
Lastri mulai terapkan program kerja yang dibuat oleh Armen. Walau tidak sempurna, Armen dapat dibilang cukup sukses dalam membuat suatu aturan main. Persetujuan berikut peraturan antara Lastri dan para calon petani sawit yang hasil panennya dijual dengan memakai jasa Lastri.
Terlepas dari apa yang dikatakan orang lain, rencana bisnis yang disusun Armen sangat baik. Tak begitu memalukan bagi seorang penyandang gelar sarjana filsafat itu. Sebuah disiplin ilmu seni menjawab suatu pertanyaan dengan cara mengkaji lebih dalam suatu pertanyaan dan mempersoalkan jawaban. Lebih-lebih posisi kerja Armen sebelumnya lebih banyak di bagian legal dan operasional di sebuah bank umum tempat ia bekerja.
Kentara sekali terlihat penguatan pada sisi hukum di tiap-tiap kegiatan bisnis yang akan Lastri lakukan. Benar-benar melindungi Lastri dari pihak-pihak yang nantinya akan mencoba mencari kesempatan dari celah hukum. Begitu ketat aturan yang mengikat para pemilik kebun pada jasa pengiriman buah sawit milik Lastri.
Kali ini Lastri tidak arahkan mobilnya ke jalur pabrik seperti biasanya. Lastri ingin coba pasarkan hasil kebun sawit ke pabrik yang diinformasikan Gianto tiga minggu lalu. Saat ia sempat dihentikan oleh polisi lalu lintas itu.
"Tambah angin Bu!" Lastri berkata pada seorang ibu penjaga bengkel kecil di sisi kiri jalan.
"Yang mana Mbak?"
"Semuanya aja Bu!"
Si ibu tersenyum dengarkan permintaan Lastri. Dengan sigap ia hidupkan mesin kompresor miliknya. Butuh angin yang sangat banyak untuk truk dengan empat ban pada bagian belakang. Angin yang tersedia tak akan cukup mengisi keenam ban truk milik almarhum Wasis itu.
"Motornya Pak?"
"Iya!"
"Rusak apanya Pak?"
"Kopling! Udah ngelos!"
"Kampas koplingnya udah abis Bu," sela perempuan pemilik bengkel.
"Nggak bisa jalan dong," tukas Lastri.
"Iya dari tadi gas doang yang besar, jalan mah nggak!"
"Iya Bu, suami saya lagi ke pasar buat bantuin si Bapak!"
"Ngapain?" tanya Lastri.
"Beli sparepartnya Bu! Tau bisa dapat atau nggak di pasar kecamatan?"
"Bapak mau kemana?"
"Mau ke PKS mini!"
"Apa itu?"
"Pabrik kelapa sawit punya koperasi yang baru buka!"
"Saya juga mau ke sana!"
"Ibu mau kirim buah ke sana?"
"Iya baru mau coba saya," Lastri berikan uang pecahan berwarna biru pada ibu pemilik bengkel.
"Atau Bapak ikut ibu ini aja dulu!" Si ibu berikan dua lembar uang pecahan sedang sebagai kembalian.
"Kalau Bapak mau ikut, Bapak bisa jadi penunjuk jalan!" jawab Lastri, "sebagai teman juga!"
__ADS_1
"Tapi motor saya!"
"Motornya belum tentu juga bisa jadi hari ini Pak!" Sahut perempuan itu dengan logat Sumatra yang khas. "tergantung suami saya dapat sparepart atau tidak?"
"Tapi saya kemungkinannya lama di sana?" Mulyanto sudah merasa sudah tidak enak hati duluan.
"Ya nggak apa-apa Pak Mul, saya tunggu saja!"
Setelah dibujuk pemilik bengkel, Mulyanto akhirnya mau untuk naik truk Lastri. Pak Mul, demikian ia biasa dipanggil. Bekerja di dinas koperasi, usaha kecil menengah, perindustrian, dan perdagangan tingkat kabupaten.
Mulyanto tengah lakukan tugas mengecek proyek percontohan kerjasama koperasi milik Gapoktan dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Sebuah institusi negara dalam hal riset dan teknologi.
"Kacau juga kalau nggak sempat isi angin tadi!" Lastri coba membuka obrolan ketika hujan deras mengiringi perjalanan mereka.
"Kenapa Bu?"
"Kalau udah hujan begini susah lihat jalan batu dan berlubang!"
"Penuh air semua ya Bu?"
"Iya Pak, nggak tahu kalau ada batu yang runcing nongol!"
"Itu sebabnya kenapa ibu tambah angin tadi?"
"Biar ringan! Ngirit ban!" jawab Lastri, "minyak juga!"
Sepanjang perjalanan Mulyanto memuji truk peninggalan Wasis itu. Baik dari segi performa mesin maupun fitur kenyamanan untuk jenis kendaraan berat. Persis sama saat dirinya pertama kali naik, tujuh bulan lalu.
Telah dua puluh tahun Mulyanto berdinas di daerah perkebunan. Ia pun berencana untuk pensiun di sana. Ia telah persiapkan masa pensiunnya dengan menanam sawit. Tanaman Mulyanto baru saja belajar buah, atau biasa disebut buah pasir.
"Ya nggak lah Bu, belum bisa kalau buah pasir!"
"Kenapa?"
"Ya memang begitu Bu, butuh tiga kali lagi panen!"
"Sayang benar ya Pak?"
