
Tinggal lima mobil lagi yang antri di depan truk mereka. Ada 2 truk dan 3 pickup. Tak terasa sudah satu jam Armen di belakang kemudi. Dan hanya bergerak tidak sampai satu kilometer. Terasa membosankan jika berjam-jam harus saksikan bokong truk yang sama. Armen telah hafal betul nomor plat kendaraan itu.
Telah berkali-kali Armen membaca tulisan itu. Tapi lagi-lagi tulisan itu selalu berhasil mengundang tawa Armen. Sebuah tulisan berupa ungkapan yang terkesan aneh dan janggal. Lebih pas jika dibilang nyeleneh.
"Las, bangun Las, giliran Kita!"
"Syukurlah!"
"Om turun dulu ya Gya?"
Armen turun dari truk. Ia ingin beri kemudi pada Lastri. Armen merasa lebih pas jika ia bertindak sebagai kenek kala itu.
Seorang pekerja lengkap dengan topi khas pekerja proyek keluar dari sebuah ruangan kecil. Sebelumnya ia telah melihat ke arah plat truk yang mereka operasikan. Armen pergi menghadap orang itu karena memang ia telah dipanggil.
"Referensi Pak Ace?'
"Betul Pak!"
"Oke, Kamu ke pintu gudang nomer tiga ya!"
"Siap Pak!"
Armen berlari menuju truk. Lalu beritahu Lastri agar ambil jalur sesuai yang ditunjuk oleh petugas tadi. Armen yakin sekali jika petugas yang memanggilnya tadi pastinya orang yang punya peranan penting di unit penerimaan getah karet.
Beda dengan pabrik sawit, proses bongkar di pabrik karet ini dilakukan dengan cara manual. Jadi fungsi dump truk tidak begitu dibutuhkan. Proses sortir mereka lakukan dengan sangat detail. Dengan teliti mereka lakukan cek kadar air, tingkat kebersihan karet, serta membuang benda asing yang tak diperlukan.
Ditengah proses sortasi petugas yang tadi memanggil Armen datang. Untuk kali ini ia beri beberapa penjelasan penting terkait proses sortir yang mereka lakukan. Melalui kaca spion Lastri melihat Armen beberapa kali anggukan kepalanya tanda mengerti atas penjelasan petugas yang sepertinya memiliki posisi supervisor unit penerimaan karet.
Sortasi yang dilakukan buruh pabrik cukup rumit dan berlangsung lama. Tak seperti di pabrik kelapa sawit. Getah karet ditimbang setelah melalui proses sortir.
Harga karet disesuaikan dengan gunakan beberapa parameter. Kebersihan, kadar air dan mutu getah karet itu sendiri. Armen sepertinya sudah paham betul tentang itu semua. Masih hangat dalam benak Armen tentang seluk-beluk getah karet yang baru ia terima dari Madi kemarin.
"Las, dah selesai semua sekarang?'
"Kemana kita sekarang?"
"Ikuti truk itu aja!"
"Truk yang lucu itu?"
"Kok kamu bilang lucu?'
"Kamu ketawa terus sih, Pas baca!"
Lastri jalankan truknya. Ia ikuti truk dengan tulisan pada bak bagian belakang "ngebut itu ibadah, semakin ngebut semakin dekat dengan Tuhan". Lastri pun sempat cengar cengir membacanya. Lastri ingat dengan kelakuannya dini hari hingga pagi tadi.
Beruntung Armen sempat jadikan Pak Ace sebagai pihak yang telah bersedia berikan referensi. Jika tidak para petugas bagian penerimaan karet pastinya rewel. Banyak tanya tentang asal karet.
__ADS_1
Saat Armen ada di bagian keuangan, ada tiga kali Lastri melihat kejadian itu. Ada kesulitan tersendiri bagi pengirim karet untuk pertama kali. Terutama dalam sortir, petugas begitu ketat lakukan investigasi. Mereka banyak tanya tentang asal getah karet. Sepertinya mereka amat waspada pada getah hasil curian.
Cukup lama Armen di bagian keuangan. Ia wajib mengisi data-data pribadi dan nomor rekening. Sesuai kesepakatan, uang hasil penjualan karet masuk ke dalam rekening armen. Lastri takut uang milik Pak Lek-nya tercampur dengan bisnis sawitnya dan uang milik Murni pastinya.
"Sekarang kita kemana?"
"Saya mau kasih mam Gya dulu!"
"Waktu antri di depan jalan utama ada cucian mobil!"
"Ada tempat makannya nggak?"
"Ada lah!" Pungkas Armen.
