Transmigrasi: Janji Gema

Transmigrasi: Janji Gema
BAB 27 ~ Slamet, selamat ~


__ADS_3

Hari masih pagi, Armen telah ambil kunci truk dari Lastri dan panaskan mesin. Truk tidak perlu dicuci sebab kondisinya masih bersih setelah dicuci sehabis antar karet. Adapun untuk hari kemarin truk sama sekali tidak bergerak, mereka pergi seharian penuh gunakan sepeda motor Armen.


Tak lama kemudian Lastri keluar dari pintu rumah. Armen langsung luncurkan truk itu ke hadapan Lastri. Sengaja Armen hampiri Lastri, ia ingin bawa truk itu ke area kebun yang panen hari itu. Dengan begitu Lastri tak akan dapat minta kendali setir darinya.


Armen ingin tingkatkan keahliannya dalam mengendarai truk. Karena hari itu ia telah diputuskan untuk tidak ikut kirim buah segar ke PKS mini. Armen ada tugas lain, 


Armen harus terima kiriman pupuk dari rekanan Mulyanto. Juga wajib mengawal proses pemupukan kebun milik Rikwanto. Pemilik kebun pertama yang setuju lahan miliknya dikelola dan dirawat oleh Lastri. 


Delapan ton lebih buah sawit telah naik ke bak truk Lastri. Wagiso sedikit keluhkan jadwal yang molor. Jika menurut jadwal harusnya panen kebun Rikwanto dan dua orang lain adalah kemarin. Lastri tak bisa pada hari kemarin sebab harus datang penuhi panggilan kepolisian kemarin. 


Alasan itu harus diterima oleh Wagiso dan putranya. Nasib mereka sepenuhnya kini telah terpatri dengan Lastri. Boleh dibilang hampir seluruh uang yang mereka peroleh sebagai tukang dodos hasil prakarsa dan inisiatif Lastri.


Dan sekarang program pemupukan kebun milik mitra telah bergulir. Otomatis mereka akan memperoleh kerja tambahan. Harus diakui kemarau panjang membuat seluruh sektor ekonomi melemah. Pekerjaan pun dirasa semakin sedikit, utamanya bidang perkebunan.


Harus diakui perencanaan Armen dalam membuat program pemupukan sangat jitu. Dilengkapi pula prakiraan biaya dan waktu pengerjaan. Musim kemarau sangat cocok untuk lakukan kegiatan pemupukan. 


Di mana pupuk tidak akan mudah terbawa air. Galian parit di sekeliling tanaman tidak perlu begitu dalam jika diperkirakan hujan dalam waktu dekat. Cukup dikorek sedikit saja. Dengan catatan jika masih ada jejak pemupukan waktu sebelumnya.  


Dengan program ini pula para buruh lepas pimpinan Wagiso akan relatif  lebih mudah untuk diatur. Tingkat ketergantungan pada tim Lastri akan menjadi saat tinggi. Karena akan selalu ada pekerjaan buat mereka. 


Mereka tidak akan berpindah untuk cari pekerjaan lain. Kini para pekerja kasar itu telah dapat rasakan manfaat bekerja secara total pada tim yang Lastri pimpin. Ada pula yang sempat bilang pada Armen, jika mereka kini lebih beruntung ketimbang kelompok buruh yang lain.


"Men saya pergi dulu ya!" 


"Bentar mau ambil laptop dulu!"


"Ayo."


Lalu mereka berdua berjalan ke arah truk. Sesuai rencana Armen akan buat data awal terkait kebutuhan pupuk dan luas lahan pelanggan mereka. Sedangkan Lastri akan antar buah ke PKS mini.


"Men jangan lupa transfer Pak Lek lagi!"


"Sudah Las, nih buktinya!" Armen kasih unjuk layar ponsel miliknya.


"Transfer kok dikit-dikit sih!" Lastri sedikit merajuk.


"Kalau udah jadi CV bikin rekening giro, bisa ratusan juta sekali kirim!"


"Oh gitu, bikinlah!" ujar Lastri ringan.


Lastri tiba di PKS mini. Terlihat begitu sepi. Dekat unit produksi hanya tampak tiga lori yang berisi brondolan.buah sawit. 


"Bu Lastri nanti abis bongkar, Bu Tiwi udah nunggu di ruangan ya Bu?" ucap mandor bagian penerimaan buah.


Lastri hanya anggukkan kepalanya. Penuh konsentrasi ia mundurkan truknya. Lastri butuh lintasan untuk proses bongkar dump truk. Agar lokasi jatuhnya buah sawit tidak begitu jauh dari petugas sortir.


"Duduk Las!"


"Sepi banget ya?" Lastri hempaskan pantat pada sofa tamu di ruang kantor Tiwi.

__ADS_1


"Ya begitulah, makin parah sekarang malah!"


"Kenapa lagi emangnya?"


"Lanjutan boiler meledak!'


"Oh …!"


Tiwi bilang pada Lastri jika kasus itu belum selesai. Pihak keluarga Tosi masih ngotot ajukan tuntutan ke pengadilan hubungan industrial. Sesuai aturan maka sebelum lima puluh hari sudah harus sudah ada keputusan majelis hakim.


"Itu korban yang satu lagi, yang selamat merasa lihat perempuan muda!" Tiwi buka suara tentang rekaman CCTV.


