Transmigrasi: Janji Gema

Transmigrasi: Janji Gema
BAB 13 ~ SIM B1 ~


__ADS_3

Seiring berjalan waktu pertumbuhan bisnis Lastri amat memuaskan. Berkat Armen, ia telah mampu mengatur pola panen sawit milik pelanggan setianya. Awal mula dua kali jalan seminggu, sekarang Lastri telah punya jadwal tiga kali dalam satu minggu. Ada kalanya malah empat kali dalam satu minggu saat kebun orang tua angkatnya yang panen.


Semakin banyak pemilik kebun yang mau jual hasil kebunnya melalui Lastri. Karena ia selalu lakukan penjualan sesuai dengan harga dari mereka. Biasanya info harga beli pabrik mereka dapatkan dari mulut ke mulut. 


Tanpa mereka sadari ada kalanya Lastri bawa buah itu ke PKS mini ketika harga beli buahnya tidak berbeda jauh. Otomatis jadi sebuah keuntungan bagi Lastri, walau tidak banyak. Jarak pabrik langganan baru memang lebih dekat, ada penghematan di sektor bahan bakar.


Lastri ingin sekali dapatkan kontrak dari PKS mini secara eksklusif. Berdasarkan info dari Mulyanto, PKS mini itu telah alami modifikasi. Di awal pembangunan hanya memiliki kapasitas produksi sepuluh ton TBS per hari. Tapi sejak terpasang boiler tambahan maka kapasitas produksi dapat meningkat menjadi tiga puluh ton tandan buah sawit per hari. 


Murni heran tidak biasanya Lastri belum berangkat ke kebun. Malah dari tadi hanya terlihat sibuk dengan laptop. Lastri tengah memasukkan data panen harian seperti yang diminta Armen. Mereka ingin buat data yang dapat gambarkan siklus panen berdasarkan bulan dan tonase.  


"Kok belum jalan juga?"


"Hari ini Awal yang gantikan Lastri, Bu!"


"Kenapa?" 


"Dia sudah sering bener minta!"


"Kok begitu?"


"Dia udah dua minggu lebih nggak pernah jalan Bu!"


Awaludin atau biasa dipanggil Awal, bekas kenek Wasis. Ia membeli truk lama Wasis. Juga gantikan posisi Wasis menjadi supir di lapak yang pernah Lastri kunjungi. Jika kondisi normal, Awal kerap dapat muatan dari lapak itu. Walau harus diakui pabrik yang dituju memiliki jarak yang jauh.


"Kasihan juga ya dia?"


"Iya Bu."


"Kenapa nggak kamu ajak dia gabung?" 


"Gabung gimana Bu!"


"Ya kamu jadikan dia supir aja, biar kamu lebih banyak di rumah!"


"Nanti Bu ya, kalau Lastri jadi supplier pabrik mini itu!"


"Kamu masih minat kesana?"


"Ya Bu, tapi nanti!"


"Untung kamu belum jadi, coba kalau udah? Murni bayangkan kesulitan Lastri dalam penuhi target buah yang diminta oleh pabrik per harinya. 


Benar, tiba saatnya Lastri merasakan apa yang dibilang orang musim trek. Kemarau sebabkan buah sawit pada umumnya tidak banyak buahnya. Maka berlakulah hukum ekonomi. Saat kemarau seperti saat itu, terlebih kemarau panjang harga tandan buah segar akan sangat tinggi sekali. 


Banyak pabrik naikkan harga beli tandan buah segar dari petani. Mereka lakukan untuk berebut bahan baku. Agar bisa tetap berproduksi tentunya.


Pabrik besar cenderung tidak masalah. Terlebih yang memiliki kebun sawit sendiri ataupun yang bersifat plasma. Sedangkan untuk pabrik yang kurang kuat modal dan lebih kecil, akan lebih memilih untuk setop produksi. Mereka lebih pilih tutup pabrik sementara dan lakukan perawatan mesin dan perbaikan pabrik.


"Ayo Bu siap-siap!"


"Siap-siap kemana Las?"


"Ke kota kita Bu!"


"Ngapain?"


"Lastri mau ke Polres, mau bikin SIM!"


"SIM yang gimana lagi sih Las?"


"Yang kayak punya Bapak, Bu!"


Murni termenung sejenak. Ia terkenang suaminya. Kemudian mengelus rambut Lastri dan berkata, "kamu hebat Nak!"


"Ayolah Bu selagi pagi kita berangkat!'


"Mana Si Gya tadi?"


*Itu lho Bu sembunyi di balik gorden?!"

