Transmigrasi: Janji Gema

Transmigrasi: Janji Gema
BAB 26 ~ Ki Cadas ~


__ADS_3

"Gya mana Bu?" Lastri bertanya sambil melepas sepatu ketsnya sebelum masuk ke dalam rumah.


"Baru aja bobo siang!"


"Tadi rewel?"


"Ya nggak, Cuma capek main kayaknya!"


"Lastri bawain bakso buat Ibu!"


"Ibu masih kenyang, simpan di kulkas aja dulu ya Las!"


Biasanya anak kalau sehabis rewel, maka anak itu capek atau kesal kemudian tidur. Tapi tidak dengan Gya, Murni bilang Gya letih karena banyak bermain. Lastri amat beruntung putrinya diasuh Murni. Bidan senior itu benar-benar perhatikan tumbuh kembang Pratigya Gema. Hingga selesai jalankan proses penyapihan, tak sekalipun Gya alami keluhan yang berarti. 


Kini Lastri dapat pergi lebih lama serta lebih bebas. Seperti saat ia harus penuhi panggilan dari pihak kepolisian. Terhitung mendadak bagi Lastri, jika dijadwalkan di hari pertama minggu Itu. 


Hampir satu hari penuh ia harus lakukan aktivitas yang terkait panggilan berita acara pemeriksaan yang dilakukan pihak kepolisian. Lama perjalanan dengan roda dua, hampir tiga jam waktu yang harus dibuang. Belum lagi temani Armen dalam sebuah temu janji dengan Mulyanto. 


Dari seluruh tempat yang ia kunjungi, ada satu tempat yang tak mau Lastri kunjungi. Rumah Ki Cadas. Ia merasa bahwa nama itu tak asing baginya. Karenanya tiba-tiba saja Lastri merasa sungkan untuk penuhi permintaan Armen itu.


Lastri mulai rasakan ingatannya semakin kuat. Lastri merasa yakin jika Yudi pernah ajak ia pergi ke sana. Tepatnya jauh hari sebelum peristiwa puncak pengkhianatan oleh Yudi. Bahkan jauh hari sebelum ia putus. Penguatan ingatan Lastri ini dimulai saat ia dapat mengingat perbuatan Tosi, ketika peristiwa ketel uap meledak awal bulan itu.


Lastri kini dapat mengingat diputus cinta oleh Yudi karena ia menolak ketika diminta gugurkan kandungan. Lastri serius dalam jalani hubungan percintaan dengan Yudi. Namun, Yudi selalu beralasan belum bisa cari nafkah sendiri untuk calon bayi mereka.


Yudi sempat bersedia untuk nikahi Lastri, jika saja Lastri mau ikut dengannya pergi temui Ki Cadas itu. Yudi sempat berkata bahwa ia telah bosan jadi orang miskin. Yudi ingin menjual kandungan Lastri pada Ki Cadas. 


Seingat Lastri, laki-laki tua itu kerap kali tawarkan harga tinggi untuk kandungan yang hendak dikorbankan. Harga lebih tinggi jika hasil perbuatan haram. Seperti perbuatan yang mereka hasilkan. Semakin tua umur janin, semakin ditingkatkan juga harga tawar yang diberikan.


Sempat alami henti jantung dan pasokan oksigen ke otak, membuat jaringan saraf dan otak Lastri sempat alami kerusakan. Dampak dari kejadian itu hampir satu minggu Lastri harus seperti mayat hidup. Harus diakui Lastri masih dinaungi nasib baik, terhindar dari kerusakan otak yang amat fatal. 


Beruntung Ibu satu anak yang tak pernah menikah itu hanya alami kematian untuk waktu yang relatif sebentar. Di bawah satu menit saja. Pun seperti itu, untuk kembali ingat kisah cinta berikut janji-janji Yudi padanya, Lastri perlu waktu dua tahun lebih. 


Sampai saat ini Lastri belum begitu ingat apa yang terjadi sore menjelang malam itu. Ia pernah melihat kilasan peristiwa itu. Tepatnya saat ia pingsan di dua kejadian tewasnya orang yang pernah lakukan kejahatan pada dirinya. Lastri dapat lihat dirinya tengah alami penganiayaan oleh empat orang pelaku.


Lastri Ingin sekali bertanya pada Murni, tentang Ki Cadas. Ia rasa ibu angkatnya itu tahu tentang lelaki tua, yang dibilang Armen adalah kakak seperguruan ibunya. Pastinya Murni tahu tentang Ki Cadas itu. Secara, dua keluarga itu telah bertetangga selama puluhan tahun.


