
Lebih dari 45 menit Armen menunggu di luar. Ia hanya duduk saja di kursi panjang yang terbuat dari aluminium. Sesekali ia mainkan ponsel untuk mencari berita atau info terkait bisnis mereka.
Gianto yang baru saja pulang berpatroli melihat Armen duduk di sana. Sendiri saja. Gianto yakin dengan Armen adalah orang yang sama ketika ia datang untuk melihat truk milik Lastri. Truk itu sempat terlihat oleh saksi lain dan diduga berada di lokasi Yudi pertama kali menghilang.
"Temannya Lastri?" Gianto coba buka obrolan.
"Iya betul, Bapak yang ke rumah kemarin kan?"
"Iya benar, Bu Lastri-nya mana?"
"Udah didalam!*
"Panggilan jam berapa?"
"Sebelas."
"Huh … udah lama juga ya di dalam?"
Pendapat Gianto sepertinya sama dengan Armen. Mengapa karena sebab tertidur di lokasi dan tidak melihat kejadian apa-apa, tapi harus jalani pemeriksaan yang begitu lama. Walau Gianto tahu Lastri dan Yudi berasal dari kampung yang sama, tidak serta merta membuat Gianto hubungkan kedua hal itu.
"Kerja dimana mas?
"Sekarang sama Lastri!"
"Dulunya?"
"Di bank!'
"Di Lastri sebagai apa?'
"Direktur keuangan."
"Lastri direktur utama?" Gianto seolah mengejek, "tapi cocok kok, mantan bank!"
Kata-kata Gianto tak punya pengaruh bagi Armen. Dia telah jalani dua profesi yang berbeda. Antara pegawai dan wiraswasta. Baru saja ia mencetak laba belasan juta yang tidak pernah ia hasilkan selama jadi karyawan. Bila saja ia bisa sedikit lebih serakah, maka puluhan juta yang bisa ia bawa pulang dalam satu kali transaksi.
"Sudah kenal lama sama Lastri?"
"Ada sekitar dua tahunan lah!" Armen coba ingat saat Wasis memperkenalkan Lastri.
"Tahu asalnya Lastri?"
"Tahu!"
Jawaban-jawaban Armen yang lugas lagi tegas buat Gianto yakin bahwa hubungan antara dua orang itu sudah cukup dalam. Minimal mereka telah saling tahu asal usul masing-masing. Sadar memang ada suatu kedekatan antar mereka, Gianto tak segan lagi beri bocoran materi pemeriksaan hari itu terhadap Lastri.
Gianto terangkan bahwa ada pihak yang tetap menuntut pada peristiwa kecelakaan kerja di PKS mini. Juga antara korban satu dan lainnya punya hubungan. Dan mereka saling mengenal, dan ada kaitan dengan Lastri di masa lalu.
Bagi Armen cerita ini merupakan hal yang baru. Ia tahu Lastri adalah anak angkat Murni. Itu sudah pasti. Sebab orang tuanya bertetangga sejak ia belum lahir malah.
Tahu pula jika Lastri memang telah hamil dalam usia muda, lakukan proses bersalin di rumah milik Wasis. Dibantu oleh dua orang senior, dan salah satunya adalah ibunya sendiri. Bahkan ia juga telah kenal dengan Enah, ibu kandung Lastri.
__ADS_1
Tetapi cerita Lastri pernah ada hubungan dengan kedua korban, sungguh ia tak tahu itu. Karena memang Lastri juga tak pernah cerita tentang hal itu. Sama halnya dengan ibunya atau Murni sekalipun. Mereka pun tidak pernah cerita.
Yang membuat Armen jadi terkejut adalah kabar tentang saat dua peristiwa itu terjadi, Lastri kedapatan ada di sana. Dan Lastri tidak pernah cerita tentang peristiwa ledakan ketel uap di PKS mini. Sedangkan mereka sudah pula pergi ke sana berdua.
Dan yang lebih buat Armen terkejut adalah pengakuan lawan bicaranya itu. Gianto tahu akan kejadian yang menimpa Lastri dua tahun lalu. Sedangkan ia sendiri tidak pernah tahu. Memang Gianto lah petugas polisi yang pertama kali mendapat laporan dari masyarakat peristiwa di kebun karet milik rakyat itu.
Saat itu ia masih dinas di polsek dengan wilayah kerja tempat kejadian. Masalah itu juga pernah ia sampaikan pada Murni. Ketika mereka bertemu saat Lastri sedang ketika membuat SIM di polres. Ketika itu ia justru mendapat respon negatif dari Murni. Ibu angkat Lastri justru terkesan berupaya untuk tidak tanggapi pernyataan Gianto.
"Sepertinya Pak Gianto tahu betul tentang Lastri?" Armen coba pancing polisi dengan pangkat brigadir kepala itu.
"Ya, karena saya pernah tahu kasus yang menimpa dia."
"Kenapa Bapak nggak lanjutin aja kasusnya Pak?"
"Gimana ya mas? Intinya karena memang nggak pernah ada laporan sih!"