"Memang masih termasuk tanaman belum menghasilkan!"
"Oh gitu?" Lastri mulai paham.
"Kalau buah yang ibu bawa baru mantap," ujar Mulyanto, "pasti diterima!"
"Kenapa Pak?"
"Rendemen-nya udah bagus!"
"Maksudnya?"
"Sudah tinggi kandungan minyaknya!"
"Kok bisa? Apa ciri-cirinya?"
__ADS_1
"Tanamannya udah umur sepuluh tahun biasanya!"
Mereka tiba di dalam lokasi pabrik dalam keadaan hujan. Adapun kondisi pabrik masih sangat sederhana. Jauh dari kesan pabrik besar dan modern. Masih terlihat minim sekali kegiatan di sana.
Lastri hentikan mobilnya tepat di tengah jembatan timbang. Sebelum naik jembatan timbang Pak Mul telah lebih turun terlebih dulu. Ia disambut oleh pihak manajemen koperasi. Dari jauh terlihat betapa para pengurus koperasi yang muda-muda itu begitu menghargai Mulyanto.
Pihak pabrik menerima hasil kebun Lastri. Namun, karena hujan proses bongkar pun harus tertunda. Benar-benar sangat jauh dari kata profesional. Tapi dari segi harga beli cukup bersaing. Tak jauh beda dengan pabrik besar bahkan.
"Bu Lastri mau nggak saya kenalkan dengan manajernya?"
"Tapi Pak!"
"Daripada bengong sendiri disini?
"Nggak apa-apa kok Pak!" jawab Lastri sekenanya, "nanti saya malah dengar omongan Pak Mul?"
"Ya nggak apa-apa Bu Lastri!"
"Bapak sajalah, biar saya tunggu di sini saja!"
"Manajernya perempuan kok Bu!"
Pabrik mini merupakan badan usaha baru milik gabungan koperasi dan dalam bentuk pabrik mini kelapa sawit. Dan didalamnya terdapat beberapa gabungan kelompok tani yang juga anggota koperasi. Dengan bantuan pemerintah, lewat dinas koperasi akhirnya sepakat membuat pabrik kelapa sawit berskala kecil.
Pabrik mini itu mengalami kesulitan dalam bahan baku buah sawit. Ada perilaku tak sportif para anggota koperasi maupun dari gabungan kelompok tani yang ada. Mereka tak penuhi janji dengan menjual hasil panen mereka ke pabrik lain yang punya harga lebih tinggi. Fluktuasi harga tandan buah segar yang jadi sebab utama.
Apa yang Lastri dengar dari percakapan mereka, sangat sesuai dengan omongan Mulyanto di sepanjang perjalanan. Cerita tentang data, fakta, serta proses produksi tandan buah segar diubah menjadi CPO. Bahwa pada awal pendiriannya Mulyanto punya peran penting dalam pembangunan pabrik mini. Hingga kini pun harus terlibat dalam evaluasi proses penutupan pabrik.
Mulyanto turun tepat di bengkel tempat ia titipkan motornya tadi. Terlihat suami ibu pemilik bengkel tengah menservis sepeda motor milik pegawai negeri itu. Beruntung tidak turun hujan ditempat itu. Sehingga montir motor sekaligus pemilik bengkel itu dapat pulang cepat tanpa banyak kendala.
Mulyanto ucapkan rasa terima kasih atas bantuan yang Lastri berikan. Pun demikian dengan Lastri. Ia pun berterima kasih telah diberi pengetahuan tentang sawit. Selain telah diperkenalkan pada manajer PKS mini. Lastri pun segera tinggalkan tempat itu.
Lastri memacu truknya lebih kencang dari biasanya. Ia tidak ingin buat Murni cemas lama menunggu. Walau jarak tempuh lebih dekat, tetapi jadi lebih lama akibat sempat tertahan tak bisa langsung bongkar karena hujan.
Benar saja Murni telah nantikan dirinya di depan rumah. Telah duduk di teras beranda depan. Lengkap bersama sang buah hati yang berbaring dalam sebuah kereta dorong.
"Tumben siangan pulangnya?'
"Tadi hujan pas mau bongkar!"
"Tumben-tumbenan hujan berhenti kerja?' Murni sedikit tak percaya.
"Tadi Lastri kirim ke pabrik lain Bu!"
"Jadi kamu ke sananya ya?" Murni gelengkan kepala melihat kenekatan Lastri.
"Jadi Bu", jawab Lastri, "eh iya ini uangnya!"
Lastri berikan uang dalam sampul coklat. Untuk pertama kalinya Lastri terima hasil pembayaran secara tunai. Maklum Lastri baru pertama kali kirim buah ke sana, dan Murni belum sepenuhnya setuju jika Lastri harus berpindah tempat jual hasil panen mereka untuk selanjutnya.
Selagi Murni menghitung uang, Lastri tarik kereta dorong Gya tepat di hadapannya. Mata Gya terlihat hitam bening dan seolah pancarkan sinar. Terlihat jelas perawatan yang diberikan Murni pada anaknya. Benar-benar perawatan bayi kelas satu.
Gya begitu tenang, dan sesekali tampak goyangkan tangan dan kakinya. Seolah bermain dengan sesuatu yang tidak kasat mata. Murni selalu bilang jika sesuatu itu adalah malaikat penjaga putrinya.
__ADS_1
...☘️☘️☘️ ~~ Bersambung ~~ ☘️☘️☘️...