
Lastri permainkan ponselnya. Lastri baru menyadari jika ponsel yang ia punya benar adanya termasuk ponsel canggih. Armen telah aktifkan fitur-fitur hiburan dan fasilitas kerja pada ponselnya. Setidaknya itu yang Armen lakukan dalam perjalanan kemarin.
Murni masih kesal pada perjalanan putri angkatnya yang molornya hampir dua hari. Jika Lastri tiba di rumah lewat dari pukul dua belas malam. Beruntung Lastri masih terapkan semboyan ngebut adalah ibadah. Seperti tulisan pada bagian belakang truk yang mereka tertawakan.
Pagi hari Murni telah buatkan bubur nasi bayam dengan telur puyuh dan abon untuk Gya. Murni begitu prihatin melihat kondisi cucu satu-satunya saat tiba tadi malam. Begitu kumal dan kucel.
"Kamu kasih makan apa Gya kemarin?"
"Emangnya kenapa Bu?"
"Gya kurusan!"
"Ah masa sih! Gitu amat!" Lastri menganggap Murni berlebihan dalam beri penilaian.
"Kamu nih dibilangin ibu juga!"
"Maaf Bu!"
Lastri dapat merasakan jika dirinya sudah dianggap kelewatan oleh Murni. Ia tak lagi berani beri jawaban. Kalau sudah seperti itu, biasanya Lastri hanya diam. Ia sadar betul bahwa tak mungkin Murni punya niat buruk terhadap dirinya terlebih pada Gya. Bayi yang lahir di rumahnya sendiri. Lastri pun berhenti lakukan bantahan.
Seperti biasa Gya, setiap disuapi makanan yang ia suka maka mulutnya tidak berhenti keluarkan seperti kicauan. Atau gumaman yang tak ada seorang pun tahu maksud arti dan tujuan perkataannya. Herannya Lastri dan Murni justru menikmati reaksi aneh yang Gya keluarkan.
"Las, di atas TV ada surat panggilan tuh!"
"Panggilan polisi?"
"Iya!"
"Ibu sudah baca?"
"Mana berani ibu buka!"
"Gimana sih Si Gianto ini!" Lastri menjadi kesal saat membaca waktu panggilan.
"Kenapa dia Las?"
"Kan udah dibilang jangan mendadak!"
"Bukan dia kali yang buat surat?" Murni coba redam kekesalan Lastri pada Gianto.
"Ya sudah! Tunggu panggilan kedua aja!"
"Jangan gitu dong nak."
"Lastri masih capek, Bu."
Terdengar suara Armen berikan salam dari luar. Armen bermaksud laporkan uang jual getah karet yang telah ia bayarkan pada Madi. Juga ingin beritahu kabar gembira. Pak Lek Lastri itu hanya minta tambahan lima ratus rupiah dari harga rekomendasi dari lapak yang pernah Armen sampaikan.
__ADS_1
"Ini Las, bukti transfer yang kedua!"
"Kok dicicil cicil gini sih?" Lastri coba tanyakan angka 25 juta yang tertera pada layar ponsel.
"Karena beda bank Las, limitnya segitu!"
Mendengar kata limit, timbul rasa malas Lastri untuk membahasnya. Lagi pula ia telah percaya benar dengan lelaki mantan karyawan bank sekaligus tetangganya itu. Lastri agak kesal, sebab ada kesan seolah menahan rezeki orang lain.
Lastri sangat benci hal itu. Lastri mencoba untuk selalu bersikap sportif. Utamanya dalam berbisnis.
"Om Men, Om Men!" Terdengar Gya sebut nama Armen. Sepertinya Gya telah lekat benar dengan pria itu. Perjalanan berturut hampir tiga hari lamanya telah membuat Gya merasa dekat dan benar-benar sayang pada Armen.
Melihat hal itu Murni terlihat tampak begitu sedih. Ia ingat akan almarhum suaminya. Wasis teramat sayang pada Gya.
"Men kamu bisa antar Lastri ke Polres nggak?"
"Bi … bisa Tante! Kapan Tante?"
"Ah Ibu ah, Lastri masih capek Bu!" Lastri menyela di pembicaraan orang lain.
"Sekarang Men!"
"Apa nggak sebaiknya didampingi pengacara?" tanya Armen.
"Oh begitu ya?" Murni mendadak cemas.
"Nggak usah Men, cuma diminta keterangan aja kok," potong Lastri.
"Apa lagi tuh Men?" Murni bertambah cemas.
Lalu Armen jelaskan tentang berita acara pemeriksaan. Benar, Lastri akan dimintai keterangannya oleh petugas penyidik. Jika dianggap punya kaitan atau cocok dengan peristiwa atau saksi lain, maka penyidikan itu akan dikembangkan.