"Jangan-jangan Pak Gianto yang coba tarik Lastri ke kasus ini Pak?" Armen mendelik penuh curiga. "Biar kasus lama ikutan juga!"
'Oh, bukan gitu Mas!" Gianto terlihat tidak suka dapatkan tuduhan itu, "Pak Kanit sendiri sudah pernah ketemu sama Lastri."
Sengaja Armen tanya seperti itu. Ia ingin tahu apa niat Gianto lakukan pembicaraan terkait kasus Lastri secara khusus dengan dirinya. Malah sampai mengungkit-ungkit kasus Lastri yang sudah lama, dan bahkan tidak pernah dilaporkan.
Apa yang dikatakan Gianto benar secara keseluruhan. Atas inisiatif Dia maka Lastri menerima visum dari rumah sakit. Namun, hasil visum itu tidak pernah dipakai untuk bahan laporan. Pihak keluarga Lastri tidak memiliki cukup keberanian untuk tempuh jalur hukum.
Pernah Gianto lakukan penyelidikan atas inisiatif pribadi. Malah sempat ke kawasan tempat tinggal Lastri. Namun, ia tidak bisa mendapati Lastri dirumahnya. Hanya tiga hari Lastri dirawat di rumah. Hingga akhir Gianto bertugas di sana, tidak sekalipun ia bisa temui Lastri.
Pada akhirnya Lastri minggat. Penuh tekad bercampur nekat ia tinggalkan Enah, Dan coba untuk hidup sendiri. Hanya demi untuk perjuangkan Gya yang ada di dalam kandungannya.
"Soalnya saya juga sempat dipanggil Pak Kanit, diminta keterangan!"
"Tentang apa?"
"Truk!"
"Ada apa dengan truk Lastri?'
"Ya karena saya pernah bawa truk itu!"
"Terus?"
"Komandan ingin pastikan truknya sama!"
"Maksudnya?"
"Cuma saya yang bisa kenali ciri truk itu, Dari hasil keterangan saksi yang ada di lokasi!"
"Oh, gitu?" Armen merasa paham.
Sampai sejauh ini belum ada pernyataan Gianto yang bohong. Ketika Wasis wafat, pada jenazahnya dilakukan pemeriksaan. Setelah positif jantung, maka Gianto yang disuruh antarkan truk oleh Kanit Reskrim. Kanit Reskrim butuh dirinya untuk pastikan jika truk itu adalah truk yang sama.
"Kenapa kasusnya kayak rumit banget ya!'
__ADS_1
"Gimana nggak rumit, nggak pernah ada saksi yang lihat masalahnya!"
"Kalau dari barang bukti?"
"Sama saja! Mas?"
"Rekaman atau CCTV maksudnya?"
"Itu lagi, barang gaib Mas!"
"Nggak ada gitu?"
"Beneran gaib Mas!"
"Maksudnya?"
"Ada seperti bayangan pembunuh!'
"Di kasus mana Pak?"
"Pabrik sawit!"
"Bayangan pembunuh gimana sih Pak?'
"Merinding saya kalau ngomong soal itu!"
"Hantu ya Pak?'
"Udahlah Mas! Nggak masuk akal aja intinya mah!"
Armen benar-benar penasaran akan cerita dari Gianto. Dalam hati ia sangat berniat untuk bertanya pada Lastri. Apabila Lastri enggan, maka ia akan bertanya langsung pada Tiwi, manager pabrik itu. Atau ia akan tanyakan pada beberapa karyawan yang ia kenal di sana.
"CCTV-nya ada nggak? Armen ulangi lagi pertanyaan sebelumnya.
"Oke lah Mas, Saya mau istirahat!" Gianto sudah bosan meladeni pertanyaan Armen yang tak habis-habis.
"Oh iya jam istirahat ini ya!" Perkataan Armen terdengar sinis.
"Iya Mas, bentar lagi pasti selesai kok, ujar Armen, "masa iya penyidik nggak laper?"
"Benar juga ya Pak!"
Gianto tinggalkan Armen, sepertinya akan pergi menuju kantin yang ada di belakang kantor. Pikiran Armen campur aduk. Susah rasanya menilai pribadi Lastri. Kisah lama yang diceritakan Gianto membuat Armen ragu.
Pernah ia dengar perkataan ibunya bahwa ayah dari Gya itu seorang pekerja migran. Kini ia dengar Lastri adalah korban tindak perkosaan serta kekejian dari sekelompok pemuda. Dan telah ada dua orang tewas, keduanya berasal dari desa yang sama.
Akal sehat Armen berikan jawaban bahwa akan mudah bagi polisi dalam menentukan suatu motif. Tapi sampai sekarang polisi masih kesulitan menetapkan tersangka. Jangankan tersangka, saksi yang kredibel saja sulit.
Apa iya berhubungan dengan gaib seperti yang Gianto bilang ada bayangan di CCTV ya? Armen membatin dalam hatinya.
...☘️☘️☘️ ~~ Bersambung ~~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1