
Armen berhasil mengendarai truk warisan Wasis tiba di rumah, walau harus dengan kecepatan rendah. Arahan dari Lastri bisa Armen lakukan dengan baik. Benar-benar murid yang berbakat, itu komentar yang keluar dari mulut Lastri.
Bu Kotjo, ibu Armen ada di beranda rumah Murni. Bertiga dengan Gya yang terlihat sedang disuapi Murni. Lastri dengan cepat dapat menduga pembahasan tentang hal apa yang tengah mereka bicarakan. Pasti ada pembicaraan dari Bu Kotjo mengenai kondisi anak lelakinya yang baru saja memutuskan berhenti kerja karena dirinya yang tak mau tinggalkan rumah.
"Ma kasih udah ngajarin banyak hal hari ini!"
"Lha udah bisa juga?"
"Tapi tetap saya harus ngucapin terima kasih!"
"Belum seberapa dengan bantuan kamu yang lama-lama!"
Armen segera kembalikan kunci truk pada Lastri. Rasanya tidak akan ada habisnya jika harus saling jawab dalam ungkap rasa terima kasih di antara mereka. Armen tahu benar akan hal itu.
Bu Kotjo, ibunda Armen hampiri mereka. Armen segera menyalami dan mencium tangan ibunya. Beda jauh dengan Lastri. Ia tidak pernah mau mencium tangan Bu Kotjo. Ia hanya salami Bu Kotjo layaknya mereka sebaya.
Jangankan pada Bu Kotjo, terhadap Murni sekalipun Lastri cenderung untuk berikan pelukan atau mencium pipi ibu angkatnya itu. Selalu seperti itu. Bagaikan ada yang melarang Lastri untuk melakukan gerakan cium tangan. Suatu kebiasaan yang bagi orang kebanyakan telah jadi tradisi baik di masyarakat.
Walaupun status Murni selaku ibu angkat, Namun, Lastri merasa jika hubungan antar mereka lebih mirip adik kakak yang saling sayang menyayangi. Hal itu tidak hanya ia lakukan pada Murni, terhadap Enah yang notabene adalah ibu kandungnya Lastri juga tak pernah lakukan cium tangan lagi. Tepatnya sejak kejadian Lastri pulang ke rumah, diantar ambulan puskesmas.
Armen dan ibunya segera tinggalkan Lastri dan masuk ke dalam pekarangan mereka. Lastri yakin akan banyak hal yang Armen akan ceritakan pada ibunya. Terlihat erat erat sekali Armen pegangi bahu ibunya saat mereka berjalan berurutan seperti kereta api.
Lastri pastikan truk telah terkunci dengan sempurna memakai remote. Tidak seperti hari biasanya, kali ini Murni benar-benar tenang saat ditinggal kerja Lastri. Karena putri angkatnya itu pergi berangkat kerja dengan ditemani Armen.
Lastri kedapatan tengah bermain bersama Gya. Mereka bermain memasukkan benda sesuai dengan lubang yang ada. Senyum Gya timbul saat ia berikan benda dengan bentuk lingkaran. Gya sepertinya sudah hapal sekali harus dimasukkan ke lubang mana.
"Tumben mau main sama Gya?"
"Iya Bu, biar Lastri tahu juga perkembangan Gya!"
"Kan bisa juga kamu liatin aja sambil kerja!" Murni heran Lastri tidak membuka laptop-nya untuk membuat laporan hari itu
"Iya sih!" Lastri tetap beri arahan pada Gya tentang permainan itu.
"Las, Bu Kotjo minta Armen kerja sama Kamu?" Sepertinya Murni coba sampaikan pesan permohonan Bu Kotjo tadi sore, "Kamu bisa terima nggak?"
"Ya diterima Bu!"
"Cepat amat kesimpulannya?"
"Armen itu cocok jadi direktur!"
"Gayamu!"
"Eh, Ini beneran lho Bu!"
"Kalau Ibu posisi apa bagusnya?" Murni coba menggoda Lastri setelah dengarkan jawaban yang sepertinya kurang masuk akal.
"Komisaris!"
"Las, Las …," ucap Murni sambil beri satu usapan lembut di kepala putri angkatnya itu.
Lastri terangkan pada Murni, jika ia suka dengan cara kerja Armen. Bisa dipercaya dan sangat handal membuat kesepakatan kerja. Terlebih Armen belum pernah bikin kecewa kedua orang tua angkatnya. Juga sangat sayang pada Gya.
Dari luar terdengar suara Armen. Setelah membalas salam, Murni persilakan Armen masuk. Murni bertanya maksud dan tujuan Armen datang malam itu.
"Mau ngambil laptop sama rekening koran, Tante!"
"Rekening koran?"
