
Pikiran mantan karyawan bagian legal itu seperti menerawang sangat jauh. Ia masih bayangkan kemalangan yang Lastri alami atas dasar cerita Gianto tadi. Tak sanggup Armen bayangkan penderitaan yang harus Lastri terima waktu itu. Hingga Lastri harus memilih jalan tinggalkan rumah dan kampung halaman.
Armen akan coba bertanya langsung pada Lastri. Sebab dengan bertanya, segera ia akan tahu apa masalah apa yang menerpa Lastri. Sekaligus coba bantu berikan solusi yang sesuai untuk Direktur Utama-nya itu.
"Heh! malah bengong di sini lagi?"
"Oh, dah selesai ya!"
"Udah, yok lah kita cabut," Lastri terlihat mulai ceria, "cari makan, lapar nih!"
"Eh, iya ayo dah!"
Tadinya Armen ingin makan Nasi Padang, karena ia memang sangat lapar sekali. Sayangnya Lastri ingin bakso langganan keluarga Wasis. Lastri selalu ingin lakukan nostalgia jika hadir di ibukota kabupaten itu. Armen pada akhirnya setuju, karena ia diperbolehkan pesan dua mangkuk. Bakso dan mie ayam.
Karena tidak sempat hidup lama bersama, maka hanya warung bakso itu saja yang dapat merepresentasikan kenangan akan sosok Wasis. Masih terngiang jelas suara Wasis saat sebut kata "Neng" padanya saat mengajak dan coba berikan payung untuk Lastri.
"Gimana hasil pemeriksaan tadi?" Suara Armen memecah hening suasana.
"Aman, cuma agak kecewa!"
"Kenapa?"
Lastri ceritakan pertanyaan penyidik, tapi hanya garis besarnya. Tidak banyak beda dengan apa yang Armen dan Gianto telah bahas. Inti pembicaraan Lastri ia kecewa jika surat panggilan itu dipakai untuk dua kasus yang berbeda.
Sama seperti dirinya. Armen pun tak bisa mengerti sebab penyidik lakukan hal itu. Namun, jika dapat ditarik dari pembicaraan antara ia dan Gianto tadi, jelas bahwa ada pengaduan dari keluarga besar Tosi.
Mereka seperti belum puas jika belum ada penetapan tersangka. Sedangkan mereka tahu pada rekaman CCTV terdapat video bergambar bayangan. Lebih seperti Kanit Reskrim mencoba untuk hubungkan Lastri di sana. Walau pada akhirnya lebih dekati kasus yang berkaitan dengan dunia mistis sepertinya.
"Atau kamu mau ngobrol sama kakak ibu saya dulu?"
"Siapa namanya, lupa saya!"
"Ki Cadas!"
"Oh ya itu jenis batu-batuan?"
"Mau nggak?"
"Lah ngapain? Lagian buat apa juga!"
"Kemarin kan waktu ngobrol sama Tante, Kamu kelihatan bingung gitu!" Armen coba ingatkan kejadian waktu Lastri terguncang saat Gianto datang untuk periksa truk dan jejak rodanya.
"Lain kali aja lah Men!"
Pernyataan Lastri makin buat Armen jadi penasaran. Armen berharap Lastri dapat lebih terbuka. Ia benar-benar ingin berikan kontribusi bagi partner bisnisnya itu. Selain itu Armen Ingin tahu obrolan rahasia Lastri dan Murni tentang kejadian kematian Yudi tempo hari.
Namun, tidak demikian dengan Lastri. Ia kini mulai dapat mengingat nama Ki Cadas itu dengan baik. Bagi Lastri bukan Armen yang sebut nama itu untuk pertama kalinya. Tapi Yudi. Lastri pernah dengar Yudi sebut nama dari mulutnya, saat mereka masih ada hubungan.
__ADS_1
"Sekarang kan masih siang, kita kemana lagi nih?" Armen bertanya setelah ajakan menemui Ki Cadas gagal.
"Kita ke Pak Mul aja?" Pinta Lastri
"Ide bagus tuh!"
"Ya iyalah, kan kamu sudah ada uangnya sekarang!"
"Tetap aja bisnis berdua Las!"
"Susah kalau nanti ada cekcok nanti?"
"Ya nggak lah Las!'
"Kok bisa?"
"Tinggal comot AD/ART kebanyakan, terus modif dikit!"
"Susah nggak bikinnya?'
"Ya nggak, nanti saya urus pakai notaris rekanan kantor."
"Mahal nggak?"
"Minta diskon lah!"
"Tapi Kita aman kembangkan bisnis!"
"Termasuk dari Lori Merah!"
"Pastinya!"
Layaknya orang yang biasa bekerja terkait bidang hukum dan administrasi di sebuah bank, aspek legal formal merupakan fokus Armen. Lastri perhatikan seluruh paparan dari Armen. Dalam hati Lastri setuju pada cita-cita Armen dalam membentuk bisnis yang tertib administrasi. Direktur keuangan dan administrasi sudah sangat cocok buat Armen.
Apa yang dikatakan Armen sangat logis. Jika telah memiliki segala perizinan maka buka tempat dan lakukan usaha tak perlu takut lagi. Dan apabila usaha mereka ada gangguan dari Lori Merah, mereka dapat laporkan ke pihak berwajib. Armen yakin dirinya akan dapatkan harga murah dalam hal pembuatan badan hukum perusahaan mereka nantinya.
