
Hari itu adalah hari kelima sejak kejadian ledakan di PKS mini kelolaan Tiwi. Lastri masih rasakan malas jika harus ke sana. Tapi pesan singkat dari Tiwi tidak bisa ia hiraukan begitu saja. Tiwi butuh kiriman untuk pertahankan proyek PKS mini itu.
Dengan malas Lastri panaskan mesin truk. Ia ingin segera kembali untuk selesaikan sarapan paginya bersama Murni dan Gya. Di tengah jalan Lastri melihat Armen, ia pun menyapa Armen, "Tumben hari Senin kok masih disini?"
"Udah berhenti kerja saya Las!"
"Lho, baru tahu nih!"
"Iya udah lama sih rencananya!"
"Kok nggak pernah bilang?" Lastri sedikit heran Armen mendadak menjadi orang yang berahasia, "semalam malah nggak cerita?"
"Malu saya!"
"Kenapa harus malu?'
Armen diam saja ditanya seperti itu. Lastri pun tak mau terlalu memaksanya. Armen terlihat sudah terlihat sangat sedih.
"Men, kamu ikut saya saja hari ini!" Lastri bermaksud menghibur Armen.
"Kemana?"
"Kirim buah lah, Kerja!"
"Serius?"
"Cepat siap, berangkat abis makan pagi!"
Armen telah berada di sisi kiri truk. Ya, Dia jadi penumpang atau bisa jadi kenek bila terjadi sesuatu pada kendaraan yang ia tumpangi. Lastri tetap sebagai supirnya.
Kondisi itu sepertinya tak begitu membuat Armen merasa nyaman. Tapi harus bagaimana lagi, Armen harus terima kondisi itu. Sebab ia belum terlalu mahir dalam berkendara mobil, khususnya truk.
Lastri sangat paham dengan hal itu. Tidak begitu banyak pria yang bisa mengendarai truk. Untuk itu Lastri sarankan agar Armen perhatikan dirinya lebih dulu dan latihan jika ada kesempatan di waktu luang.
"Sebenarnya saya bisa bawa mobil," ujar Armen.
"Seberapa bisa?"
"Lumayan, saya juga pernah bawa mobil kantor!"
"Emang dikasih izin?'
"Ya nggak!" jawab Armen "saling ngerti aja ama supir kantor!"
"Oh gitu?" Lastri tertawa kecil sambil menoleh ke arah Armen.
"Ya, Seringnya sih kalau lagi dinas luar kota!"
Lastri paham jika hal itu kerap terjadi. Jalur di daerah mereka dapat dikatakan terkenal sepi. Sepanjang jalan lebih banyak kebun karet yang terletak di samping sisi kanan dan kiri jalan.
Kondisi jalanan buruk dan berlubang buat supir lebih cepat lelah. Sepertinya kondisi itu digunakan para pegawai seperti Armen untuk berlatih setir mobil. Atau menambah jam terbang bagi yang telah bisa.
"Kamu mau coba bawa truk ini nanti!"
"Bener nih?"
"Iya, kalau dah kosong dan nggak hujan ya!"
"Ma kasih Las!"
Mereka sampai di lokasi kebun milik mitra Lastri yang tengah panen. Armen secara langsung dikenalkan pada Wagiso dan Jono. Bapak dan anak yang merupakan motor penggerak tim pekerja dodos yang Lastri percaya.
Kebanyakan dari mereka sudah Armen kenal, walau hanya nama. Sebab ia yang merancang jadwal panen mereka. Detail waktu dan jumlah tenaga optimal di setiap luas kebun garapan mitra mereka. Juga kelengkapan peralatan yang mereka pakai, jenis dan karakternya.
Armen dapat lakukan itu karena ia sering ditugaskan bank lamanya. Yang memang memiliki fokus dalam penyaluran kredit di bidang pertanian dan perkebunan. Armen biasa dikirim kantornya untuk lakukan cek langsung lapangan.
Saat kerja di bank, Armen memiliki tugas berikan penilaian usaha dan jaminan milik calon nasabah pinjaman. Laporan Armen dipergunakan untuk mengukur kelayakan usaha. Termasuk saat Lastri melakukan proses alih kredit tahun lalu.
