
Livia duduk di balkon kamarnya sembari menatap cerahnya langit di siang hari. Livia masih saja teringat akan ucapannya yang kasar terhadap Lea. Livia tau hal itu pastinya akan menghancurkan hati Lea tapi entah kenapa Livia selalu saja mengingat wajah Aldi disaat menatap wajah Lea.
Wajah Lea memang lebih mirip dengannya tapi manik mata Lea sangat mirip dengan Aldi. Lea menjadi sebuah bukti akan kenangan buruknya dengan Aldi. Semua hal mengenai Lea selalu saja mengingatkannya dengan Aldi. Sulit sekali bagi Livia menerima kehadiran Lea. Egonya selalu saja menolak untuk menerima Lea, putri kandungnya sendiri.
"Livia..." panggil Anton lembut. Anton baru saja kembali ke kamarnya setelah memenangkan dirinya untuk berbicara kembali kepada Livia. Anton sempat murka dengan apa yang dikatakan Livia pada putri bungsunya.
"Mas, aku.." ucap Livia tak mampu meneruskan ucapannya. Livia sakit hati dengan apa yang dia ucapkan pada Lea. Livia tau jika dirinya salah dan tidak seharusnya melakukan itu.
"Livia, kamu harus minta maaf ke Lea. Mau bagaimanapun Lea adalah anak kamu, darah daging kamu. Aku bener-bener udah maafin semua kesalahan kamu di masa lalu. Jangan jadikan Lea sebagai pelampiasan emosi kamu karena rasa marah kamu terhadap diri kamu sendiri" nasihat Anton lembut.
Anton tau jika semua orang memiliki rasa sakit dengan cara yang berbeda. Anton paham betul jika sebenarnya Livia juga tersakiti di setiap waktunya karena perasaan bersalah kepada Anton dan Lea bercampur menjadi satu. Tapi apa boleh buat semua itu adalah konsekuensi yang harus di terima oleh Livia karena kesalahan di masa lalunya.
"Mas, Lea pasti sakit hati dengan semua ini. Tapi aku gak bisa berbuat apa-apa selain ini. Aku sama sekali gak terima sama kehadiran dia. Dia benalu dalam rumah tangga kita" ucap Livia masih dengan keegoisan hatinya.
Anton harus ekstra sabar menghadapi Livia yang seperti itu. Anton tidak boleh terbawa emosi sehingga bisa menimbulkan pertengkaran di antara mereka yang bisa membuat Lea menanggung akibat dari ini semua.
"Dia akan tetap menjadi anak kamu sampai kapanpun itu, Liv. Aku menerima Lea dengan sepenuh hati aku. Aku sama sekali gak mempermasalahkan kalau Lea bukan darah daging aku. Selamanya Lea akan tetap menjadi anak aku dan gak akan pernah ada yang bisa merubah itu. Percaya sama aku, pelan-pelan terima Lea untuk menjadi bagian dari hidup kamu" bujuk Anton lembut.
"GAK BISA MAS. LEA ITU ANAK HARAM" teriak Livia keras kepala.
"IYA DIA ANAK HARAM. ANAK HARAM YANG KAMU HASILKAN BERSAMA SELINGKUHAN KAMU ITU, LIVIA. ANAK HARAM YANG BAHKAN MUNGKIN GAK PANTAS UNTUK HIDUP. ITUKAN YANG KAMU PIKIRKAN. DIA CUMA ANAK YANG GAK PUNYA SALAH APA-APA DENGAN KELAHIRANNYA. YANG SALAH ITU KAMU SAMA SELINGKUH KAMU ITU. KAMU YANG SALAH LIVIA" bentak Anton yang terbawa emosi.
__ADS_1
"IYA DIA ANAK HARAM YANG BAHKAN SAMA SEKALI GAK AKU HARAPKAN KEHADIRANNYA. INI JUGA SALAH KAMU MAS, KAMU YANG DULU SELALU SIBUK SAMA PEKERJAAN KAMU SAMPAI LUPA ANAK ISTRI DI RUMAH. KAMU JUGA AMBIL BAGIAN DARI KESALAHAN AKU" teriak Livia yang sama-sama emosi.
Livia dan Anton sebenarnya sama-sama salah dulunya. Anton yang sibuk dengan pekerjaannya hingga lupa keluarga dan Livia yang dengan mudahnya tergiur akan keindahan dosa yang akan ia sesali di kemudian hari.
