Transmigrasi: Janji Gema

Transmigrasi: Janji Gema
BAB 21 ~ Aksi Maling ~


__ADS_3

Armen hentikan truk tepat di tempat yang sama seperti Lastri kemarin. Pas di depan rumah Enah, tepat di samping siring kering. Bedanya truk itu tiba pukul tiga dini hari, sesuai dengan keinginan Lastri.


Enah bukakan pintu depan dengan pelan. Ia takut jika bunyi pintu dapat bangunkan Gya. Secepat kilat Lastri gendong Gya lalu keluar dari pintu itu. Sampai depan pagar ia serahkan Gya pada Armen. Susah bagi tubuh mungilnya jika harus bopong Gya ke atas truk yang begitu tinggi.


Armen naikan Gya ke atas dengan cara menggendong. Lalu ditidurkan di atas jok bagian tengah. Laki-laki muda itu tak mau jika Gya sampai terganggu tidurnya. Pelan tapi pasti ia atur bantal dan selimut yang ia ambil sebelumnya dari car seat.


Enoh berikan tas tangan pada Lastri, lalu berkata "Kamu sering-sering tengok ibu Nak ya!"


"Kalau keadaan membaik ya Bu!"


"Jaga Gya baik-baik ya!"


"Pasti itu Bu, Nanti kita hubungan lewat Pak Lek saja ya!"


Lastri memeluk Enah. Lalu ia katakan rasa terima kasih karena telah mengerti kondisi dirinya. Enah kini sedikit mengerti alasan putri semata wayangnya harus mendadak pergi. Belum puas rasanya Enah lepaskan rindu. Setelah hampir dua tahun tak jumpa dengan putri tunggalnya itu.


Enah balas pelukan Lastri. Ia bilang pada Lastri betapa beruntung dirinya telah diberi kalung emas, walau ia tak begitu Inginkan kalung itu. Enah mulai percaya sekalipun keras perlakuan Lastri padanya, tetap saja Lastri memikirkan dan perhatian padanya. 


Enah percaya pada pengakuan Lastri. Ibu muda itu mengaku ada satu dorongan kuat untuk menjaga Gya. Hal itu yang membuat Lastri jadi berubah. Enah ingat benar awal perubahan putrinya. Saat itu ia minta agar Lastri gugurkan kandungan.


"Botol susu Gya!' Enah berikan botol yang sedari tadi ia pegangi terus.


"Terima kasih Bu!"


"Sampaikan salam ke Bu Murni, Nak ya!"


"Pasti Bu, Lastri berangkat ya Bu!"


Lastri bertindak sebagai supir. Armen tidak akan bisa membawa mobil dengan baik. Ia terlalu letih, harus temani Madi ke lima titik penyimpanan getah karet milik temannya.


Target Lastri harus tiba di jalan negara jam enam pagi. Akan lebih baik jika bisa lebih cepat dari waktu yang mereka tentukan sebelumnya. Semakin cepat maka akan lebih baik.


Terjadi perubahan waktu keberangkatan mereka secara mendadak. Memang harus begitu sepertinya. Seiring dengan besaran getah karet yang harus mereka bawa hari itu. Benar-benar memaksa mereka segera pergi sebelum pagi seperti maling.


Tanpa diduga Armen berhasil kumpulkan getah karet mendekati angka sepuluh ton. Bukan tonase yang jadi masalah disini. Akan tetapi nominal angka yang mereka harus pertanggungjawabkan. Kini menjadi ratusan juta rupiah. Bandingkan dengan sawit dengan berat yang sama, sekitaran belasan juta rupiah saja. 


Karena itulah mereka harus secepatnya tinggalkan lokasi kekuasaan Lori Merah. Hal itu berkaitan pernah satu waktu terjadi  pedagang karet dari luar yang Lori Merah kerjai. Mereka diminta serahkan dagangan yang telah dikumpulkan dari warga desa.


Lori Merah hanya bersedia bayarkan hasil panen warga sesuai ketentuan dari harga mereka. Akibatnya si pedagang dari luar tadi alami kerugian. Mereka rugi biaya kuli dan waktu. 

__ADS_1


Tak hanya itu pedagang karet dari luar itu pun harus mengalami kerugian dalam hal nama baik. Butuh waktu lama untuk dapat dipercaya. Kini kepercayaan itu hancur dalam waktu sehari saja. Sebaliknya lapak Lori Merah menangguk keuntungan dari biaya kuli dan waktu sortir. 


Untuk hindari kejadian itu Madi minta pada Lastri segera tinggalkan kampung mereka.


Jika sempat alami kejadian yang menimpa pedagang karet itu, maka dapat terbayang resiko kerugian yang harus mereka terima. 


