
Pagi hari yang cerah, secerah hati lathi saat ini. Saat ini ia akan pergi ke pelelangan, walau siang nanti pelelangan mulai, lathi sudah siap-siap sekalian menikmati perjalanan menunggu pelelangan.
"Ge ayo dong, kita harus segera pergi" ucap lathi tak sabar
"sebentar, memang nya ada apa sih dek? kan pelelangan nya dimulai sore nanti" ucap ling an bingung melihat lathi yang pagi-pagi sudah berteriak didepan kediaman nya, padahal dia masih sangat mengantuk.
"kita akan jalan-jalan dulu ge, kita harus menikmati pagi yang cerah" ucap lathi dengan senyum ceria, sangat jarang lathi bisa sebahagia ini hanya karena dia akan berjalan-jalan sebelum ke pelelangan.
"baiklah" pasrah ling an
*
*
*
*
*
Sekarang, lebih tepatnya pasar. Saat ini lathi dan ling an sedang berjalan sesekali mampir dan membeli makanan pinggir jalan seperti tanghulu atau perhiasan dan pernak-pernik lainnya.
__ADS_1
Terik matahari sudah sampai diatas kepala, lathi mengajak gegenya untuk makan siang di rumah makan baru yang terkenal dengan masakannya yang enak.
Lathi penasaran bagaimana rasanya makanan di rumah makan ini, apakah seenak masakan di dunia modern? atau hanya karena lidah mereka saja yang tidak pernah mencoba masakan dengan berbagai rempah dan bumbu masakan.
"selamat datang dirumah makan qin nona dan tuan" sapa penjaga rumah makan di depan pintu masuk
Lathi dan ling an hanya mengangguk, lathi melihat sekeliling ternyata cukup nyaman, rumah makan ini di sediakan dengan 3 lantai. Lantai 1 untuk rakyat biasa, karena makanan dan bayarannya juga pas di kantong rakyat biasa.
Sedangkan di lantai 2 untuk orang-orang yang memiliki koin lebih. bukan hanya karena koin lebih, tentu juga karena dia merasa gengsi makan dengan rakyat biasa. Seperti saudagar kaya, bangsawan dan pejabat-pejabat serta mentri di negara, makanan yang disajikan juga berbeda dan tentu bayaran juga akan naik.
Dan terakhir di lantai 3 adalah untuk anggota keluarga kerajaan seperti kaisar, raja, permaisuri, pangeran serta para putri. Tak lupa jika ada tamu penting akan disediakan di lantai 3 ruangan khusus untuk sang pemilik restoran atau tamu khususnya.
Lathi memilih di lantai 2 karena ingin mencicipi makanan kualitas menengah, maklum lidahnya kurang cocok dengan kualitas rendah. Bukan maksud menghina, hanya saja orang-orang di zaman kuno belum terlalu pintar membuat resep baru dengan bumbu rempah yang melimpah.
"selamat siang tuan dan nona, apa ada yang ingin dipesan?" tanya pelayan yang melihat kedatangan ling an dan lathi
"hmm, berikan aku makanan yang terkenal disini." jawab lathi sambil memandang gegenya
"berikan yang sama juga." ucap ling an saat melihat tatapan tanya lathi
"baiklah, untuk minumannya tuan dan nona?" tanya lagi pelayan
__ADS_1
"apa saja." kali ini yang menjawab ling an
"baiklah, mohon tunggu sebentar. Saya permisi tuan dan nona." dan berlalu pergi menyiapkan makanan yang dipesan
Lathi menunggu dengan damai, tidak ada orang-orang yang mencari masalah lagi dengan lathi, sepertinya mereka benar-benar takut dengan orang yang menjadi pemilik rumah makan qin. Seperti rumor beredar bahwa rumah makan ini memiliki koneksi yang besar di luar seperti dikerajaan tetangga.
"selamat menikmati tuan dan nona" ucap sang pramusaji sambil meletakkan beberapa makanan serta minuman dimeja
Lathi memandang makanan yang tersaji sambil sesekali melirik gegenya, mencoba melihat apakah makanan itu enak atau tidak, saat melihat gegenya ling an makan dengan santai dia menduga mungkin enak saja. Jadi mencoba mencicipi.
Mencium aroma makanan. "tidak ada wangi rempah." komentar lathi, dan mencoba sedikit kuahnya "hambar!" satu kata itu lolos dari mulut lathi.
Dan mencoba bersabar, mungkin dagingnya enak dan empuk walau cuma direbus pikir lathi positif. "what!, ini dibilang makanan terenak? apa-apaan ini? jelas-jelas masakannya sangat hambar, dan dagingnya masih sangat alot. Masakan ku saja masih lebih nikmat walau terasa gosong" gerutu lathi tak henti-hentinya
*
*
*
*
__ADS_1
*