Sengaja Armen pilih tempat makan yang dirasa dekat dengan lokasi pabrik karet. Karena proses pembayaran melalui RTGS butuh waktu kurang lebih satu jam. Armen Ingin jika ada kendala pembayaran dapat segera kembali ke bagian keuangan tadi.
Ia sudah kasihan lihat Gya terlampau lama di atas truk. Armen tak sanggup bila harus biarkan Gya menunggu lebih lama lagi. Setidaknya untuk masa satu jam ke depan.
Lastri meminta segelas air hangat pada pelayan. Ia ingin seduh segelas susu bagi Gya. Nantinya susu itu akan dimasukkan dalam botol dot. Gantikan susu buatan Enah yang telah habis diminum Gya.
Hembusan angin semilir membuat Gya terkantuk-kantuk di dalam car seat itu. Sengaja Lastri letakkan car seat diatas meja. Biar bisa menghadap langsung padanya.
Armen sudah pesankan makanan favorit yang ada di cucian mobil itu. Juga kue-kue yang aman buat Gya. Armen khawatir jika Gya tidak begitu suka dengan menu orang dewasa yang ada di tempat itu.
Mereka tengah nikmati makan siang yang begitu telat dalam segi waktu. Beruntung Gya merupakan anak yang kuat. Tak ada kendala berarti pada kesehatannya. Lastri siapkan suwiran daging paha ayam bakar. Di luar dugaan Gya amat suka rasa daging ayam yang cenderung manis itu.
Untuk kesekian kalinya Lastri lihat ponsel yang Armen gunakan. Sepertinya ia amat tertarik. Warna merah dengan model yang bisa tarik ulur. Dilengkapi dengan adanya papan ketik huruf.
"Kenapa Las?"
"Telpon punya kamu hebat gitu ya?"
"Ya nggak lah, kalah dengan punya kamu!"
"Payah, cantikkan punya kamu Men!"
"Mungkin, tapi kalah canggih sama punya kamu yang baru beli kemarin!"
"Apa iya?"
'Iya!"
"Kok bisa gitu?"
"Kan kamu pengennya yang enam tahun nggak rusak-rusak!"
Lastri diam mendengar penjelasan Armen. Ia mulai percaya dengan keterangan yang Armen berikan. Ia juga pernah lihat ponsel punya Tiwi sama persis dengan miliknya. Yang ia heran kenapa ponselnya juga tak secanggih punya Tiwi.
__ADS_1
"Saya aja mau beli yang kayak gitu kalau punya uang!'
"Kan ada uang hasil karet?"
"Itu sih buat modal! Bagi dua dulu juga?"
"Uang BPJS tenaga kerja?"
"Belum saya cairkan Tapi mungkin buat modal juga!"
"Pelit banget!'
"Bukan pelit, tapi saya punya rencana!"
"Kasih tahu lah!"
"Nanti aja kalo udah mateng!'
Truk mereka akhirnya selesai juga dicuci. Memang sangat perlu dibersihkan, jika tidak bau karet itu akan terus menempel di bagian bak. Armen berikan uang tip pada tukang cuci yang menangani truk mereka.
Sudah hampir tidak tercium lagi bau bekas air rendaman getah karet pada bak truk. Sepertinya para buruh cuci mobil di sana telah paham benar cara dan tips hilangkan bau getah yang sangat berharga itu. Maka tak heran begitu banyak truk atau pick up habis antar getah karet terlihat mengantri di cucian mobil itu.
"Gimana Las, pulang sekarang kita?"
"Masih ada hal lain nggak?'
"Besok saja saya selesaikan!"
"O, gitu termasuk uang?"
"Sebagian dulu hari ini!" jawab Armen, "ini masalah limit!"
"Kok sebagian?"
"Harga lapak dan pabrik kan beda!" Armen beri faktur lengkap dengan rincian harga barang.
Lastri terima dan melihat faktur yang diberi Armen. Lalu berkata, "Nggak ngerti saya!'
"Besok saya telpon Pak Lek, dan ceritakan semua!"
"Oke kita pulang dulu lah ya!"
Lastri tak mengerti maksud dari perkataan Armen tentang limit. Lastri juga tidak tahu besaran persentase terhadap penjualan. Tapi jawaban akan selesaikan sebagian sudah bisa tenangkan hatinya. Setidaknya Armen telah ada niat selesaikan kewajiban terhadap Pak Lek-nya.
Perjalanan panjang sejak pukul tiga dini hari harus mereka selesaikan. Butuh enam jam agar mereka bisa pulang ke rumah. Lastri sudah bayangkan kemarahan Murni. Karenanya ia berupaya agar tiba di rumah sebelum berganti hari lagi.
...☘️☘️☘️ ~~ Bersambung ~~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1