Transmigrasi: Janji Gema

Transmigrasi: Janji Gema
BAB 19 ~ Napak Tilas ~


__ADS_3

Truk yang dikendarai Lastri melintasi jalan yang hampir dua tahun lalu ia lewati. Saat itu dengan menumpang sebuah angkutan desa Lastri susur jalan itu untuk tinggalkan kampung halaman. Hingga akhirnya salah dalam memilih angkutan berikutnya, jadi sebab Lastri bertemu pasangan suami istri Wasis dan Murni. Yang menolongnya dan kini jadi orang tua angkatnya.


Di dalam kabin truk ada tiga orang. Persis sama dengan kejadian saat itu. Bedanya sekarang dalam kabin terdapat dua orang dewasa muda dan satu gadis kecil berusia satu tahun tujuh bulan. Lastri, Armen dan Gya yang ada di dalam sana. Tak terlihat Murni ada di sana. 


Sebagai seorang ibu dan wanita, Murni sangat bijaksana. Sengaja ia tak bersedia untuk ikut. Ia menolak ikut karena ada dua alasan. 


Murni tidak akan sanggup melihat Enah akan ditinggal lagi oleh putri kandungnya. Atau pilihan kedua, yaitu dirinya yang tak akan sanggup jika harus tinggalkan Lastri dan Gya disana. Benar-benar jadi pilihan yang amat sulit.


Kondisi itu persis yang digambarkan oleh Wasis pada saat-saat pertama Lastri diberi izin untuk tinggal bersama mereka. Wasis gambarkan hidup bagaikan penumpang dalam sekoci yang bocor. Di mana setiap penumpang akan menjadi pengambil keputusan untuk dirinya sendiri.


Ada penumpang yang melompat ke dalam air, akibat tidak sabar atau untuk selamat sendiri dari sekoci yang bocor. Ada yang hanya bertahan tetap di atas sekoci sambil menunggu batas akhir. Bahkan ada pula penumpang yang berharap selamat justru dengan cara lemparkan orang lain ke air. 


Namun, semua dinamika yang terjadi di atas sekoci tetap akan berakhir. Berjalan hingga sampai waktu dinyatakan selesai. Berakhir sesuai ketetapan Sang Pencipta. 


Lama kelamaan sekoci bocor itu tetap saja akan tenggelam. Dan orang-orang di atas itu tetap akan berpisah dalam menentukan keputusan selanjutnya. Garis takdir dari Tuhan pada akhirnya akan menjadi batas segala sesuatunya.


Truk Lastri hanya bisa parkir di tepi jalan, tak bisa masuk ke dalam halaman rumah. Bukan karena  tak muat di parkir halaman dalam. Lahan rumah transmigrasi seluas 750 meter persegi sangat cukup untuk itu. Tapi lebih ke jembatan kayu yang terbuat dari batang kelapa itu telah lapuk. Bahkan posisinya sudah ada yang roboh, jatuh ke dalam siring kering.


Mobil ambulans dari puskesmas adalah kendaraan roda empat terakhir melintas di atas jembatan itu. Peristiwa yang terjadi hampir dua tahun yang lalu. Saat mereka antar Lastri dalam keadaan tak sadarkan diri.


Lastri turun dari truknya. Karena ia pakai topi jenis pet dan setelan pakaian gaya pria maka tak banyak orang yang dapat mengenalinya. Lagi pula siapa yang dapat menduga bahwa Lastri gadis kurus ceking itu kini telah mahir membawa kendaraan besar, dengan bobot di atas 3,5 ton.


Bertiga mereka masuk ke dalam rumah. Lastri berjalan di depan. Armen mengikuti berjalan di belakang sambil membopong Gya. Putri Lastri itu terlihat selalu senang jika diletakkan di atas pundak lelaki yang tinggi besar itu.


Enah berada di ruang tengah seperti hari lainnya. Di atas sebuah kursi panjang yang terbuat bambu. Tepat di depan kursi itu, dulu di depannya terdapat kasur untuk Lastri. Ketika itu memang diminta perawat sebagai tempat istirahat dan pemulihan dari trauma yang dialami Lastri.


"Ya ampun Lastri, akhirnya Kamu pulang juga!" 


"Iya Bu!"


"Mana si kecil?"


"Tuh! Lagi di bopong!"

__ADS_1


Enah senang bukan main, segera ia peluk Lastri untuk waktu yang cukup lama. Lalu bergegas ia hampiri Armen. Ia minta agar Gya segera diturunkan dari pundak lelaki itu..


Sepertinya Enah tidak begitu terkejut akan kedatangan anak perempuan beserta cucu pertamanya secara tiba-tiba. Meski hampir dua tahun Lastri tidak pernah pulang, atau beri kabar pada ibunya. Lebih tepatnya ia lari dari rumah karena menolak gugurkan kandungan. 


