karena bahkan David sama sekali tidak goyah akan keputusannya untuk mengawasi Zefa.


"Dad, please!! Zefa udah handal dalam masalah bisnis. Zefa juga mampu kok mimpin perusahaan ini tanpa pengawasan Daddy" ucap Zefa kesal karena Ayahnya tetap saja tidak mempercayainya.


"Mimpin? Dengan kamu selalu ngelamun kaya tadi? Hahhhahaa Daddy gak salah denger? Bukannya tambah maju perusahaan Daddy malah bisa sebaliknya. Bisa-bisa nih ya perusahaan Daddy yang udah Daddy bangun dari nol bakalan mengalami penurunan drastis karena sistem kerja pimpinannya hanya melamun" ujar David yang tak kalah kesal ketika melihat kerjaan anaknya hanya melamun.


David sendiri heran bagaimana bisa ia memiliki seorang anak yang dewasa usianya saja, pikirannya? Jangan di tanya, bahkan lebih kekanak-kanakan daripada seorang anak SD. Mungkin masih bisa di bilang Zefa adalah bayi besar keluarganya.


"Ohohoho.... Daddy, aku itu gak lagi ngelamunin hal yang gak berfaedah sama sekali. Sebenernya aku lagi mikirin tentang calon istri aku yang hari ini pulang dari rumah sakit sendirian" ujar Zefa membela dirinya.


Tentunya Zefa akan memiliki banyak cara agar ayahnya itu bisa mempercayai bahwa dirinya itu sudah dewasa.


"Kamu gak lagi panas kan? Kalo panas mending pulang dan bilang sama Mom untuk merawat kamu" usul David meledek putranya. Bagaimana mungkin David percaya jika Lea mau menerima anaknya yang bagaikan anak beruang yang tidak bisa lepas dari induknya itu.


"Dad!!!" Kesal Zefa sembari mengerucutkan bibirnya.


Tentu saja hal itu terasa menjijikkan bagi David yang melihat tingkah anaknya yang tidak ada dewasa-dewasanya itu. David juga heran bagaimana mungkin istrinya dan putri sulungnya itu mengusulkan Zefa agar segera menikah. Rasanya tidak mungkin jika Zefa mampu menjadi kepala rumah tangga dengan pemikiran kekanak-kanakannya itu.


"Sekarang kerja yang bener, baru tuh mikirin calon istri di mimpi kamu itu" titah David yang malas melihat tingkah gila anaknya lagi.


"Dad, dia itu bidadari Zefa tau. Dia itu yang mampu meluluhkan hati Zefa pada pertemuan pertama. Dia gadis yang pastinya akan sulit di dapatkan tapi beruntung kalo aku miliki. Ya, seperti Mommy bagi Daddy" ungkap Zefa antusias.


"Kerjaan kamu numpuk Zef. Daddy mau dalam dua jam dokumen yang ada di depan kamu harus selesai" pinta David tegas.


"WHAT DADDY?" Teriak Zefa yang kalang kabut. Bagiamana tidak kalang kabut, jika yang pekerjaannya saja belum ia sentuh sama sekali dan dokumen itu menumpuk bagaikan gunung.


"Makanya fokus. Tolong kerjasamanya Pak Zefa" pinta David lebih tegas.

__ADS_1


"Anda boleh keluar dari ruangan saya jika memang sudah tidak ada kepentingan lain pak David" usir Zefa dingin.


Entah mengapa anak dan ayah ini begitu ajaib. Bisa melakukan berbagai peran dalam satu waktu. Bisa dikatakan bahwa mereka seperti yang di katakan pepatah bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sifat dan sikap mereka itu sebelas dua belas. Hanya sedikit saja perbedaan diantara mereka.


"Kamu ngusir Daddy?" Tanya David tak percaya.


"Daddy yang melakukan peranan sebagai tamu bukan? Jadi Dad kalo semisalnya tamu itu udah gak ada kepentingan lebih baik di usir biar kita bisa bekerja dengan baik" jawab Zefa santai.


"Anak siapa kamu ini?" Tanya David lagi seraya menatap Zefa tak bersahabat.


"Daddy sama Mommy, jelas-jelas muka aku mirip sama Mommy dan dikit sih mirip Daddy" jawab Zefa lagi dengan mengindahkan tatapan tajam milik David.


"Hah terserah kamu. Daddy mau pulang" kesal David yang sama sekali tidak di pedulikan oleh Zefa.


"Sampe rumah jangan ngadu ke Mom ya Dad!!" Ejek Zefa seraya tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal ayahnya.