Pada akhirnya Lastri akan jadi saksi. Dan harus bersedia untuk dipanggil ke sidang pengadilan. Tidak menutup kemungkinan seorang saksi akan jadi tersangka. Jika dalam pemeriksaan dirasakan ada kaitan dengan peristiwa pokok.
Murni dengarkan penuturan Armen. Serius sekali ia kala itu. Murni mengerti akan efek dari pemanggilan pihak kepolisian. Lalu ia ubah pernyataannya.
"Ya sudah ditunda saja dulu Las!' ujar Murni.
"Lho kok ibu berubah?"
"Iya ibu pernah juga dengar kejadian kayak gitu!' Suara Murni cerminkan suatu kecemasan.
"Kejadian apa?'
"Orang dari saksi jadi tersangka," Armen ulang pernyataan dari Murni
"Itu kan orang!" Lastri begitu percaya diri.
__ADS_1
"Sudah Las, kamu pakai pengacara aja!" ujar Murni "nanti ibu yang bayar!"
"Gimana sih ibu ini?" Lastri heran dengan sikap Murni
"Udah, si Armen bener itu!"
"Bener gimana?"
"Men! Udah ada contoh belum?" tanya Murni.
'Ada, kejadian di kantor!" jawab Armen.
Di kantor lama Armen memang ada kisah seperti yang ditakuti Murni. Penyelia yang terkena kasus penyalahgunaan password. Akhirnya Sang Penyelia harus ikut terseret kasus pidana pencurian dana nasabah.
Armen sendiri pernah juga ia diminta jadi saksi kasus penggelapan bukti jaminan. Perselisihan antar ahli waris. Kerja di bidang keuangan memang riskan dengan peristiwa hukum.
Saat Murni berubah menjadi takut, Lastri justru kebalikannya. Ia ingin segera ingin tuntaskan kaitan dirinya dengan peristiwa kematian Yudi. Lastri begitu yakin bahwa tak ada bukti yang dapat kaitkan dirinya. Lastri lupa jika kasus kematian Tosi masih dalam tahap pengembangan penyelidikan pihak kepolisian.
Lastri berada di boncengan motor sport Armen. Telah lama sekali ia tak rasakan naik kendaraan roda dua. Sayang, ia akan pergi ke kantor polisi. Jika tidak Lastri pasti pilih untuk tak kenakan helm pengaman. Ia ingin rasakan langsung hembusan angin menerpa rambutnya dengan kencang.
Tidak banyak halangan yang berarti bagi motor sport itu. Kedua rodanya melindas jalan tanah yang ada di sisi jalan. Armen memang sengaja, lebih enak melintas di jalan tanah ketimbang di atas jalan hasil pengerasan atau biasa disebut onderlagh.
Armen semakin memacu kencang kuda besinya ketika memasuki jalan beraspal. Ia harus bisa antarkan Lastri tiba di ruang satreskrim polres sebelum pukul sebelas siang. Sesuai jadwal Lastri adalah orang ketiga yang akan diperiksa hari itu.
"Heh, nggak jadi apa ke kantor lama?"
"Nanti sajalah!"
"Kenapa harus nanti?"
"Lah, kamu cuma sebentar juga!"
"Kok yakin banget?!"
"Kamu kan nggak tahu kejadiannya, cuma ketiduran aja di sana, ya kan?"
Apa yang dikatakan Armen sangat benar. Karena memang itu sesuai dengan yang ia dengar. Pengakuan Lastri tempo hari saat ditanya aparat kepolisian memang seperti itu. Tapi Armen tidak tahu keterangan dari Lastri nanti akan berubah atau tetap.
Banyak kejadian orang lakukan perubahan kesaksian jika telah berada di depan polisi. Karena itu perlu adanya penasihat hukum untuk turut hadir. Penasihat hukum punya otoritas untuk menjaga keterangan saksi agar tidak berubah-ubah. Jika didasarkan kebiasaan
"Baiknya kamu lapor diri aja dulu!" Armen beri saran pada Lastri.
"Iya juga ya!"
Lastri bergegas ke depan ruangan tempat ia akan diperiksa nanti. Atau lebih tepat jika gunakan diksi dimintai keterangan. Polisi wanita usia muda itu bantu proses lapor diri yang dilakukan Lastri. Setelah menerima dan memeriksa surat panggilan juga KTP milik Lastri tentunya.
Lastri ingat betul siapa pria tua yang baru saja keluar dari ruangan satreskrim. Ya, dia adalah orang yang melihatnya tertidur di atas truk. Pra itu yang bangunkan Lastri dan bertanya tentang kondisi motor milik Yudi. Pria itu juga sempat mencari di mana keberadaan Yudi. Manusia licik yang tega pinjamkan kekasihnya sendiri pada siapa saja, layaknya mainan bekas.
__ADS_1
...☘️☘️☘️ ~~ Bersambung ~~ ☘️☘️☘️...