
Chika menemani Lea yang masih setia dengan mimpinya. Lea belum juga sadar sedari ia di pindahkan ke ruang rawat inap. Selang infus yang tertancap di kedua tangan Lea membuat hati Chika gemetar karena kasihan. Adiknya yang selama ini ia kira baik-baik saja ternyata memiliki gangguan mental yang membuatnya harus mengalami semua ini.
Chika merasa marah dan kecewa terhadap dirinya sendiri karena tidak becus menjaga adiknya sendiri. Seharusnya Chika mampu menjadi tempat sandaran bagi Lea, dimana Lea mengadukan segala keluh kesahnya.
"Maafin kakak, sayang. Selama ini kakak terlalu sibuk sama urusan kakak sampe lupa sama kamu. Kakak janji akan menggantikan Bunda untuk menyayangi kamu. Kakak akan jadi Bunda, kakak, sahabat buat kamu. Tapi kakak mohon jangan lakuin ini lagi, kakak takut Lea. Kakak takut kehilangan kamu, kakak takut gagal menjadi seorang saudara buat kamu. Kakak takut Lea, kakak takut. Kamu satu-satunya adik yang kakak punya. Kakak sayang sama kamu" isak Chika pilu.
Chika berbicara seolah Lea mampu mendengarkannya. Padahal mata indah Lea masih tertutup rapat dengan wajah yang pucat. Wajah yang selalu menampilkan senyumnya di hadapan Chika kini terlihat sayu dan damai. Wajah damai Lea ketika tidur seakan-akan mengisyaratkan pada Chika bahwa Lea-nya lebih bahagia di dalam mimpinya dibandingkan pada nyatanya.
"Lea boleh kok tidur sebentar tapi nanti bangun lagi ya, kakak kesepian kalo gak ada Lea. Liat Lea yang kayak gini kakak takut, takut kalo Lea terlalu bahagia dengan mimpi Lea terus Lea gak mau kembali lagi. Lea harus buat dunia menerima Lea dengan senang hati, jangan pernah mencoba buat pergi sebelum Lea bahagia menaklukkan dunia. Selamanya kakak akan mendukung Lea. Lea juga belum kenalin calon Lea ke Ayah, Bunda lho" lanjut Chika terus berbicara pada tubuh yang seolah tanpa jiwa di hadapannya itu.
Adiknya yang selama ini selalu tampak tidak peduli dengan perlakuan Bundanya terhadap dirinya sendiri ternyata semua itu hanya topeng. Nyatanya Lea memendamnya sendiri hingga menjadikan ia depresi yang mengakibatkan dorongan untuk mengakhiri hidupnya. Adik semata wayangnya yang menahan segala lukanya sendiri kini mulai terungkap perlahan. Entah apa yang akan terungkap berikutnya yang pasti semua itu pastinya akan membuat Chika takut.
Chika melihat ke arah pintu yang terbuka, ternyata itu adalah Anton dan seorang dokter perempuan yang terlihat cemas. Chika pun menghampiri Anton ketika dokter Farah, perempuan yang masuk bersama Anton tadi mendekati Lea. Dokter Farah memeriksa luka yang ada di perut milik Lea dengan seksama.
Dokter Farah menghela nafas beratnya. Ini bukan pertama kalinya Lea melakukan hal bodoh seperti ini. Baru beberapa waktu lalu dokter Farah sedikit lega karena besar kemungkinan Lea akan sembuh dalam waktu dekat. Tapi sekarang ia malah dikejutkan dengan Lea yang berulah lagi pada tubuhnya.
Dokter Farah menatap Anton dan menyuruh Anton mendekati ranjang milik Lea. Anton yang di ikuti Chika itupun menuruti perintah dokter Farah untuk mendekati ranjang Lea.
"Lihat perut Lea, ini adalah luka pertama yang Lea ciptakan. Luka ini tepat di sebelah kiri atas dan untungnya tidak mengenai organ penting dalam tubuhnya. Luka ini adalah percobaan bunuh diri Lea yang ke dua kalinya dan di lakukan tepat di bawah luka sebelumnya. Yang saya perkirakan Lea baru saja memasuki tahap penyembuhan permanen beberapa hari lalu tapi sepertinya saya salah karena Lea bahkan harus kontrol lagi pada saya. Obat yang saya kasih tidak pernah Lea minum jadi ini sangat membutuhkan waktu yang lama dalam tahap penyembuhannya" jelas dokter Farah yang tentunya membuat Chika terkejut.
