TIRAI LUKA

TIRAI LUKA
Dua Puluh Satu


__ADS_3

"Sus, saya mau tanya Dimana ruang rawat Analea Natasha Brasmoro?" Tanya Zefa dengan nafas tak beraturan.


"Di kamar VVIP 1 nomor 165" jawab suster setelah melihat data pasien yang di sebutkan oleh Zefa.


"Terimakasih" ucap Zefa langsung bergegas pergi menuju kamar yang telah di beritahukan oleh suster tadi.


Hati Zefa terus berkecamuk tak karuan memikirkan keadaan pujaan hatinya. Benar saja hatinya merasa tidak enak ternyata karena pujaan hatinya kembali masuk ke rumah sakit. Zefa juga belum tau karena hal apa Lea masuk ke dalam rumah sakit.


Tak butuh waktu lama akhirnya Zefa menemukan kamar inap milik kekasihnya itu. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, dengan tidak sopannya Zefa masuk.


Ketiga orang yang berada di ruangan itu pun terkejut ketika mendengar suara keras dari arah pintu. Namun semua keterkejutan itu tak di hiraukan Zefa. Pandangannya hanya tertuju pada Lea yang duduk di ranjang dengan wajahnya yang pucat.


Zefa mendekati ranjang milik Lea dan tanpa aba-aba Zefa langsung memeluk Lea dengan erat. Bahkan Lea bingung harus beraksi seperti apa ketika Zefa tiba-tiba memeluknya seperti itu.


"Kamu buat aku khawatir lagi" ucap Zefa dengan suara tertahan menahan tangis.


Anggaplah Zefa lebay, tapi itulah yang di rasakan Zefa. Hatinya begitu takut, perasaan cemas juga tak kunjung reda hingga ia sendiri yang melihat keadaan Lea dengan mata kepalanya.


"Lo... Lo nangis Zef?" Tanya Lea tak percaya. Ada rasa ingin tertawa kencang tapi ada rasa terharu juga saat akhirnya ada orang yang mengkhawatirkannya sampai seperti itu.


"Aku khawatir sayang. Kamu jangan sakit lagi" rengek Zefa masih memeluk Lea erat.


"Lepasin gue dulu Zef, di sini ada kakak gue" pinta Lea yang tak enak hati pada kedua kakaknya.


Chika menatap Lea dengan tatapan bertanya sedangkan Fian menatap malas ke arah Zefa. Fian cemburu sekali ketika Zefa dengan bebasnya memeluk adiknya sedangkan dirinya terkadang terhalang gengsi untuk meminta di peluk oleh Lea.


Zefa pun melepaskan pelukannya dari Lea dan menatap ke arah Chika dengan sopan. Zefa akan bersikap sesopan mungkin agar dirinya mampu menaklukkan hati Chika untuk merestuinya mendapatkan sang adik.

__ADS_1


"Kak Chika ya?" Tanya Zefa so akrab.


"Eh, iya. Kamu bukannya anaknya Pak David? Kamu siapanya Lea?" Tanya Chika menyelidik.


"Perkenalkan kak, saya Zefa Raksa Wijayanto. Saya anak bungsu dari David Wijayanto. Dan saya adalah calon suami dari Analea Natasha Brasmoro" jawab Zefa selembut mungkin.


"Hah?" Cengo Chika terkejut. Bukankah selama ini adiknya tak pernah dekat dengan seorang pria dan sekarang mengapa ada seorang anak dari konglomerat ternama mengaku sebagai calon suami dari adiknya.


Lea dan Fian menatap jengah ke arah Zefa. Zefa terlalu berlebihan dalam memperkenalkan diri. Dan suaranya terlalu lembut untuk meluluhkan hati Chika yang pastinya akan menerima apa saja keputusan Lea.


Lea mendelik tajam ke arah Zefa. Saking kesalnya Lea pada Zefa, rasanya ingin sekali Lea menenggelamkan Zefa ke dalam sumur saat itu juga.


"Lo jangan ngaku-ngaku" sarkas Fian yang sedari tadi diam dan akhirnya bersuara karena jengah dengan kelakuan Zefa.


"Siapa yang ngaku-ngaku? Denger gue ini calon suami dari Lea. Dan Lo gak berhak berkomentar mengenai gue dan Lea" tegas Zefa dengan sengit.


"Terserah" ucap Fian jengah.