"LIVIA SADAR!! KAMU YANG BERBUAT ZINA DI BELAKANG AKU DAN KAMU JUGA YANG MENYALAHKAN AKU. KAMU HARUSNYA SADAR LIVIA SETELAH APA YANG TERJADI SEKARANG INI. HARUSNYA KAMU MEMPERBAIKI DIRI DENGAN CARA MENYAYANGI LEA SEPENUH HATI KAMU BUKANNYA MALAH TAMBAH GAK SENONOH DENGAN MEMBENCI DARAH DAGING KAMU SENDIRI" bentak Anton lagi.
Lagi dan lagi Anton bertengkar dengan Livia yang mungkin akan berakhir dengan Lea yang kembali terluka.
Sedari tadi Lea dan Chika mendengar perdebatan antara Anton dan Livia dari kamar Lea yang bersebelahan dengan kamar milik orang tuanya itu.
Lea sekarang tau apa alasan di balik perlakuan Livia selama ini. Livia benar jika dirinya adalah perebut kebahagiaan orang lain. Keluarga yang dulunya baik-baik saja kini hancur karena kehadiran Lea.
"Jangan dipikirin Le" pinta Chika yang tau bahwa Lea pasti hancur mendengar ucapan dari kedua orang tuanya yang mengungkit tentang bagaimana hadirnya Lea di dunia ini.
Hati Chika teriris ketika mendengar permintaan kecil dari adiknya yang tidak pernah bisa terwujud. Kehadiran Lea bagaikan malapetaka bagi ibunya sendiri. Padahal sedikitpun Lea tidak salah dengan itu. Takdir yang mengharuskan Lea hadir dengan cara seperti itu.
"Apapun ucapan Bunda sama Ayah jangan di dengerin ya. Mereka lagi sama-sama emosi, Lea" ucap Chika menenangkan adiknya agar tidak memikirkan apa yang terjadi barusan.
"LEA ANAK HARAM KAK. LEA KOTOR, LEA GAK PANTAS HIDUP. LEA ANAK YANG KOTOR KAK, LEA GAK PANTES ADA DI DUNIA INI" teriak Lea yang tiba-tiba saja mengalami perubahan tingkah laku. Bisa dipastikan bahwa penyakit mental Lea kambuh.
Lea pun mencari benda tajam untuk melampiaskan segala emosinya yang menghampiri dirinya. Lea pun menemukan sebuah gunting yang berada di laci nakas miliknya dan segera menggunakannya untuk melampiaskan emosinya.
__ADS_1
Chika yang melihat itupun panik. Sebelumnya Chika tidak pernah melihat Lea yang seperti itu. Atau mungkin dirinya terlalu sibuk bekerja hingga tidak terlalu memperhatikan Lea selama ini.
"Lea, mau apa kamu?" Tanya Chika panik.
"Lea gak pantas hidup. Semuanya benci Lea, semuanya gak ada yang sayang Lea. Lea harus pergi" gumam Lea seraya menatap gunting itu kosong.
"Lea, jangan ngelakuin hal yang enggak-enggak" cegah Chika sembari mendekat ke arah Lea.
Namun Lea kembali histeris ketika Chika hendak menggapai tubuh Lea agar Chika bisa menghentikan aksi Lea yang di luar kendali.
"JANGAN MENDEKAT" teriak Lea.
JLEB
Tak membutuhkan waktu yang lama akhirnya gunting yang di pegang oleh Lea menacap tepat di perut ramping milik Lea. Darah mulai mengucur membasahi baju putih yang Lea kenakan. Tubuh Lea juga ikut meluruh jatuh ke lantai setelah beberapa saat karena kesadarannya mulai hilang.
"LEA" teriak Chika histeris.
"AYAH, TOLONG" teriak Chika meminta bantuan dari ayahnya.
Chika bingung harus berbuat apa. Ini pertama kalinya Chika melihat aksi bunuh diri tepat di depan matanya. Yang lebih menghantamnya lagi itu adalah adiknya sendiri.
__ADS_1
"Lea bangun, sayang. Jangan gini Lea" isak Chika yang khawatir dengan keadaan Lea. Chika benar-benar tidak tau apa yang harus di lakukannya. Hingga akhirnya Chika mendengar teriakan dari Anton di ambang pintu kamar Lea.
"LEA" teriak Anton terkejut bukan main.