__ADS_1
Lastri sampaikan bahwa muatan mereka kali ini akan dikirim ke PKS mini. Armen sangat antusias mendengar hal itu. Karena untuk kali pertama ia akan lakukan kunjungan ke PKS mini yang sering Lastri ceritakan. Ia amat ingin tahu terhadap cara kerja, mesin dan struktur bangunan pabrik kelapa sawit bertipe mini itu.
Selama ini Armen hanya tahu dan pernah lihat langsung adalah pabrik ukuran besar milik korporasi. Selain itu ia juga ingin lihat lokasi kecelakaan kerja yang sempat bikin heboh minggu lalu secara langsung. Ya, berita itu sempat ia baca pada koran yang disediakan untuk nasabah di kantornya.
"Hebat bener truk Si Om ini ya!"
"Maksud Kamu?"
"Iya, Kenyamanannya!"
"Kamu orang ketujuh yang pernah bilang begitu!"
"Tenaganya juga!" Armen berupaya untuk sedikit berbeda.
"Ntar Kamu coba bawa kalau dah kosong!"
"Siap Ndan!"
Armen tidak banyak mengeluh dibawah kepemimpinan seorang wanita. Selama ini ia hidup hanya berdua dengan ibunya. Ia amat hormat pada wanita-wanita tangguh yang pernah ia tahu. Dan ia akan segera bertemu dengan Tiwi, wanita tangguh lainnya.
Jika di PKS mini tempat Tiwi kerja, Lastri tidak pernah alami antrian dalam bongkar muatan. Karena baru Lastri seorang yang ada keberanian untuk kirim buah kesana. Saat parkirkan truk, Lastri dapat melihat bagaimana boiler kedua itu tengah dipakai gantikan boiler yang meledak tempo hari.
Seperti biasa setelah bongkar Lastri temui Tiwi di ruangan. Adapun Armen dibiarkan untuk menyusuri di area pabrik sederhana itu. Lastri berikan tugas pada Armen untuk cari tahu hal-hal yang mungkin luput atau belum Lastri jadikan perhatian.
"Gimana kabar anak Kamu, sehat?"
"Gya? Sehat!"
"Baguslah!"
"Udah normal lagi ya produksinya?"
"Harus normal Las, kan ada ketel uap cadangan!"
"Maksud saya ke pihak jagoan kampung?"
"Oh begitu!"
"Ya iyalah Las, mana mungkin saya kuat!"
Ada dasarnya Tiwi berkata seperti itu. Pabrik kelapa sawit skala kecil itu sengaja didirikan sebagai wujud peduli pemerintah. Khususnya kementerian terkait pertanian dan perindustrian.
Mereka telah menunjuk Tiwi untuk berada di sana. Jika ia tidak dilindungi secara maksimal, mana mungkin bisa bertahan. Sedangkan tokoh masyarakat setempat saja terguling dalam hadapi tekanan kelompok Lori Merah.
Lastri anggukan kepala tanda ia mengerti penjelasan dari Tiwi. Sempat juga ia dapat kabar bahwa Tiwi orang kepercayaan dari gabungan kementerian yang berwenang. Tak mengherankan, sebab PKS mini yang Tiwi kelola adalah proyek percontohan resmi dari pemerintah.
"Wi, kalau dari keluarganya bagaimana?"
"Udah deh nggak usah dibahas, semua tinggal tunggu keputusan pusat!"
"Mereka minta uang kerohiman nggak?
"Sudah ditawarkan, Lastri?"
"Terus?"
"Masih dalam pertimbangan katanya!"
"Kok bisa gitu?"
"Wahid, pamannya masih mau tempuh jalur hukum!"
"Oh, terus gimana?"
"Semua sudah saya teruskan ke pusat!" jawab Tiwi, "yang penting semua hal di PKS mini sudah sesuai prosedur!"
Keterangan Tiwi membuat Lastri lega. Tosi walau begitu jahatnya dia, tetap saja punya keluarga yang mengasihinya. Lastri sendiri sempat miris ketika melihat tubuh Tosi ditutup selembar tikar kemarin dulu. Rupanya Lastri yang terlihat keras diluar termasuk dalam jenis orang yang mudah memaafkan.
