TIRAI LUKA

TIRAI LUKA
Delapan


__ADS_3

Pagi ini, Lea menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Walaupun dengan wajah yang sedikit pucat, Lea tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. Bagi Lea sakit bukanlah suatu alasan untuk dirinya bermalas-malasan.


Lea menatap mejanya yang sudah penuh dengan dokumen yang harus di kerjakan olehnya. Pekerjaannya hari ini sepertinya lebih sedikit di bandingkan dengan hari kemarin. Lea berharap bahwa hari ini dirinya bisa pulang cepat agar bisa mengistirahatkan tubuhnya.


Jujur saja Lea masih belum pulih. Tubuhnya masih lemas dan kepalanya masih terasa pusing. Dadanya pun terkadang masih terasa sakit.


Lea mulai mengerjakan pekerjaan walaupun belum saatnya dia bekerja. Karena baru beberapa staf yang datang. Lea mengerjakannya lebih dulu karena ia ingin izin untuk pulang lebih awal.


"Weh temen gue udah mulai kerja aja nih" celetuk Rara yang baru saja sampai bersama Ketty.


"Eh tunggu deh, muka Lo pucet banget Le. Udah kaya mayat idup aja" ujar Ketty yang sadar dengan wajah pucat Lea.


"Lo sakit Le?" Tanya Rara penasaran.


Pagi-pagi teman-temannya sudah mulai membuatnya jengah. Tetapi Lea tidak pernah sekalipun tersinggung dengan semua kelakuan teman-temannya. Sikap teman-temannya adalah hiburan tersendiri bagi Lea.


"Gue cuma gak enak badan. Nih ya, dari pada Lo semua gangguin gue mending kerjain kerajaan Lo yang udah numpuk kaya gunung Merapi" ujar Lea sembari tersenyum semanis mungkin.


Ketty dan Rara memutar bola matanya malas mendengar ocehan Lea yang memang ada benarnya. Wajah imut yang Lea perlihatkan malah terlihat begitu menjijikkan bagi Rara dan Ketty.


"Kondisikan aja muka Lo. Pengen muntah gue" ketus Ketty sembari menatap jijik pada Lea.

__ADS_1


"Bener banget tuh Le, Lo kaya gitu malah keliatan kaya mumi" timpal Rara yang ikut-ikutan mengatai Lea.


"Sialan Lo berdua" maki Lea tak kalah sinis.


Begitulah mereka hanya akan saling mengumpat jika sudah berkumpul. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan ucapan kotor saat sedang berkumpul dan berbeda pendapat. Tetapi persahabatan mereka terjalin sudah cukup lama yakni sedari SMA. Entah takdir seperti apa yang sudah membawa mereka untuk selalu bersama hingga saat ini. Tapi selama persahabatan itu pula tak ada satupun dari mereka yang mengetahui penyakit Lea. Mereka hanya mengetahui tentang ibu Lea yang membenci Lea tapi mereka tidak pernah tau akan alasannya. Mereka juga hanya tau jika selama ini Lea dekat dengan Anggara Lutfian Sanjaya putra dari Aldi Sanjaya. Mereka selalu berfikir bahwa Lutfian itu adalah kekasih Lea.


"Eh iya, kemarin gue liat Lo di anterin sama anak konglomerat Le" ucap Rara yang tiba-tiba berhenti mengerjakan dokumennya ketika mengingat kejadian kemarin.


"Astaga Rara, Lo bisa diem gak sih?" Tanya Lea yang kesal karena sedang fokus-fokusnya bekerja, Rara dengan seenak jidatnya mengacaukannya.


"Sorry Le, lagian Lo kagak pernah cerita tentang tuh anak sultan sih. Dari jaman kita kerja di sini Lo selalu di antar sama dia. Lo sama dia pacaran apa gimana?" Tanya Rara yang memang sudah penasaran tingkat akut.


"Dengerin gue, jangan bahas apapun lagi. Sekarang Lo semua kerja atau gue laporin Lo semua ke atasan" ancam Lea. Dan benar saja, mereka langsung menuruti ucapan Lea. Karena Lea tidak pernah main-main dengan ucapannya itu yang akan mengadu pada atasan mereka. Apalagi yang mereka tau lea itu adalah kekasih dari CEO perusahaan mereka.