"Las, wawancaranya gimana hasilnya?"


"Wawancara? O … BAP Bu!" Lastri baru tersadar.


"Iya itu!"


"Aman-aman aja kok Bu!"


"Mereka percaya sama omongan Kamu?"


"Ya belum tahu Bu, yang penting semua udah Lastri ceritakan sesuai kejadian aja?"

__ADS_1


Apa yang Lastri sampaikan pada Murni, tidak sepenuhnya benar. Petugas penyidik berkali-kali coba susuri alur cerita yang benar-benar masuk dalam logika berpikir. Lastri diberi pertanyaan-pertanyaan yang runtut, dari awal hingga akhir peristiwa.


Ada kalanya Lastri diberi pertanyaan yang bertolak belakang, atau sedikit memutar. Biasanya untuk menguji konsistensi Lastri dalam tetapkan satu alur cerita yang utuh. Setiap dirasakan ada penyimpangan alur cerita, maka penyidik akan coba pastikan lagi alur ceritanya. Dengan demikian maka akan didapatkan suatu rangkaian cerita yang utuh.


Proses BAP siang tadi benar-benar telah bikin Lastri lelah. Utamanya saat penyidik coba kaitkan kasus ledakan ketel uap di PKS mini. Lastri sempat katakan pada penyidik, agar awal sebaiknya dipanggil juga. Minimal untuk dimintai keterangan bahwa telah melihat Lastri pingsan di atas truknya. 


Proses berita acara pemeriksaan diakhiri dengan Lastri diminta membaca kembali seluruh pernyataannya. Membubuhi paraf di setiap halaman, dan tanda tangan pada akhir halaman. Benar-benar proses yang membosankan dan membuat kesal. Lastri harus konsentrasi penuh dalam berikan setiap jawaban karena ia tidak didampingi oleh penasihat hukum. 


Satu hal yang menguntungkan Lastri yaitu tak ada saksi mata yang melihat ia turun dari truk di dua peristiwa itu bahkan. Lebih ekstrim Lastri sempat menantang penyidik untuk temukan jejak tapak kaki ukuran 38 di lokasi sisi tempat Yudi tenggelam. Lastri sempat bilang pada penyidik itu, bila saja dapat temukan jejak kakinya maka dengan senang hati ia bersedia untuk dijadikan tersangka.


Murni jadi sedikit geram ketika Lastri tanpa sengaja bercerita polisi coba kaitkan Lastri dengan kejadian ledakan PKS mini. Murni memang pernah tahu pernah ada kejadian ketel uap meledak di pabrik kelapa sawit. Tapi bukan dari mulut Lastri.


Murni dapatkan berita tentang peristiwa itu dari obrolan banyak orang di pasar. Jika saja ia sempat tahu jika saat peristiwa itu terjadi ada Gya di sana, tidak terbayang murka Murni pada putri angkatnya itu. Lastri masih aman sepanjang Awal tak pernah bercerita tentang kejadian itu pada Murni.


"Sembarangan sekali polisi itu ya Las!"


"Ya itulah Bu makanya lama bener tadi!"


"Kok jadi arogan gitu si Gianto!"


"Ya elah? Bukan Gianto petugasnya Bu!"


"Tapi kamu lancar aja jawabnya kan?"


"Ya iyalah Bu, sampai polisinya bingung sendiri pokoknya," kata Lastri sembari  tertawa.


Ucapan syukur jadi perkataan terakhir dari obrolan siang itu. Murni pun tinggalkan Lastri untuk segera kembali ke kamarnya.


Murni benar-benar lega Lastri masih bisa pulang. Yang Murni tahu ada juga orang yang pergi menghadap ke kantor polisi tak bisa pulang lagi. Malah langsung ditahan. 


Gagal sudah niatan Lastri untuk bertanya tentang Ki Cadas. Di sisi lain ia juga masih beruntung, karena Murni tidak melanjutkan pembahasan tentang ledakan ketel uap di PKS mini. Jika tidak ia akan terpaksa akui jika Gya ada di lokasi pada saat kejadian. 


Lastri akan lanjutkan rencananya bertanya tentang Ki Cadas nanti sore. Waktu yang dirasa tepat adalah saat Murni menikmati bakso bawaannya. Nantinya ia akan buat teh manis sebagai teman Murni menikmati bakso.


Murni katakan pada Lastri jika ia tak kenal secara langsung. Namun, Lastri yakin jika Murni tahu dengan pasti jika Ki Cadas itu masih ada kaitan dengan Bu Kotjo, orang yang pernah menolong persalinannya. Kata-kata Murni sama persis yang dibilang Armen tadi siang. 


