TIRAI LUKA

TIRAI LUKA
Dua Puluh Tiga


__ADS_3

Aldi dan istrinya, Risa sedang duduk bersama di ruang tamu. Mereka sedang menunggu sang putra pulang. Risa begitu menyayangi Fian putra satu-satunya. Bagi Risa Fian adalah bukti cinta antara dirinya dan Aldi.


"Pah, Fian udah dewasa ya sekarang?" Celetuk Risa tiba-tiba.


Aldi yang sedang meminum kopinya pun seketika menatap istrinya bertanya. "Maksudnya gimana Mah?" Tanya Aldi.


"Ya menurut Mama, Fian udah pantas untuk membangun keluarganya sendiri" jawab Risa.


Risa memang ingin sekali melihat Fian menikah. Bagi Risa, Fian sudah cukup dewasa untuk membangun keluarganya sendiri. Fian yang berusia 27 tahun tak pernah sekalipun mengenalkan seorang gadis pada Risa.


Aldi menghela nafasnya pelan. Jujur saja Aldi masih belum mengerti apa maksud dari ucapan Risa. Memang Fian sudah cukup dewasa untuk menikah tapi yang menjadi permasalahannya adalah Fian bahkan tidak pernah menunjukan tanda-tanda bahwa dia sedang dekat dengan seseorang.


"Iya Fian memang udah cukup dewasa. Tapi mau nikah sama siapa Mah? Sedangkan anak itu aja gak pernah bawa cewek ke rumah" ujar Aldi.


"Gimana kalau kita jodohin Fian aja Pah?" Usul Risa yang membuat Aldi langsung tersedak minumannya.


"Mah, Fian itu bukan anak kecil lagi. Dia bisa mencari jalannya sendiri buat menata masa depannya. Kita sebagai orang tua cukup mendukung aja" ujar Aldi kurang setuju dengan usulan dari istrinya itu.


"Tapi Pah, Fian itu kaya gak pernah tertarik sama gadis manapun. Jadi, kita sebagai orang tua yang wajar kalo ikut campur" argumen Risa.


Namun Aldi masih saja tetep tidak setuju dengan usulan sang istri. Aldi tahu betul bagaimana sikap putranya yang tidak suka dicampuri urusannya oleh siapapun.


"Mama, tanya aja langsung sama orangnya. Papa ikut aja sama keputusan Fian nantinya" pasrah Aldi yang memang sulit sekali menolak keinginan sang istri.


"Mama mau jodohkan Fian sama...." ucap Risa tiba-tiba berhenti.


"Sama siapa?" Tanya Fian dingin.

__ADS_1


Fian baru saja sampai dan langsung menyela ucapan Risa. Fian mendengar jika dirinya akan di jodohkan dan itu adalah hal yang paling Fian benci. Fian tidak ingin menikah untuk saat ini. Fian hanya ingin fokus pada Lea adik perempuannya yang sangat membutuhkannya saat ini.


Risa tersentak dengan pertanyaan Fian yang tiba-tiba. Namun tak seberapa lama Risa pun mendekati sang putra dan segera menyuruhnya duduk bersama untuk membahas keinginannya. Setelah duduk bersama Risa mulai melancarkan aksinya untuk membujuk sang putra.


"Gini sayang, Mama mau cariin kamu pasangan. Mama gak sabar pengen liat kamu nikah terus kasih cucu buat Mama sama Papa" ujar Risa lembut.


"Fian gak mau nikah untuk saat ini" tolak Fian dingin. Sikap dingin Fian di mulai dari tujuh tahun lalu. Saat itu Risa menyuruh Fian memilih antara Lea atau Risa. Dan saat itu juga Fian mengetahui tentang penyakit yang di derita oleh Lea karena itu fokus Fian hanya pada Lea dan tidak peduli lagi akan sekitarnya.


"Sayang, umur kamu itu sekarang udah 27 tahun lho. Udah layak untuk menikah. Lagian alasan kamu gak mau itu apa sih?" Tanya Risa yang kesal karena putranya itu sangat keras kepala.


Fian pun menatap sang Ayah dan Ibunya bergantian dengan tatapan datarnya. Fian tau jika jawabnya nanti pasti akan seperti bom meledak yang akan membuat kekacauan di antara mereka.


"Lea" satu kata yang mampu membuat Risa begitu emosi.


Risa sampai saat ini belum bisa menerima Lea menjadi bagian dari keluarganya. Seorang Lea adalah buah cinta antara suaminya dan wanita lain. Istri mana yang bisa menerima buah cinta hasil perselingkuhan suaminya.