__ADS_1


Umur Gya sudah satu tahun dua bulan sekarang. Sudah bisa berjalan sendiri, walau terkadang masih goyang. Adapun untuk giginya dua gigi depan atas bawah telah tumbuh. Gigi bagian atas lebih dulu dan telah tumbuh dengan sempurna. 


Lastri membawa mobil truknya sendiri saat itu. Ia paham jika Murni kurang nyaman jika harus naik angkutan umum. Demikian pula dengan Gya. Lastri khawatir suasana panas dapat membuat putrinya tak merasa nyaman.


Lastri sangat yakin akan berhasil dapatkan SIM B1 yang diidam-idamkan sejak lama. Proses pengurusan SIM B1 tidak begitu ramai dibandingkan loket lainnya. Setelah proses foto digital selesai, Lastri hanya tinggal menunggu dipanggil lagi.


Lastri berjalan bersama seorang polantas. Ia adalah Brigadir Kepala Gianto. Polisi lalu lintas yang telah banyak memberikan bantuan pada mereka bantuan, terutama Lastri. 


Entah kenapa Gianto ingin sekali menyapa Murni. Apa karena kagum akan ketabahan Murni saat itu? Atau karena hal yang lain. 


Lastri tidak dapat menduganya.


"Ibu ingat nggak sama orang ini?"


"Ingat lah, Polisi yang pernah antar mobil Bapak itu tho!" 


"Syukur kalau Ibu masih ingat," jawab Gianto


"Salam Gya sama Om polisi," ujar Murni.


Gianto berikan tangannya. Sebagai anak yang pintar Gya membuat gerakan seolah cium tangan polisi muda itu. Lastri tidak begitu suka dengan basa-basi seperti itu. Tak lama kemudian ia memutuskan untuk berkeliling di Polres itu. Sebuah kantor polisi tempat masyarakat untuk dapatkan layanan dari para penegak hukum.


Lastri telah dapatkan SIM B1-nya. Ia pun segera kembali ke tempat ia tinggalkan Murni dan Gya tadi. Keberadaan Gianto sudah tak tampak lagi. Lastri segera ajak mereka untuk segera tinggalkan tempat itu. 


Lastri Ingin mengajak Murni berbelanja selagi berada di kota. Membeli kebutuhan yang tak ada di tempat tinggal mereka. Lalu makan bakso di tempat bersejarah dan favorit bagi Murni dan Wasis dulu. 


"Gianto tanya apa Bu?"


"Apa Gya anak kamu?"


"Oh, Terus apa lagi?"


"Apa kamu anak Ibu?"


"Ibu jawab apa?"


"Ya Ibu jawab iya aja!" jawab Murni sambil melihat ke arah, "ya kan Gya?"


Murni merasa ada yang aneh dengan putri angkatnya itu. Seperti kurang senang dan seperti penuh curiga pada obrolan yang ia lakukan dengan Gianto, polisi berpangkat brigadir kepala itu, Bagi Murni pertanyaan yang sempat Gianto ajukan, masih dalam taraf wajar. Murni malah dapat merasakan adanya rasa ketertarikan Gianto pada putri angkatnya itu. Layaknya seperti anak muda lainnya.


"Kamu pernah hampir ditilang dia ya?" Murni coba hilangkan kecurigaan Lastri terhadap Gianto.


"Dia cerita ya, Bu?"


*Iya, Dia bilang kalau kamu ketakutan!"


"Ya iyalah, repot kalau sempat sidang Bu!" Lastri tertawa bayangkan kejadian itu.


"Syukurlah kalau sekarang kamu sudah punya SIM yang sesuai!"


"Iya Bu."


Obrolan mereka harus terhenti. Bakso urat yang mereka pesan telah datang. Gya tak terpengaruh dengan datangnya bakso yang terkenal enak itu. Dengan tenangnya ia terus jilati es krim yang dipegangi Lastri. 


Murni mengatur bakso yang diberikan oleh pelayan. Sedangkan Lastri berusaha untuk atur kembali posisi Gya di dalam kereta dorongnya. Sungguh kereta dorong yang sangat indah, kokoh, serta multifungsi. Berwarna biru tua. Hasil pemberian Wasis disaat-saat akhir hidupnya. 


Setelah Gya duduk sempurna baru Lastri berikan sebuah mainan tangan. Agar Gya tidak mengganggu mereka saat menikmati bakso. Sedangkan es krim tadi, telah Lastri simpan dalam sebuah kotak makan. Bagaimanapun juga terlalu banyak es krim tidak baik untuk anak dibawah dua tahun. 