Lea memang tidak pernah sedikitpun mau terbuka dengan hubungan keluarganya. Bagi Lea semua itu cukup saja keluarganya yang tau. Kekacauan di dalam keluarganya adalah masalah yang tidak perlu di publikasikan pada khalayak ramai. Bagaimanapun reputasi Aldi dan Anton sangat amat ia jaga. Jika sampai jati dirinya terungkap maka dapat di pastikan bahwa Reputasi keluarganya akan hancur.


Dada Lea kembali terasa nyeri ketika terpikirkan tentang bagaimana jati dirinya sebenarnya. Anak yang bahkan hadir hanya karena sebuah kesalahan. Anak yang bahkan mungkin hanya akan menyusahkan orang tuanya sendiri karena penyakit yang di deritanya.


Lea yang sudah sangat kesakitan itupun pergi menuju toilet tanpa berucap satu katapun pada teman-temannya. Rara dan Ketty pun hanya terheran-heran melihat kepergian Lea yang terkesan terburu-buru.


Di dalam toilet, Lea mengatur napasnya untuk meredam sakit di dadanya.

__ADS_1


"Kenapa gue lupa sama obatnya sih? Gue gak mungkin ganggu Abang cuma karena ini" racau Lea yang terus menekan dadanya kuat.


Hidung Lea mulai mengeluarkan cairan merah yang kental. Lea pun mencoba untuk membersihkan darah yang terus-menerus mengalir dari hidungnya. Hal ini merupakan salah satu kebencian Lea terhadap dirinya sendiri. Lea menjadi sangat lemah ketika mendapati dirinya yang seperti ini.


Penyakit yang menggerogotinya sejak tujuh tahun lalu. Lea mampu hidup hingga kini hanya karena obat-obatan yang ia minum secara rutin dan juga kemoterapi yang ia jalani.


Ya, Lea memiliki penyakit kanker ganas yang menyerang hatinya. Bahkan Lea juga memiliki penyakit depresi berat yang mengharuskan dirinya kontrol setiap bulannya. Uang yang di kirimkan oleh Aldi hanya ia habiskan untuk membiayai pengobatannya. Dan tidak pernah ada yang tau penyakitnya kecuali Fian dan David.


David bisa mengetahui penyakit Lea karena saat itu David memergoki Lea yang baru saja keluar dari ruang kemoterapi. Saat itulah David dengan mudah mengorek informasi mengenai Lea. Bahkan saat kenyataan David adalah sahabat dari Aldi tidak menggoyahkan sedikitpun janjinya pada Lea untuk selalu bungkam akan penyakit Lea.


Lea akui bahwa diam-diam Lea dan David sering sekali pergi bersama untuk melakukan kemoterapi. David menganggap Lea seperti putrinya sendiri. David menyayangi Lea layaknya seorang ayah kepada anaknya.


Tapi sebesar apapun kasih sayang David padanya tetap saja Lea merasa kesepian karena tidak ada Aldi di sisinya. Aldi memang menerimanya Lea sebagai putrinya di belakang publik tapi memberikan kasih sayang terhadap Lea dengan cukup semua itu tidak pernah di lakukan Aldi. Lea hanya ingin waktu Aldi untuk memperhatikannya seperti layaknya ayah dan putrinya.


Lea ingin sekali merajut kisah bersama orang tuanya sebelum dirinya pergi tapi lagi-lagi Lea di tampar oleh kenyataan bahwa Aldi hanya mencukupi finansialnya dan Livia bahkan sama sekali tidak mau menerima kehadirannya.


'Tuhan Lea gak kuat lagi, Lea pengen pulang dan meluk Tuhan dengan erat. Lea gak kuat Tuhan' batin Lea menangis.


Lea terus saja memukuli dadanya yang terasa semakin sakit. Dan untungnya darah yang keluar dari hidungnya sudah berhenti keluar.


Penglihatan Lea tiba-tiba buram dan menggelap sebelum akhirnya dia mendengar suara Rara yang berteriak memanggil namanya.

__ADS_1


__ADS_2