TIRAI LUKA

TIRAI LUKA
Sebelas


__ADS_3

Setelah kejadian tadi kini Lea hanya diam meski Zefa sudah mengajaknya berbicara berulang kali. Bahkan sampai David memutuskan untuk pulang, Lea masih tetap dalam diamnya.


Entah mengapa Zefa melihat seperti ada sesuatu yang menyakitkan dalam siratan mata Lea. Ada banyak beban yang sedang Lea tanggung, tapi apa? Zefa benar-benar tidak tau.


"Kamu kenapa diem terus sih?" Tanya Zefa lesu. Zefa benar-benar sudah putus asa melihat Lea yang seperti itu.


"Jangan masuk ke dalam kehidupan gue. Gue mohon sama Lo. Gue gak tau akan seberapa besar gue akan menyakiti Lo nantinya" mohon Lea dengan suara gemetar.


Lea benar-benar takut sekarang. Lea takut dengan sebuah hubungan yang nantinya akan menghancurkannya lebih dalam lagi. Inilah trauma terberat dalam hidup Lea, takut memulai sesuatu yang mengaitkannya dengan sebuah hubungan yang akan menjadi sulit nantinya. Takut akan pengkhianatan, takut akan kehancuran, dan takut akan sebuah komitmen. Mungkin terdengar aneh mengapa ada seseorang yang mengalami hal ini. Tapi nyatanya Lea mengalaminya, mengalami sebuah ketakutan terbesar akan komitmen.


"Kenapa sayang? Aku janji bakalan buat kamu bahagia" ucap Zefa dengan mulut manisnya itu. Walaupun terdengar sungguh-sungguh namun bagi Lea itu hanyalah sebuah kebohongan.


"Itu semua bohong. Apa sebuah ucapan bisa jadi jaminan untuk masa yang akan datang? Enggak kan" ujar Lea yang memang ada benarnya.


Janji bukanlah sesuatu yang akan bisa di tepati dengan mudah. Sekarang kita mungkin bisa saja berjanji tapi apakah yakin jika nantinya kita akan bisa menepatinya?


Kekacauan keluarga Lea yang membuat Lea sama sekali tidak percaya akan suatu komitmen. Kenyataan tentang dirinya yang terlahir dari sebuah hubungan terlarang. Lalu di benci oleh ibu kandungnya sendiri membuat Lea sama sekali tidak memiliki kepercayaan diri untuk memulai suatu hubungan. Bahkan Lea sendiri tidak percaya akan kasih sayang orang-orang yang berada di sisinya.


"Sayang, kamu kenapa menggigil gini? Ada yang sakit?" Tanya Zefa khawatir. Tiba-tiba saja Lea mengalami serangan panik. Zefa tahu betul bahwa yang sedang di alami Lea adalah panik attack. Tapi yang membuat Zefa bingung sebenarnya apa penyebab Lea seperti itu.


Dada Lea mulai naik turun tidak beraturan. Sesak sudah menyerang Lea dengan begitu tiba-tiba. Semuanya kacau, Lea tidak bisa mengontrol pikirannya. Zefa yang melihat itupun segera berlari mencari seorang dokter untuk di mintai bantuan.

__ADS_1


Zefa berlari keluar dan tepat di depan pintu itu ada Fian yang baru saja hendak masuk. Fian baru mendengar kabar tentang Lea saat ia hendak menjemput Lea. Zefa menatap Fian sengit, Zefa tau bahwa Fian pasti ingin melihat keadaan Lea. Tapi Zefa sama sekali tidak memiliki waktu untuk berbicara pada Fian. Zefa pun pergi meninggalkan Fian untuk mencari seorang dokter.


Fian yang melihat kepanikan Zefa pun bisa menebak jika keadaan Lea pasti sedang tidak baik-baik saja. Tanpa pikir panjang Fian langsung menghampiri Lea yang ternyata terkena serangan panik.


"Dek, Lo kenapa bisa gini lagi?" Tanya Fian khawatir.


"Abang, dada Lea sesek banget. Lea takut Bang, Bunda sama Papa jahat Bang. Lea takut" isak Lea dalam pelukan Fian.