Mudah saja bagi Lastri untuk menebak. Pasti Madi yang telah bercerita tentang pertemuan mereka di sebuah kedai bakso beberapa bulan lalu. Lastri yakin pastilah hari-hari Enah selalu penuh dengan harap dalam menanti kepulangannya serta cucu yang pernah ditolak kehadirannya..


Tubuh Enah yang semakin kurus hampir saja terpelanting saat coba menerima Gya dari lengan Armen. Enah lupa bahwa lelaki berbadan besar itu pastinya punya tenaga yang besar pula jika dibandingkan dengan dirinya. Dengan susah payah Enah coba untuk menggendong Gya dengan gunakan seluruh kekuatan dari sisi kanan tubuhnya.


"Gya sudah bisa jalan sendiri kok Bu!" Lastri katakan itu setelah Gya berdiri di atas pangkuan nenek kandangnya.


"Namanya Gya ya?" Enah tirukan suara anak kecil.


"Pratigya Gema, Bu! Lengkapnya!"


"Bagus sekali namanya!" Kembali Enah keluarkan suara yang sebenarnya tidak enak didengar itu.


Kejadian Enah menggoda anak kecil yang dulu pernah ia inginkan untuk digugurkan cukup berlangsung lama. Lastri tidak suka melihat tangan Gya terus dikekang seperti itu terus menerus. Karenanya ia meminta agar Enah melepaskannya. Sudah terlihat mulai memerah pada pergelangan tangan Gya.


"Saya tidak melarang ibu, cuma kasihan Gya nya aja!"


"Kok kamu berkata kasar sama Ibu sih!"


"Saya tidak niat omong kasar sama Ibu!"


"Kamu kok belum berubah ya Las!" 


"Tidak Bu, Saya cuma ingin Gya leluasa mainnya!"


Armen yang menyaksikan percakapan ibu dan anak itu sedikit heran. Mengapa Lastri bersikap begitu kaku itu terhadap ibunya sendiri. Armen tak mengetahui jika tujuan utama hidup Lastri adalah kebahagiaan Gya. 


Lastri tak akan peduli terhadap siapa yang jadi lawannya. Armen memang tak pernah tahu itu. Andaikan Armen telah mengenal Lastri sejak dulu. Pasti ia akan tahu letak perbedaan Lastri sebelum dan sesudah peristiwa itu.


Armen agak tergagap ketika ditanya oleh Enah siapa dirinya dan punya hubungan apa dengan putrinya. Tangkas Lastri beri sebuah penjelasan bahwa Armen adalah rekan bisnisnya. Lastri tak ingin Enah ajukan pertanyaan macam-macam pada Armen. 

__ADS_1


Dan memang itu tujuan Armen dihadirkan di sana. Untuk meredam pertanyaan yang mungkin timbul dari masyarakat di sekitar lingkungan rumah Lastri. Paling tidak ide dari Murni telah terbukti. Murni memang  meminta Armen untuk bisa temani Lastri saat pulang kampung. 


Murni khawatir kematian Yudi berdampak buruk pada Lastri dan Gya. Murni berpikir keberadaan Armen akan sedikit membuat keraguan bagi masyarakat sekitar. Makin banyak dugaan orang terhadap Armen maka akan semakin baik.


Gya bermain sendiri di lokasi yang sama, tempat ia masih berada dalam kandungan Lastri. Hanya kali ini hanya digelar sehelai tikar sebagai arena bermain Gya. Adapun Enah sedang berada di dapur menyusun hidangan yang tadi dibawa oleh Lastri. 


"Men, sepertinya kita harus nginap?"


"Ya nggak masalah!'


"Masalahnya di mobil!"


"Kenapa?"


"Apa aman parkir diluar?"


"Saya tidur di sana saja! Gimana?"


"Gini aja sebelum malam kita ke tempat Pak Lek!"


"Jauh nggak?"


"Dekat sini kok!"


"Bagus kalau begitu."


Keberadaan truk yang parkir cukup lama membuat para tetangga bertanya-tanya. Siapa yang lakukan kunjungan ke rumah janda beranak satu itu. Di antara mereka ada beberapa tetangga berinisiatif untuk datang langsung ke rumah Enah. 


Mereka ingin tahu gerangan siapa yang bertamu ke rumah janda tua itu. Sebagian besar reaksi tetangga setelah berkunjung adalah terkejut, sekaligus senang bahwa Lastri dalam keadaan sehat. Mereka lebih suka untuk bahas tentang ekonomi Lastri. Kondisi Lastri terlihat lebih baik dibanding kondisi ekonomi mereka kebanyakan. 


Sampai di situ trik Murni kembali berhasil. Mereka lebih tertarik membahas tentang truk gagah lagi mahal yang Lastri gunakan. Pakaian Lastri, Gya, perhiasan, ponsel juga Armen yang terlihat gagah di mata mereka. Sampai menjelang malam belum ada seorang pun yang coba ungkit soal kematian Yudi.


...☘️☘️☘️ ~~ Bersambung ~~ ☘️☘️☘️...

__ADS_1


__ADS_2