Seseorang menepuk pundak Lastri, ketika suapan ketiga hendak dilakukannya. Lastri spontan menoleh kebelakang. Ia dapat melihat jelas bahwa orang yang menepuk pundaknya. Orang itu Madi, adik bapaknya yang paling bungsu. 


Anehnya Madi tidak mau bicara ditempat itu. Madi pun segera berlalu dari warung bakso itu setelah selesai membayar di meja kasir. Lastri dapat melihat dengan jelas bahwa Pak Lek-nya itu telah berdiri di parkiran motor. Tepat di area depan kedai bakso itu. Lastri segera memburu ketempat Madi berada setelah izin pada Murni terlebih dahulu.


"Pak Lek!" Jerit Lastri setelah ia berhasil dekati Madi yang hendak memasang helm.


"Eh, Ternyata benar Kamu, Las!"


"Pak Lek dari mana?"


"Habis dari Bank!"

__ADS_1


"Kalau sekarang mau kemana?"


"Ya mau pulang Las, maaf Pak Lek harus buru-buru!" jawab Madi, "takut kemalaman!"


"Ibu gimana?"


"Sehat!"


"Pak Lek, Tolong catat nomor telepon Lastri!"


Madi segera masukkan nomor yang Lastri sebut. Satu persatu dengan cara menekan tombol-tombol ponselnya. Lalu ia sebut ulang kembali. Dengan harapan Lastri dapat mengoreksi jika ada salah dalam menyimpan nomor Itu. Tak berselang lama ponsel milik Lastri pun berdering.


"Pak Lek kasih tahu ibu aja nomer telepon Lastri!"


"Nggak Las, lebih baik kamu sendiri yang bilang ke dia!"


"Kenapa gitu Pak Lek?"


"Nggak sanggup Pak Lek ditanya-tanya nanti!"


"Lah terus buat apa Pak Lek simpan?"


"Kalau ada hal mendesak nanti!"


"Pak Lek ini gimana sih?"


"Kamu pulanglah Las ! Lihat Ibumu!" jawab Madi ketus, "maaf Pak Lek mesti buru-buru!"


"Iya Pak Lek!" Lastri terlihat kecewa pada sikap Madi "hati-hati dijalan Pak Lek!"


Lastri kembali duduk di samping Murni. Gya telah pindah posisi lebih mendekat ke arah nenek angkatnya. Dengan rasa kesal dan wajah cemberut Lastri pun lanjutkan memakan baksonya.


"Siapa tadi Las?"


"Paman Bu!"


"Dari desa kamu juga?"


"Iya Bu, tetangga rumah malah!"


"Ada cerita apa tentang Ibu Kamu?*


*Tidak ada cerita apa-apa Bu!"


"Terus kenapa kamu kelihatan sedih?"


"Pak Lek nyuruh pulang!"


"Pulanglah Nak!"


Lastri terharu dengarkan perkataan Murni. Begitu sayang Murni padanya. Tak tampak sedikit pun ada kecemburuan di sana. 


Tapi Lastri telah punya tekad kuat. Takkan pulang sebelum ada pencapaian yang berarti dalam hidupnya. Minimal telah ada titik awal dari kerajaan bisnisnya. Sebuah perusahaan yang akan ia wariskan pada putrinya kelak.


"Bu Gianto bilang apa lagi ke Ibu?" Lastri coba alihkan perhatian Murni dari berita dan kondisi keluarganya.


"Dia bilang Dia sudah pernah lihat kamu sebelumnya!"


"Ya iyalah Bu, kan Lastri yang terima Dia waktu ngantar truk Bapak!"


"Bukan itu kata Dia!" jawab Murni, "sebelum itu!"


"Maksudnya Bu?"


"Dia pernah lihat kamu daerah perbatasan kabupaten?"


Lastri terdiam. Tak menyangka pengalihan yang ia lakukan malah berbuah masalah baru. Lastri tak percaya bagaimana bisa Gianto telah pernah melihat dan bertemu dirinya sebelumnya. 


Lastri tak tahu bahwa pada saat kejadian itu, Gianto masih berdinas di Polsek. Tepat di daerah tempat kejadian Lastri menerima kekejian itu. Gianto merupakan salah satu polisi yang dilaporkan oleh warga tentang kejadian itu. Lastri tak tahu bahwa tujuan Gianto ingin bertemu Murni tadi untuk tahu tentang asal usul dirinya.

__ADS_1


...☘️☘️☘️ ~~ Bersambung ~~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2