"Dia bukan gadis haram. Dia cuma sebuah bukti dari kebejatan moral seorang laki-laki yang sama sekali gak bertanggung jawab" dingin Fian tak terima jika ada ucapan kotor yang menghina adiknya.


"JAGA BATASAN KAMU FIAN!" Bentak Aldi. Aldi tidak bisa menerima ucapan Fian yang mengatai dirinya laki-laki tidak bermoral.


"KENAPA TUAN ALDI SANJAYA? BUKANKAH APA YANG SAYA KATAKAN ADALAH BENAR ADANYA. APAKAH ANDA BERTANGGUNG JAWAB ATAS ADIK SAYA?" Tanya Fian dengan suara meninggi.


"CUKUP FIAN" bentak Risa.


"Kenapa?" Tanya Fian dengan suara rendahnya. Semurka apapun Fian pada Risa, Fian belum pernah sekalipun meninggikan suaranya pada Risa.


"Kenapa? Kamu tanya kenapa. Mau kamu apa? Kamu mau Papa menikahi wanita itu dan menghancurkan Mama. Seharusnya anak itu bersyukur karena Mama masih mengizinkan Papa kamu untuk membiayai kehidupan dia. Tapi dengan lancangnya dia mencuci otak kamu supaya membangkang orang tua kamu sendiri. Kalau mama mau Mama bisa aja menyingkirkan dia. Tapi karena Mama masih punya rasa kasihan sama dia, Mama sama sekali gak ngelakuin itu" ucap Risa panjang lebar.

__ADS_1


Risa tentu tidak terima dengan sikap Fian yang begitu mementingkan Lea di bandingkan keluarga sendiri. Risa memang pernah ingin menyingkirkan Lea tapi karena ia masih dalam kewarasannya dia tidak jadi melakukannya.


Fian menyadari sesuatu ketika ibunya sendiri mengatakan hal sebejat itu di hadapannya. Ternyata dugaannya selama ini benar bahwa keluarganya sama sekali tidak pernah bisa menerima adiknya. Tanpa sadar Fian meneteskan air matanya dalam diam.


Risa dan Aldi yang melihat itupun lantas bingung mengapa putranya yang tidak pernah menangis tiba-tiba menangis hanya karena ucapan dari Risa.


"Ternyata kalian sama aja. Mama tau, yang paling Lea butuhkan itu kasih sayang Papa bukan harta yang dimiliki Papa. Lea sama seperti aku, dia butuh bimbingan dari orang tuanya. Aku gak pernah meminta Papa bertanggung jawab atas wanita itu tapi yang aku minta pertanggungjawaban atas adik aku. Sekarang adik aku bener-bener membutuhkan Papanya untuk mengeluarkan semua beban di hatinya" lirih Fian.


Fian menatap kedua orangtuanya dengan mata memerah karena menangis. Fian melanjutkan ucapannya untuk menyadarkan keduanya.


"Mama bilang Mama mau menyingkirkan Lea. Tanpa mengotori tangan Mama, Tuhan sendiri akan mengambil dia dari aku. Aku takut kehilangan dia Mah. Dia menjadi bagian dari hidup aku selama 10 tahun belakangan ini. Tuhan marah sama Fian mah" lanjut Fian.


Fian langsung memeluk Risa erat. Fian kini di landa ketakutan yang luar biasa. Fian menangis tersedu-sedu di pundak sang ibu. Fian takut kehilangan Lea, adik yang paling di cintainya. Fian tak tau apa yang harus dilakukan untuk menyembuhkan sang adik.


Risa dan Aldi di buat bingung dengan ucapan Fian. Apa maksud dari ucapan Fian yang mengatakan jika Tuhan pasti akan mengambil Lea.


"Apa maksud kamu?" Tanya Aldi pelan.


Aldi juga sangat khawatir akan putrinya. Bagaimanapun Aldi tetaplah seorang ayah yang selalu ingin melihat anak-anaknya baik-baik saja.


"Dia gak akan bisa bertahan lebih dari satu tahun lagi untuk hidup. Adik aku akan istirahat selamnya. Aku akan kehilangan dia" racau Fian yang semakin membuat mereka tak mengerti.


"DIA KENAPA FIAN?" Teriak Aldi yang tidak suka dengan Fian yang tak mau berterus terang.


"DIA MENGIDAP KANKER HATI STADIUM AKHIR!" Jawab Fian akhirnya. Sudah cukup Fian menyembunyikannya selama ini. Dia sudah tidak tahan lagi.


"Apa?" Lirih seseorang yang baru saja masuk ke rumah keluarga Sanjaya.

__ADS_1


Semua orang yang berada di dalam pun langsung menoleh ke arah pintu masuk untuk melihat siapa yang datang. Dan ternyata....


__ADS_2