"Iya Tante, mau hitung pembagian bayaran untuk besok!"
__ADS_1
"Oh …?" Hanya itu yang bisa Murni katakan.
Murni agak kesal telah dipermainkan. Ya, Lastri dan Armen telah buat kesepakatan sebelum ia dan Bu Kotjo menyampaikan keinginan mereka. Walau pada akhirnya ia amat gembira bahwa Armen telah diterima untuk kerja pada Lastri.
Lastri berikan apa-apa yang sekiranya akan dibutuhkan Armen. Catatan hitungan panen harian para langganan minggu berjalan. Tak hanya itu Lastri minta Armen untuk dapat menyusun data panen kebun langganan selama setahun terakhir.
Lastri benar-benar memiliki target tertentu untuk usahanya. Sesuai gambaran yang telah diberikan Mulyanto. Lastri Ingin bentuk usahanya seperti sistem plasma. Di mana ia akan bentuk tim kerja yang akan bertanggung jawab penuh atas hak kelola dan pemeliharaan kebun para pelanggan mereka.
Untuk dipercaya dan dapatkan hak kelola kebun secara eksklusif, Lastri harus sudah mengerti betul keinginan para pelanggan. Ia akan beri fasilitas perawatan tanaman murah dan bermutu pada pemilik kebun. Nantinya mereka akan tinggal terima uang dan laporan penjualan. Untuk itulah Armen direkrut, menyusun harga penawaran yang dirasa akan menarik minat para mitra.
Lastri mengajak Gya pergi ke sebuah toko emas. Ia ingin mengganti cincin pemberian almarhum Wasis yang sudah mulai sempit pada jari Gya. Lastri khawatir justru akan mengganggu tumbuh kembang jari Gya.
Lastri juga ingin belikan perhiasan untuk Murni dan Enah. Masing-masing sebuah kalung dengan berat dan model yang sama. Lastri sudah punya rencana segera pulang untuk menjenguk Enah, ibu kandungnya.
Karena itu Lastri tak ingin ajak serta Murni. Khawatir Murni tidak akan menerima pemberiannya. Malah minta agar dirinya fokus pada ibu kandung nya lebih dulu. Harus diakui Murni terlalu baik untuk seorang orang tua angkat.
Di depan pintu masuk toko, Lastri papasan dengan Yudi, cinta monyetnya sekaligus orang yang telah mengkhianatinya. Lastri terlihat tidak suka dengan seragam Lori Merah yang Yudi pakai. Pakaian yang ia dapat dengan menjual dirinya. Sekaligus ingin lepas dari tanggung jawab.
Dengan gugup Yudi coba menyapa Lastri lebih dulu, "Apa kabar Lastri?"
"Baik!"
"Anak Kamu?" Yudi masih tunjukkan suatu kepengecutan yang nyata.
"Gya namanya! Pratigya Gema!"
"Nama yang unik, Cantik, Penuh misteri!"
Lastri tidak tanggapi pujian Yudi terhadap nama putrinya. Tapi Lastri dapatkan kesan bahwa Yudi setuju akan nama itu. Sangat cocok dengan wajah cantiknya. Kombinasi bibir dan hidung yang mungil dipadukan dengan mata sedikit mencorong ke dalam dan alis mata yang tebal.
"Beli emas buat siapa Yud?"
"Selamat ya!"
"Terima kasih, maaf saya buru-buru."
Lastri tidak pernah ingin menahan Yudi. Ia bukanlah Lastri yang dulu lagi. Lemah dan mudah terbawa perasaan. Lastri sekarang sudah amat dewasa juga pandai menahan perasaan. Sama sekali tak tampak adanya emosi di sana.
Lastri membeli cincin baru dengan inisial G. Tak jadi tukar tambah cincin itu. Lastri justru berniat untuk kumpulkan cincin dari jari Gya. Ia ingin menyusun seluruh proses perkembangan Gya dengan basis besar lingkar cincin di jari manis Gya.
Tak lupa ia membayar dua kalung dengan tipe yang sama untuk kedua ibunya. Murni dan Enah. Dua buah kalung dengan model klasik, tapi dengan berat yang fantastis.
Hampir satu jam perjalanan setelah Lastri dan Gya tinggalkan toko emas langganan Murni. Di sisi kiri jalan ia melihat Yudi dan motornya. Lastri yakin jika motor milik otak peristiwa pemerkosaan dan penganiayaan dirinya itu mogok.
Lastri heran tidak seharusnya Yudi berada di jalur itu. Jalan itu adalah jalan menuju rumah Murni. Tidak jauh dari sana adalah tempat Lastri pertama kali jumpa pasutri Wasis dan Murni, yang kemudian menjadi orang tua angkatnya.