Untuk biaya upah kuli saja, Madi lebih dulu harus kuras kocek pribadinya. Terbayang besaran uang yang harus Madi keluarkan untuk ongkos kuli dan proses sortir getah karet. Pasti cukup besar jika getah karet itu memiliki berat total dekati sepuluh ton.


Target Lastri harus sampai di jalan besar sebelum jam enam bukanlah hal yang mudah. Jalan kampung mereka terkenal hancur memang jadi sebab utama. Juga membawa Gya dalam keadaan tertidur adalah faktor Lastri tidak bisa tekan habis pedal gas truknya.


"Men, kamu tidur saja lah dulu!"


"Nanti kamu malah sendiri?"


"Nggak saya sudah tidur puas semalam!"


"Ya lihat nanti saja, kalau saya ngantuk benar ya tinggal tidur saja," jawab Armen, "toh nggak bawa mobil ini!"


"Oke!"


"Jam berapa sekarang?"


"Hampir setengah lima!"


"Belum Las, PKS mini juga belum lewat!"


PKS mini merupakan batas antar daerah kabupaten mereka. Tapi Lastri tahu pasti wilayah kerja lapak Lori Merah sangat luas. Satu-satunya titik yang dapat dibilang aman yaitu; jika tiba di jalan antar propinsi. Benar sekali, tujuan mereka adalah pabrik karet yang berada di propinsi lain. Sebuah pabrik skala besar dengan harga beli yang sangat bagus.


Walau sudah berjalan cukup jauh, Lastri masih khawatir. Bukan kendaraan roda empat yang Lastri khawatirkan, tapi roda dua. Dengan jalan rusak seperti itu masih  ada kemungkinan jika mereka masih bisa terkejar. 


Juga masih ada kemungkinan jika terdapat karyawan Lori Merah yang tinggal di batas kabupaten. Bisa jadi karyawan Lori Merah yang pernah Lastri hajar setelah ketahuan berlaku curang pada hasil kebunnya. Bisa saja mereka dapat instruksi lewat pesawat telepon. Dan kini telah siap menghadang mereka di depan sana. 


Gya terbangun akibat guncangan keras. Karena Lastri mulai tancap gas guna kejar keterlambatannya. Tersentak cukup keras tak buat Gya menangis, malah ia tertawa akibat guncangan yang terjadi berikutnya. 


"Men, Tolong pindah Gya ke car seat!"


"Siap!"


Armen raih Gya kedalam pelukannya. Lalu ia susun kembali bantal dan selimut dalam car seat. Setelah pindahkan Gya ke dalam sana, Armen pastikan lagi tali pengaman Gya telah kencang. Lalu ia berikan botol susu itu pada Gya.

__ADS_1


"Oke Las! Tinggal ngebut sekarang!"


"Siap!" Lastri beri senyuman pada direktur keuangannya.


Pukul delapan pagi mereka telah berhenti sebanyak dua kali. Pertama saat beli nasi uduk untuk sarapan. Setelah itu mereka berhenti lagi pada jarak dua ratus meter dari sebuah polsek. 


Aroma getah karet bawaan mereka sangat tidak sedap. Bahkan cenderung keluarkan bau sangat busuk. Hal itu buat Lastri tidak berani memposisikan truknya dekat-dekat betul dengan kantor polsek itu. 


Truk harus berhenti tetap dengan jendela tertutup rapat dan mesin tetap hidup untuk hindari bau yang menyengat. Lastri takut jika bau itu mengganggu kenyamanan Gya. Hampir sepanjang perjalanan udara yang mereka hirup berasal dari AC. 


"Habis makan kamu hubungi lagi teman kamu itu ya!"


"Siap Las!"


"Beneran ada teman yang kenal sama orang dalam


"Ya ada lah Las, masa sih mereka bohong?"


"Takutnya?"


"Udah pernah lihat juga akun mereka!"


Lastri tidak mengerti arti omongan Armen terakhir. Mungkin ada baiknya ia diam dan percayakan pada Armen. Toh mereka juga akan pergi ke pabrik itu  berdua nantinya.


Teman yang Armen maksud adalah teman satu bank tapi beda cabang kru karyawan adalah bekas 


"Masih ada empat jam lagi perjalanan!"


"Iya!"


"Mau gantian nggak?"


"Kamu urusin aja kontak kita di sana!"


"Kamu capek nggak?"


"Nggak, lebih capek kalau pas ngantri nanti!"


Armen tahu pasti kemauan bos wanitanya. Yang Lastri bilang ada benarnya. Memang lebih baik ia fokus cari referensi yang bisa bikin mereka mudah ketika di pabrik nanti. Maklum mereka baru pertama kali kirim barang ke sana. Bahkan untuk jual getah karet pun baru pertama kali seumur hidup mereka.

__ADS_1


...☘️☘️☘️ ~~ Bersambung ~~ ☘️☘️☘️...


 


__ADS_2