Lastri semakin semangat ingin lebih tahu lagi tentang Ki Cadas. Lastri ingin buktikan jika ingatannya adalah benar. Ia ingin buat perbandingan tentang Ki Cadas menurut dirinya dan atas dasar pengetahuan Murni. Lastri yakin sekali jika orang itu memiliki kelakuan sesat.


"Kalau dia mah beneran praktek dukun!" ungkap Murni.


"Dukun? Bukannya guru spiritual?


"Iya kalau zaman dulu ya dukun! Kamu bisa tahu dari mana Las!" Murni belah bakso urat ukuran jumbo gunakan sendok.


"Armen!" jawab Lastri singkat.


"Nanti biar ibu kasih tahu Bu Kotjo," ujar Murni sambil besarkan bola matanya.

__ADS_1


"Kenapa kok ibu mau kasih tahu Bu Kotjo?"


"Dia itu paling benci sama Mas Gurunya itu!"


"Ibu kok tahu?"


"Ya tahulah Las, 


"Dukun kok bisa kaya begitu ya Bu ya?"


"Iya, kalau dulu mah miskin?"


Murni ceritakan bagaimana Sentot, atau yang kini dikenal dengan nama dagang Ki Cadas itu. Ia masih kakak seperguruan Bu Kotjo. Selain itu ia pernah juga berguru ke seberang pulau. Sebagai pelengkap sejarah tentang Ki Cadas, Murni katakan bahwa Bu Kotjo juga pernah cerita jika Sentot sempat diusir oleh guru mereka.


Lama tak pulang, Sentot akhirnya kembali ke kampung halaman. Tapi lebih memilih untuk tinggal di kota. Dimulai dari sanalah Ki Cadas lakukan praktek perdukunan. Tak tanggung-tanggung banyak pejabat lokal dan dari daerah lain antri untuk jadi jalani pengobatan. 


Namun, bukan pengobatan seperti yang dibutuhkan orang sakit kebanyakan. Justru lebih banyak yang datang untuk konsultasi bisnis, jabatan atau meminta pertolongan dari gangguan makhluk halus. Yang pada akhirnya makhluk halus juga yang dipakai untuk memenangkan persaingan. Sempat juga ada pasien yang datang dari luar negeri.


Lastri beruntung jika tadi menolak untuk bertemu Ki Cadas. Setidaknya ia sekarang ia lebih tahu siapa latar belakang Ki Cadas yang sesungguhnya. Tak heran jika Armen sempat promosikan dukun itu untuk membaca pikirannya.


Lastri ingat bagaimana Yudi coba kaitkan kehamilannya dan uang besar. Jika benar apa yang pernah ditawarkan Yudi, Lastri yakin bahwa itu adalah bentuk pesugihan. Almarhum Yudi pernah berkeinginan untuk membeli motor roda tiga sebagai sarana dagang buah sawit. Ia ingin jadi penyalur jasa Lori Merah.


"Bu! Ki Cadas itu dukun santet ya Bu?"


"Kayaknya sih bukan!"


"Dukun pesugihan?"


"Kayaknya iya, dulu banyak warga sini bilang begitu!"


"Kok orang sini pada tahu?"


"Dulu Bu Kotjo pernah ngelabrak dia!"


"Kenapa ya Bu?"


"Ada pasien Bu Kotjo kehamilannya hilang?"


"Ibu nggak ikut ngelabrak?"


"Nggak berani, lagian Bapakmu ngelarang!"


Dari pengakuan seorang pasien Bu Kotjo, dirinya memang dibawa oleh ke sana oleh suaminya sendiri. Sang suami tukang judi, dan butuh uang buat bayar hutang. Sang istri tak menyangka jika suaminya setega itu. Karena perutnya kempes mendadak, maka pasien itu datang ke Bu Kotjo. 


Murni tambahkan ceritanya dalam praktek, Ki Cadas gunakan media telur. Pada perut wanita hamil yang berbaring diletakkan telur. Terselip dalam lipatan kain batik yang mereka pakai usai mandi kembang. 


Besar dan jenis telur ditentukan oleh usia kehamilan. Semakin besar kehamilan maka media telur yang digunakan semakin besar pula. Untuk kehamilan diatas tiga bulan media yang dipakai telur bebek. Lastri tertawa-tawa dengarkan penjelasan Murni.

__ADS_1


...☘️☘️☘️ ~~ Bersambung ~~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2