Lastri pesan empat bungkus bakso lagi, tiga diantaranya untuk keluarganya dan satu lagi untuk Bu Kotjo. Lastri bayarkan semua karena perjalanan itu pemenuhan hajat dirinya, memenuhi panggilan polisi.
Armen hentikan laju sepeda motornya di tepi jalan. Tepat di depan jalan ada rumah mewah, dengan halaman begitu luasnya.
Rumah dengan atap berbentuk setengah lingkaran di setiap blok bangunan besar bagian. Ada tiga blok bangunan di sana.
"Rumah siapa Men?"
"Ki Cadas!"
"Wew, dukun kaya rupanya?"
__ADS_1
"Udah kelihatan saktinya kan?
"Bisa jadi?"
"Gimana? Jadi mampir Kita?" Armen coba mengajak Lastri temui paman gurunya itu.
"Nggak lah!"
"Nggak bayar kalau sama saya mah!"
"Nggak! Kita ke Pak Mul saja dulu!" Lastri tunjukkan rasa tak senang bila dipaksa.
"Oke!"
Gagal sudah tujuan Armen, ia tetap saja tak mampu mengajak Lastri temui paman gurunya. Jika saja Lastri bersedia maka akan terbuka obrolan rahasia Murni dan Lastri ketika Gianto tiba datang untuk memeriksa truk peninggalan Wasis itu. Sebagai ahli spiritual Ki Cadas sangat peka dalam hal membaca pikiran orang.
Lastri justru lebih ingin ke rumah Pak Mul, ketimbang urusan mistis. Baginya situasi yang ia alami saat dua peristiwa kematian hanya bersifat kebetulan saja. Lastri lebih ingin tetap simpan rahasianya. Biarlah ia simpan saja selama masih dapat menahan perasaan batinnya.
Memang dalam pingsannya Lastri dapat jelas melihat kematian dua orang itu, lebih seperti mimpi. Saat tertidur atau pingsan, Lastri melihat bagaimana kedua korban itu rasakan ketakutan yang amat sangat. Tapi dalam Miu itu a hanya bisa melihat, tanpa bisa berbuat apa-apa. Bahkan keluarkan jeritan kedua korban tak dapat mendengar suaranya.
Dibanding urusan mistis, Lastri ingin tahu kelanjutan pembicaraan tentang rencana Armen menjadi distributor pupuk. Armen sudah pernah tawarkan pada Madi, merk dagang pupuk Mulyanto.
Kelompok tani yang ada di sana pun telah paham akan produk pupuk yang dijual Pak Mul. Hanya pasokan sering kali tersendat dan harga yang tak stabil membuat petani di sana merasa kapok. Madi yakin jika saja ketersediaan barang stabil dan harga jual bisa bersaing, produk mereka mampu jadi alternatif utama dari pupuk bersubsidi.
Sepeda motor Armen jalan kembali, kali ini mereka masuk dalam komplek perumahan khusus pegawai negeri. Total perjalanan yang mereka lakukan sejak dari polres tak lebih dari lima belas kilometer. Kini mereka telah tiba di kediaman Mulyanto.
Mulyanto sambut kedatangan Lastri dan Armen. Ia belum pernah kenal atau tatap muka langsung dengan Armen. Ia terlihat antusias sekali Mulyanto ketika dikenalkan pada Armen oleh Lastri.
Mulyanto tahu mengenai Armen dari cerita Lastri atau Tiwi. Tapi ia tahu dengan pasti jika Armen adalah partner Lastri yang baru, dan kini Ingin memulai bisnis pupuk dengannya. Setidaknya itu yang ia tahu dari pemimpin pabrik kelapa sawit mini mitra mereka bersama.
Armen pada kesempatan itu berulang kali bertanya tentang kesinambungan pasokan jika nanti nanti bisa kerjasama. Masukkan dari Madi benar-benar jadi fokus Armen. Lastri bangga pada Armen. Terutama saat Armen minta kontrak eksklusif. Nyata sekali ada keseriusan di sana.
"Gitu ya Pak Armen, nanti saya upayakan lah ya!"
"Memang ada target penjualan dulu atau gimana Pak?"
"Belum tahu saya kalau itu?"
Permintaan Armen jadi dilema tersendiri bagi Mulyanto. Kontrak eksklusif artinya ia akan dilewati oleh Armen. Tetapi lebih tak mungkin lagi ia menahan laju Armen. Bisa saja Armen maju tanpa dirinya langsung ke produsen.
Sadar dirinya memiliki kelemahan status sebagai pegawai negeri, yaitu dilarang berbisnis. Maka hal itu adalah keputusan yang dianggap bijak oleh Mulyanto. Serta berharap agar ia tidak segera dilupakan Armen. Kini Mulyanto hanya berharap dari insentif hasil transaksi dua pihak yang ia hubungkan. Mulyanto tak tahu bahwa ia telah masuk dalam rencana kerja Lastri.
Pegawai negeri yang sangat dekat dengan para pegiat sawit itu akan Lastri daulat jadi pemegang urusan hubungan masyarakat. Ketika Mulyanto pensiun nanti pastinya. Kejujuran dan keahlian Mulyanto membina masyarakat sawit akan sangat dibutuhkan Lastri.
Secara keseluruhan mereka sangat puas akan pertemuan itu. Armen ucapkan rasa terima kasih begitu banyak. Dan sempat pula ia berkata pada Mulyanto bahwa ia bukan jenis orang yang mudah lupakan janji. Mulyanto hanya bisa terdiam, karena hanya waktu jualah yang akan buktikan.
...☘️☘️☘️ ~~ Bersambung ~~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1