__ADS_1
"Las, Kamu mau lihat rekaman CCTV nya nggak"
"CCTV apa?"
"Rekaman sebelum ledakan kemarin!"
"Emang penting?"
*Kamu nilai aja sendiri! ujar Tiwi membujuk Lastri sekali lagi, "mau ya?"
Tiwi putar layar laptop-nya ke arah Lastri. Lalu ia perlihatkan sebuah film hitam putih hasil rekaman CCTV. Tiwi jelaskan bahwa rekaman itu ia dapat dari tim ahli IT polisi.
"Kamu lihat nggak Las?"
"Iya saya lihat!"
Mata Lastri begitu awas. Ia dapat melihat dengan jelas apa yang ingin diperlihatkan Tiwi, mitra bisnisnya itu. Lastri melihat ada bayangan atau siluet seorang perempuan berpakaian layaknya seragam sekolah.
Bayangan itu harus Lastri akui mirip sekali dengan postur dirinya. Atau lebih tepatnya postur tubuhnya saat masih bersekolah dua tahun lalu. Lastri hanya diam saksikan rekaman itu. Ia coba untuk tidak tunjukkan emosi, sampai ia tahu benar reaksi Tiwi.
"Kamu percaya hantu nggak Las?"
"Percaya nggak percaya Wi!"
"Sama!" Lalu Tiwi pun tertawa lantang.
Di akhir pertemuan Lastri kenalkan Armen pada Tiwi. Sambil bercanda Lastri katakan bahwa Armen adalah direktur keuangan di perusahaan pengiriman buah sawitnya. Dan Armen sudah bosan menjadi pegawai bank yang mengurusi kelayakan kredit.
Tiwi tertawa dengarkan kelakar dari sohib wanita sekaligus partnernya. Sekaligus tak heran lagi mengapa Lastri mampu lindungi diri dari tawaran-tawaran yang ia berikan. Di akhir percakapan Tiwi coba minta pada Armen agar mengarahkan Lastri untuk lebih fokus pada pabrik kelapa sawit yang dikelolanya.
"Jadi kenapa kamu berhenti kerja?"
"Saya diminta ke cabang utama!"
"Kamu nggak mau?"
"Ya!"
"Kenapa?"
"Ibu saya nggak mau ikut, ingin mati di rumah katanya!"
Lastri terdiam. Bukan jawaban dari Armen yang buat ia terdiam dan termenung. Kalau tentang hal itu telah beberapa kali ia dengar dari Bu Kotjo. Video hasil rekaman CCTV itu yang tadi beban pemikirannya.
Bagaimana bisa sesuai dengan postur tubuhnya. Apa iya dendamnya mampu berubah menjadi sosok bayangan yang keluar dari tubuhnya saat ia pingsan. Benar-benar tidak masuk akal pikir Lastri dalam hati.
"Men, mau coba bawa nggak?"
"Emang boleh?"
"Boleh lah, Kan udah kosong!"
"Dimana saya harus mulai?"
"Disini saja, biar saya pinggirkan dulu!"
Lastri matikan mesin truknya. Lalu duduk dengan tenang. Ia kini hanya menunggu reaksi Armen.
Armen turun dari pintu kiri mobil. Ia ingin ambil alih kemudi dari Lastri. Sungguh suatu peristiwa yang bertolak belakang saat ia masih bekerja.
Kala itu ia hanya perlu beringsut ke kursi supir. Sedangkan supir kantor akan turun untuk berpindah posisi. Lastri pun geser posisi duduknya ke sisi penumpang.
Dari cari memeriksa persneling netral dan memutar kunci Lastri yakin Armen telah bisa mengendarai mobil. Beda jauh pada apa yang pernah ditampilkan oleh Ryo, Si mata elang. Terlihat masih gugup dan kurang percaya diri.
Armen baru mengendarai truk itu sejauh dua kilometer saja. Namun, Lastri sudah berani membuat konklusi jika Armen dapat membawa truk itu dengan selamat tiba sampai di rumah. Lastri pun mulai pikirkan kembali tentang rekaman bayangan itu. Apakah nyata atau hanya editan semata.
...☘️☘️☘️ ~~ Bersambung ~~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1