Zefa sangat yakin jika David pasti akan mengadu pada Eri tentang kejadian tadi. Bahkan Zefa yakini jika David akan merengek bagaikan bayi besar pada Eri. Sebenarnya Zefa dan David memiliki banyak persamaan dari segi sifat.


"Gimana sama Lea ya?" Gumam Zefa yang masih di selimuti rasa khawatir di hatinya mengenai Lea.


Zefa benar-benar tidak fokus sama sekali, semakin ia paksakan untuk bekerja malah semakin hatinya merasa tidak tenang.


Jalan satu-satunya adalah melimpahkan seluruh pekerjaannya pada Mario dan dia pergi untuk melihat sendiri keadaan Lea benar atau tidak jika Lea baik-baik saja.


Zefa pun melangkah pergi dari ruangannya menuju ruangan milik Mario. Sepertinya memang akan menjadi kebiasaan baru Zefa yaitu melimpahkan semua pekerjaannya pada Mario saat dirinya tidak bisa menahan diri untuk menatap sang pujaan hati.


Brakkk


"MARIO" teriak Zefa seraya membuka pintu ruangan Mario dengan kasar sehingga membuat sang empu terkejut bukan main.


"Astaga, pak Zefa. Pak pintu itu di pasang untuk di gunakan dengan semestinya" tegur Mario masih mencoba menahan gejolak emosi di hatinya.

__ADS_1


"Gak usah seformal itu sama gue untuk sekarang ini" ujar Zefa tak menghiraukan teguran dari Mario.


Mario sangat yakin jika Zefa pasti menginginkan sesuatu darinya saat ini. Mario bahkan sudah hafal dengan sifat Zefa yang kiranya ada maunya. Mario mengenal Zefa sudah sejak SD, bagaimana mungkin Mario tidak mengetahui baik buruknya seorang Zefa.


"Ini kantor" kata Mario dengan aksen yang masih sopan.


"Halah, Lo mau di kantor ataupun di luar tetep aja manggil gue Bapak. Gue berasa tua di panggil bapak sama Lo yang nyatanya seumur sama gue" ungkap Zefa jengah. Pasalnya semenjak Mario menjadi asisten pribadinya tingkah Mario pada Zefa berubah 180°. Mario selalu saja menganggap Zefa itu atasannya di manapun mereka berada.


"Sadar umur, kalau Anda tidak mau di anggap seperti itu maka turun jabatan saja menjadi Office boy" telak Mario yang langsung membungkam mulut cerewet Zefa.


"Ah terserah Lo dah. Gue mau Lo handle pekerjaan gue untuk hari ini. Gue ada urusan mendadak di luar" pinta Zefa sembari berlalu keluar tanpa mendengar jawaban dari Mario.


Mario hanya bisa menghela nafas kasar ketika mendengar perintah dari atasan abal-abalnya itu.


Zefa hanya bisa tersenyum jahil ketika melihat wajah cengo Mario sebelum ia keluar. Sifat jahil Zefa memang tidak mentolerir pada siapapun.


Di perjalanan Zefa bertemu dengan Rara yang baru saja kembali dari Luar. Rara menyapa Zefa layaknya atasan dan bawahan.


"Pak.." sapa Rara sopan.


"Eh kamu temannya Lea ya?" Tanya Zefa sok ramah sekali.


"Iya pak" jawab Rara Salah tingkah. Bagaimana tidak salah tingkah, jika tiba-tiba saja atasan yang super tampan menyapa dirinya.


"Kamu gak jenguk Lea? Dia udah pulang lho" ujar Zefa sok akrab.


"Lho bukannya Lea masuk rumah sakit lagi ya pak?" Tanya Rara heran.


Pasalnya yang ia tau dari postingan WhatsApp milik Chika, Lea berada di rumah sakit dengan keadaan belum sadarkan diri. Memang Rara memiliki nomor WhatsApp milik Chika karena dulu Chika sering sekali mengabari Rara ketika Lea tidak bisa menghadiri pembelajaran di sekolah.


"Siapa yang bilang?" Tanya zefa balik.

__ADS_1


"Oh, tadi di story WA punya Kak Chika. Pas saya komen katanya Lea belum bisa di jenguk karena keadaannya masih gak memungkinkan buat di jenguk pak. Lea juga dirawat di rumah sakit yang sama kok pak sama yang waktu itu" jelas Rara yang tentunya membuat Zefa khawatir bukan main.


Tanpa banyak bicara lagi Zefa langsung menuju parkiran untuk mengambil mobilnya. Zefa pun segera menuju rumah sakit dan terus merapalkan doa agar pujaan hatinya itu tetap dalam ke adaan yang baik-baik saja.


__ADS_2