"Wah menarik ini?"


"Iya, jelas-jelas rekaman CCTV gambar kamu terekam lho!"


"Terekam gimana?"


"Iya, Pas Kamu tuh naik ke truk kamu!"


"Lah terus?"


Tiwi terangkan jika Slamet, korban selamat tetap bilang ada orang luar masuk ruang produksi. Pihak kuasa hukum Lori Merah ingin buktikan bahwa terjadi kesalahan prosedur pabrik. Membiarkan orang asing masuk. 


Lastri minta pada Tiwi putar kembali video rekaman CCTV itu. Ada jeda lima menit sebelum ketel uap itu meledak. Lastri ingat saat itu ia sedang gugup, Gya tiba-tiba saja kejang. Seperti gejala step.


"Jangan-jangan ada orang yang bikin BAP baru!"


"Emang bisa begitu?" tanya Lastri


"Bisa aja, asal dia mau jadi saksi!"


"Ada gitu ya mau iseng-iseng di BAP?" Lastri sedikit tak percaya ada orang yang bersedia repot.


"Mengapa tidak?"


"Orang itu pasti punya hubungan dengan dua kejadian itu, begitu?" Lastri mulai bisa terima argumen Tiwi tentang saksi baru.


"Bisa juga bukan orang kali, tapi kelompok atau perusahaan?"


Lastri iyakan sekali lagi pendapat Tiwi itu. Ia sudah punya dugaan kuat siapa yang mau dan  bersedia jadi saksi. Orang itu pasti ada hubungan dengan kelompok Lori Merah. Mengingat Tosi masih keponakan Wahid, pemilik Lori Merah.


"Jadi apa solusinya Wi?"


"Kamu mau datang nggak?"


Tiwi ingin Lastri temani dirinya turut hadir di sidang pengadilan hubungan industrial itu. Tiwi ingin Slamet, korban yang selamat itu dapat menunjuk Lastri sebagai orang yang dilihatnya. Jika Slamet tidak bisa menunjuk Lastri di muka pengadilan, maka kasus akan dinyatakan selesai. 


Tiwi sudah kesal benar akan berlarutnya kasus itu. Seperti tak akan pernah selesai. Jika selesai maka ia akan dapat dapatkan lagi kepercayaan dari kru-nya. Tak seperti sekarang, semua terlihat dalam kondisi pesimis, khawatir jika harus kalah dari tim hukum Lori Merah.

__ADS_1


"Mau nggak Las?"


"Mau! Mau!" jawab Lastri sambil tertawa


'Kenapa kamu ketawa?"


"Siapa namanya tadi?"


"Slamet!"


"Yang?"


"Selamat!"


Lalu mereka berdua pun tertawa. Lastri memang kerap buat Tiwi tertawa. Begitu juga sebaliknya. Sebagai sesama orang tua tunggal.


Tiwi rasakan usia Lastri tak begitu jauh usianya. Tapi jika bandingkan umur anak mereka maka akan sangat jauh sekali. Tapi tetap saja Tiwi merasa selisih usia mereka tak jauh beda. Tiwi tak tahu jiwa penghuni Lastri justru jauh lebih tua jika dibanding dirinya.


Percakapan mereka terasa belum lengkap jika belum bicara tentang bisnis. Pastinya Tiwi tetap akan minta Lastri untuk menjadi supplier utama. Hanya tiga puluh ton per hari. Itu-itu saja yang jadi semboyan Tiwi pada Lastri sebagai penyemangat. Lastri sampai bosan dengarkan propaganda yang dibuat Tiwi.


"Ayolah Las, bantu kami!"


"Mau bantu kayak mana Wi, dimana-mana kering begini?"


"Terus apa iya nasib pabrik harus terus-terusan begini?"


"Tenang Wi, Armen lagi buat smoothing price analysis, Bener nggak tuh saya ngomongnya?"


"Iya dah bener itu, hebat bener ya kalau lulusan ekonomi?" Tiwi lebih tenang sekarang.


"Siapa? Armen?" Lastri balik tanya.


"Memang dia lulusan apa?"


"Filsafat katanya!"


Armen tengah menyusun sebuah program hitungan yang bersifat pendekatan pada harga sawit terendah hingga tertinggi. Nanti akan ditentukan harga rata-rata, dan akan turun sesuai kualitas panen. 


Armen harap jika semua data yang sudah masuk akan timbul sebuah pola tertentu. Armen dan Lastri akan membuat proyeksi jumlah panen dan harga. Tujuan akhir pola adalah sebagai alat bantu tentukan harga sawit di kalangan pelanggan agar relatif stabil.


Walau penjelasan Lastri tidak begitu jelas, tapi Tiwi cukup mengerti. Ia paham akan apa yang hendak Armen buat. Tiwi berikan data panen dan harga untuk daerah kerja PKS mini. 


Tak lupa Tiwi tuliskan dan terangkan batas limit atas harga beli yang diperkenankan oleh manajemen pusat. Batas harga yang ia punya untuk membeli buah sawit dari petani. Mendengar kata limit, Lastri tak ingin bahas lebih lanjut perihal tulisan Tiwi itu.


...☘️☘️☘️ ~~ Bersambung ~~ ☘️☘️☘️...


 


 

__ADS_1


__ADS_2