__ADS_1
"Sembuhkan putri saya dok" pinta Anton memohon. Anton tidak bisa lagi menahan air matanya ketika melihat putrinya sendiri harus merasakan sakitnya penyiksaan mental.
"Saya sarankan untuk memberitahu Fian akan hal ini. Karena sejauh yang saya tau hanya Fian-lah yang mampu menenangkan Lea, ketika Lea kembali histeris. Jadi, secepatnya kalian menghubungi Fian sebelum Lea kembali sadar. Dan tolong laporan bapak pada saya setiap satu jam sekali. Tolong juga untuk memanggil saya ketika Lea sadar" pinta dokter Farah.
" Akan segera saya hubungi dok" ucap Chika masih dengan keadaan yang shok.
"Kalau begitu saya tinggal dulu" pamit dokter Farah lalu pergi meninggalkan ruangan Lea.
Setelah dokter Farah keluar tubuh Chika meluruh ke lantai. Kecewa, marah, dan rasa gagal menjadi seorang kakak kini sedang dirasakan oleh Chika. Bagaimana tidak, ia bahkan tidak mengetahui apapun tentang adiknya. Chika tidak tau seberapa sakit adiknya selama.
Anton yang melihat Chika begitu rapuh pun akhirnya berjongkok menyamai tubuh Chika. Anton memeluk Chika yang rapuh dengan sangat erat. Anton tau bagaimana perasaan Chika ketika mendengar semua kebenaran tentang adik yang Chika sayangi. Karena Anton juga merasakan apa yang Chika rasakan.
"Sayang, bukan kamu yang gagal tapi Ayah yang gagal. Ayah gagal membawa keluarga kita untuk bahagia. Ayah gagal membuat Lea bahagia. Ayah yang gagal, sayang" ujar Anton pilu.
Anton dan Chika menangis bersama di atas dinginnya lantai. Mereka meratapi kegagalan dari melindungi Lea.
Livia yang baru saja masuk pun terkejut dengan yang ia lihat sekarang ini. Suami dan anak-anaknya terduduk di lantai sembari menangis pilu. Dengan langkah tergesa-gesa, Livia menghampiri Anton dan Chika.
"Ada apa sayang? Kenapa nangis gini?" Tanya Livia pada Chika dengan nada lembut.
__ADS_1
"Bunda hiks.. hiks. Lea Bun, dia sakit" adu Chika lalu memeluk ibunya erat.
"Mungkin dia cuma pura-pura aja, supaya dia bisa dapet perhatian dari semua orang" ujar Livia yang mengundang emosi dari Anton dan Chika.
Chika menatap Livia tak percaya. Selama ini Chika menganggap bahwa Livia mungkin masih merasa bersalah atas apa yang terjadi di masa lalu tapi kali ini Livia sudah melewati batasannya.
"Bunda bilang dia pura-pura kan? Lea mengidap depresi berat seja usia tiga belas tahun dimana dia memasuki usia remaja. Dia menyimpan semua lukanya sendirian selama hampir sepuluh tahun lamanya dan bunda bilang itu pura-pura. Lea udah melakukan percobaan bunuh diri sebelum ini sebanyak dua kali dan apa itu masih kurang cukup untuk membuktikan bahwa anak kandung Bunda ini sakit? Apa sih Bun salah Lea? APA?" Tekan Chika. Chika masih tidak percaya bahwa Bundanya sendiri mampu berulah seperti sekarang ini pada darah dagingnya.
"CHIKA, BERANI KAMU BENTAK BUNDA?" Tanya Livia membentak putrinya sulungnya itu.
Sebelumnya Chika belum pernah sekalipun membentak dirinya. Tapi kali ini hanya karena Lea, Chika berani membentak dirinya.
"Dia pantas membentak seseorang yang gak punya hati seperti kamu, Liv" tekan Anton yang sudah sangat emosi saat Livia berkata seperti itu tentang Lea.
Chika menangis pilu mengetahui kenyataan bahwa ibu kandungnya sejahat itu pada adik semata wayangnya. Seorang adik yang bahkan belum pernah sekalipun mendapatkan kasih sayang sedari kecil. Bundanya sama sekali tidak pernah sedikitpun memberikan Lea kesempatan untuk di mendapatkan kasih sayangnya.
"Chika lebih baik kamu hubungi Fian sekarang" titah Anton dingin.
"Buat apa manggil orang lain ke sini?" Tanya Livia tidak terima.
__ADS_1
"Dia yang kamu anggap orang lain bahkan lebih mengetahui banyak tentang Lea di bandingkan ibunya sendiri. Lantas apa kamu masih mau protes?" Ujar Anton masih dengan raut wajah dinginnya.