Seharusnya Yudi mengambil jalan ke arah yang berlawanan ketika di simpang empat tadi. Bukan jalur yang terdapat kali besar pada sisi kirinya. Akan tetapi tetap ikuti jalan menuju dengan hutan industri yang berada di sisi kanan.
Awalnya Lastri heran bagaimana Yudi bisa begitu yakin bahwa ia yang ada di dalam truk. Terlalu banyak truk dengan warna cat kepala yang sama, kuning. Memang jika lebih diperhatikan truk peninggalan Wasis ini akan berbeda dari bentuk dan ukuran dari truk kebanyakan. Harus diperhatikan secara lebih mendetail lagi tentunya.
Lastri hentikan truk tiga meter dari tempat Yudi berikan aba-aba untuk berhenti. Yudi berjalan mendekat ke sisi kiri truk. Lalu ia meminta agar Lastri bukakan kaca.
Lastri melihat ada yang aneh dari wajah Yudi. Dari mata terlihat air mata berlinang. Begitu derasnya, tak pantas bagi seorang lelaki dewasa. Dari kedua lubang hidung keluar lendir bening, amat banyak. Mirip penderita ayan. Ada perasaan kasihan dan sedikit ngeri Lastri melihatnya.
"Maafkan saya Lastri!" Sambil matanya tertuju pada Gya.
"Saya maafkan, Saya sudah lupakan semua!" jawab Lastri.
"Ampuni Saya Las?"
"Sudah ya Yud, saya mau pulang!"
__ADS_1
"Saya minta ampun Las?"
"Iya, Sudah! Saya mau pulang sekarang!"
Lastri jengkel. Sudah ia jawab berkali-kali permintaan maaf Yudi. Memang benar jika ia tak lagi persoalkan kejadian masa lalu. Lastri merasa telah bahagia dengan jalan hidupnya yang baru. Bersama Gya dan Murni.
Lastri hendak menekan sentral remote kaca. Ia hendak menutup kaca itu. Ia telah bosan untuk pembicaraan yang tak akan ada selesainya.
Tiba-tiba ia melihat ada suatu reaksi pada Gya. Mirip sekali serangan kejang demam. Lastri amat khawatir, cepat ia memegang kepala putrinya itu untuk rasakan demam di keningnya.
Tiba-tiba Mata Gya kembali membalik, kini seolah-olah hanya tinggal putihnya saja. Lastri menjerit-jerit lihat kejadian itu, penuh rasa ketakutan yang nyata. Lantas Lastri pun pingsan, tak sadar diri untuk kedua kalinya.
"Bu, Bu bangun Bu!" Lastri mendengar suara ketukan dari bagian kiri badan truk miliknya yang terbuat dari kaleng.
Lastri melihat seorang pria tua yang telah membangunkannya. Tampak pria tua itu tersenyum lebar dan menampakkan gusi yang berwarna kehitaman. Lastri yang baru sadar kontan memeriksa keadaan Gya. Syukurlah tak ada demam lagi.
"Ibu nggak kenapa-napa kan?" tanya pria tua itu.
"Nggak apa-apa kok Pak!"
"Saya pikir ada apa kok sampai berhenti lama betul!" Pria itu sempat berpikir jika Lastri adalah korban perampokan.
"Nggak ada apa-apa kok Pak!"
"Saya heran mesin hidup kok berhentinya lama betul?"
"Ketiduran Saya Pak!"
"Oh," Bapak tua itu mulai mengerti kondisi yang terjadi bukan suatu yang serius, "Bu, yang punya motor di depan kemana ya orangnya?"
"Saya nggak tahu lho Pak!"
"Apa dari tadi apa nggak ada orangnya?" Ia melanjutkan pertanyaannya.
"Kalau tadi ada!"
"Ibu kenal?"
"Nggak!" Cepat Lastri berbohong.
"Terus kenapa ibu berhenti disini?"
"Dia tadi setop mobil saya pak, saya pikir dia minta bantuan?"
"Motornya mogok?"
"Nggak tahu juga saya Pak!"
"Ya sudah kalau gitu saya cari orangnya dulu!"
"Eh iya Pak!"
Sebelum bapak tua itu jauh. Buru-buru Lastri segera turun dari truknya. Ia ingin beritahu bahwa ia akan segera pergi.
"Pak, Pak saya pergi dulu ya!" Lastri setengah berteriak, "udah sore!"
"Iya Bu! hati-hati di jalan!" jawab si bapak sambil acungkan jempol.
Lastri segera naik kembali ke truk. Lalu ia jalankan kembali truknya. Ia bersyukur tak ada sesuatu yang terjadi pada Gya.
...☘️☘️☘️ ~~ Bersambung ~~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1