Fian yang akan paham tentang itupun langsung memeluk Lea erat mencoba memberi ketenangan untuk Lea. Bisa di pastikan oleh Fian bahwa penyebab semua ini pasti Zefa. Fian rasa Zefa membahas tentang sesuatu yang berkaitan dengan sebuah komitmen ataupun hubungan. Fian tau Lea tidak akan pernah mau menjalani hubungan dengan siapapun bahkan Fian harus berjuang keras agar Lea mau sedikit dekat dengannya seperti sekarang ini.


"Denger Le, Lo harus bisa melawan rasa takut Lo sekarang ini. Semuanya gak akan baik-baik aja selama persepsi Lo selalu tentang hal buruk. Lihat mata gue, banyak yang tulus walaupun jalannya gak akan mulus. Tapi Lo harus melangkah dan meninggalkan semua itu. Tenang Lea, tenang" ujar Fian mencoba memberikan motivasi positif kepada Lea.


Saat mendengar kabar terakhir bahwa Lea sudah pada tahap trauma ringan membuat semangat Fian kembali menggebu-gebu untuk kesembuhan Lea. Dan apa yang ia lihat sekarang, Lea kembali pada rasa takut yang berlebihan.


Flashback On


"Lo penyebab pertengkaran dalam keluarga gue, Lo itu anak haram anjing" teriak anak laki-laki berusia 18 belas tahun pada anak perempuan yang usianya masih tiga belas tahun. Ya mereka adalah Fian dan Lea.


"Kata Ayah aku bukan anak haram Bang" sangkal Lea sembari menangis pilu.


"Ayah? Siapa ayah Lo? Bahkan nyokap Lo sendiri gak terima Lo sebagai anaknya. Dan Lo percaya begitu aja kalo orang yang Lo sebut Ayah itu benar-benar tulus sama Lo" teriak Fian lagi.

__ADS_1


Lea benar-benar takut akan bentakan Fian padanya. Ayahnya bilang Fian adalah Kakak laki-laki Lea tapi mengapa perlakuan Fian sangat kasar padanya.


"GAK, AYAH PASTI SAYANG SAMA LEA. BUNDA SAMA PAPA YANG JAHAT, ABANG JUGA JAHAT. LEA SELALU DI JADIKAN SASARAN EMOSI SAMA KALIAN. SEBENARNYA APA SALAH LEA APA BANG?" Teriak Lea ketakutan.


Saat itu juga Fian sadar jika selama ini dirinya menyakiti seorang anak yang tidak berdosa. Dan detik itu juga Lea di nyatakan depresi berat karena tekanan yang terlalu berlebihan.


Flashback off


"Dokternya udah datang" ucap Zefa sembari menatap tajam Fian. Fian yang di tatap demikian pun hanya acuh dan tidak peduli sama sekali. Sekarang yang ada di dalam pikirannya hanya Lea adik semata wayangnya.


"Dia udah tenang Dok. Nanti ada yang ingin saya bicarakan dok" ucap Fian tanpa menoleh ke arah dokter tersebut.


Fian tau jika yang datang pastinya adalah dokter Farah. Karena Fian tau betul jadwal milik dokter Farah. Apalagi jika dia tau bahwa Lea sedang di rawat maka kemungkinan besar dokter Farah akan datang setiap hari untuk memantau keadaan psikis milik Lea.


"Saya tunggu di ruangan saya. Lea kamu harus istirahat yang cukup dan sekarang kamu harus istirahat" pesan dokter Farah pada Lea.


Setelah itupun dokter Farah meninggalkan ruangan milik Lea meninggalkan tiga manusia yang diantaranya sedang saling melemparkan tatapan tajam.


"Jangan peluk-peluk calon istri gue" larang Zefa tegas.


"Apa peduli gue? Nyatanya dia lebih tenang saat gue datang dan gak kaya Lo yang gak becus jagain Lea" ujar Fian tak mau kalah.

__ADS_1


Zefa menggeram kesal dengan ucapan Fian barusan tapi kali ini Zefa tidak bisa egois karena nyatanya Lea terlihat lebih tenang ketika berada di pelukan Fian.


__ADS_2