Fian pun memutuskan untuk duduk di sofa dan meninggalkan Zefa dan Lea untuk menghabiskan waktu berdua. Sedangkan Chika memilih keluar dari ruangan rawat milik Lea. Walaupun Fian cemburu tapi semua itu tidak membuat Fian egois. Dirinya masih ingin jika adiknya memiliki seseorang yang spesial dalam hidupnya. Jika bukan keluarganya yang memberikan Lea kebahagiaan setidaknya satu orang yang lain mampu membuat Lea merasa bahagia. Karena bagi Fian, sangat kecil kemungkinan jika keluarganya mampu membuat Lea bahagia.


Zefa terus menatap wajah polos pucat milik Lea. Entah mengapa wajah Lea adalah obat untuk rasa lelahnya menghadapi pekerjaan yang tak pernah usai. Lea begitu berarti untuk Zefa. Walaupun terdengar sangat tidak mungkin jika cinta pada pandangan pertama mampu membuat orang sampai mencintai sampai sedalam itu. Tapi, bagi Zefa semuanya mungkin. Karena memang Zefa telah merasakannya sendiri.


"Kamu kenapa bisa di rawat lagi?" Tanya Zefa lembut.


"Gue cuma belum sepenuhnya pulih" bohong Lea.


"Jangan buat aku khawatir lagi. Aku gak suka di bikin khawatir" pinta Zefa seperti anak kecil.

__ADS_1


"Lo gak pantes banget berekspresi kaya gitu" geli Lea melihat tingkah Zefa yang terlalu manja.


"Biarin aja. Oh ya panggilnya jangan 'gue-lo' dong tapi 'aku-kamu' ya" pinta Zefa seraya mengeluarkan puppy eyes.


Lea tertawa geli melihat wajah Zefa yang seperti seorang anak kecil. Entahlah mengapa Zefa mampu membuat Lea tersenyum bahagia lagi.


"Gue... maksudnya aku belum terbiasa" ujar Lea seraya mengelus rambut Zefa.


"Gak masalah, nanti juga terbiasa. Mulai detik ini aku sama kamu resmi pacaran. Gak ada penolakan karena hanya ada dua pilihan untuk kamu jawab. Antara iya atau oke" klaim Zefa tak sedikitpun meminta persetujuan dari Lea.


Lea tersenyum geli ketika Zefa mengeklaim dirinya sebagai kekasih dari seorang Zefa. Seorang anak konglomerat ternama yang terkenal dengan sifatnya yang bisa berubah-ubah kapan saja.


"Zefa, jangan mencintai aku dengan begitu dalam. Aku gak mau kamu terluka" pinta Lea seraya mengelus pipi Zefa dengan halus.


Zefa sebenarnya tidak mengerti mengapa Lea mengatakan itu. Sebelumnya ayahnya juga mengatakan hal yang sama padanya untuk tidak terlalu mencintai Lea dengan sangat dalam.


"Kenapa?" Tanya Zefa berubah dingin.


"Karena aku gak mau kamu menahan sakit sendirian nantinya. Kamu harus bisa bahagia walaupun tanpa aku. Kamu gak boleh bergantung sama aku atas kebahagiaan kamu tapi kamu harus menciptakan bahagia kamu sendiri" jawab Lea yang semakin banyak teka-teki di dalamnya bagi Zefa.


Zefa sama sekali tidak suka dengan apa yang Lea katakan. Baginya bahagianya adalah Lea. Lea adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupnya. Wanita yang hanya dalam beberapa detik langsung bisa menaklukkan hatinya. Zefa bahkan berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan mencintai Lea sampai kapanpun.


"Dengerin aku, sayang. Bahagia aku itu kamu. Kamu mampu meluluhkan aku dan mengajarkan tentang berjuang untuk mendapatkan cinta. Kamu akan menjadi satu-satunya wanita yang akan menjadi pendamping aku kelak. Kamu akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Gak akan pernah ada yang bisa menggantikan posisi kamu di hati aku" jelas Zefa meyakinkan Lea.


"Semoga" ucap Lea dengan penuh harap.


Lea tidak tau apakah dirinya mampu melewati semuanya dengan baik. Bahkan kangker di tubuhnya semakin hari semakin menunjukkan kemampuannya untuk menaklukkan sang penderita. Lea tau jika suatu saat nanti dia akan meninggalkan Zefa dengan atau tanpa seizin dari Zefa. Lea hanya mampu berharap pada keajaiban Tuhan.

__ADS_1


Fian yang mendengar percakapan antara Lea dan Zefa pun hanya mampu diam. Dia sendiri bahkan tidak siap untuk kehilangan Lea walaupun Fian tau jika cepat atau lambat Lea pasti akan pergi. Fian yang tak kuasa menahan rasa sakit di hatinya di kala mendengar penuturan sang adik pun memilih keluar dari ruangan itu.


__ADS_2