Two Love

Two Love
Tersingkapnya Dusta


__ADS_3

Tersingkapnya Dusta


Bab 1


Langit kembali mendung. Tak ada lagi cahaya. Hanya gelegar petir yang saling menyambar. Kutumpahkan tangisku diantara rintik hujan yang mulai turun. 


        Ini bukan yang pertama kali, rasa sakit yang sama, rasa hancur yang serupa, pernah meluluh-lantakkan hatiku. 


Suamiku kembali berulah, meskipun 6 bulan yang lalu, ia sempat meminta maaf dan berjanjk tak akan mengulangi. 


Rasa sakit itu baru saja sembuh. Namun ia kembali merobek luka yang sama. 


Masih ku ingat dengan sangat jelas, hari itu, saat perselingkuhan mas Iqbal terbongkar di depan mataku sendiri. 


Hari itu, aku yang sudah mencium aroma perselewengan mas Iqbal, memantau terus handphonya secara diam-diam, walaupun tentu aku cukup kesulitan, karena tak sedetikpu.  Suamiku itu, membiarkan gawainya tergeletak. 


Ini hanya sebuah perasaan kuat seorang istri, saat aku sempat melihat nomor dengan foto profil seorang perempuan cantik, berkerudung pink. Aku merasa tak nyaman, meskipun mas Iqbal sudah pernah mengenalkan wanita itu padaku dulu, perempuan bernama Sarah, teman masa kecil mas Iqbal yang memang cantik dan menjanda sejak 2 tahun yang lalu. 

__ADS_1


Benar saja, aku terkejut melihat isi chat mereka. Sebuah percakapan yang tak layak dilakukan dua manusia yang bukan mahram. Ada panggilan sayang, cinta, bahkan ajakan untuk tidur bersama. 


Hatiku seketika panas. Darahku mendidih. Aku meletakkan gawai suamiku yang ia biarkan tergeletak saat ditinggal mandi. 


Mataku berkaca-kaca, air mataku berdesakan ingin keluar dari sarangnya. Namun aku menahan sekuat tenaga, agar aku tidak terlihat lemah. Jika mas Iqbal melihat perubahan sikapku, aku tak akan bisa membongkar perselingkuhannya. 


Mendengar suara ganggang pintu kamar mandi yang diputar, aku bergegas keluar dari kamar. Hatiku belum bisa menahan gejolak api yang membakar dalam hati. Ku tinggalkan gawai suamiku dalam posisi yang sama persis seperti saat aku mengambilnya tadi. 


Di dapur, sambil menuangkan air panas ke dalam cangkir yang sudah ku isi kopi dan gula, air mataku meleleh. Entah apakah mas Iqbal memang memiliki hubungan istimewa dengan wanita itu, atau hanya sekedar gombalan dan candaan seorang lelaki pada janda cantik saja. Namun, hatiku tetap terbakar cemburu. Terluka dan kecewa. Apalagi kulihat, banyak notif panggilan antara mereka, di jam-jam tertentu yang memang tak ada aku di samping suami. Di pagi hari, mungkin di sela pekerjaan mas Iqbal, juga di tengah malam. Mungkin itulah sebabnya, mengapa suamiku begitu sering keluar malam, atau kadang menyendiri di pojok taman, bersama gawainya, hingga larut malam. 


"oh, betapa teganya mas Iqbal padaku, " gumamku lirih. Ku hapus air mata yang mulai membanjiri pipiku. 


Aku melangkah pergi, masuk ke kamar putra kami, Alif. Alifku sudah tertidur pulas, ku cium kening dan pipinya. 


"aku tak boleh suudzon dulu, mas Iqbal memang suka keterlaluan kalau bercanda, tapi, aku tahu, dia suami yang setia. Ayah yang bertanggung jawab. " batinku mengusir keraguan. 


Aku mulai menghidupkan handphone. Mencari satu nama yang selalu menjadi sahabat terbaikku, yang selalu menjadi tempat curhat, dan mencari solusi atas masalah-masalah yang kuhadapi. Kamilah, sahabatku sejak SMA, aku mulai menghubungi nya, menceritakan apa yang baru saja ku ketahui. Air mataku berlinang, merasakan perih dalam hati. 

__ADS_1


Hanya beberapa menit saja, Kamilah membalas chat ku, ia pun tampak sangat terkejut. 


'tidak, tidak. Ini tidak mungkin! Mas Iqbal memang konyol, tapi aku tahu dia pria baik dan tak akan berbuat serong dibelakangmu, Zif, ' begitu balasan nya tak percaya. 


Ku jelaskan secara detail, termasuk perasaanku yang begitu kuat meyakini adanya hal tidak benar dibelakangku. Ini adalah feeling seorang istri, aku tak pernah merasakan ini sebelumnya. 


' baiklah, kalau memang kau merasa ada yang tidak benar pada suamimu itu, pantau saja terus gerak-geriknya, cari kesempatan agar bisa melihat handphonenya. Semoga kecurigaanmu itu tak benar. Hubungi aku jika kau butuh sesuatu, ya. '


Kuhapus percakapan kami. Tak ingin jika nanti mas Iqbal tahu, aku sudah mencium perbuatannya. Aku harus bisa mengumpulkan bukti terlebih dahulu. Agar tak berkesan suudhon, dan benar-benar bisa membongkar perbuatan serong mas Iqbal. 


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, aku kembali ke kamarku sebelum membetulkan selimut Alif. Sebelum pergi ke kamar, aku sempat melihat mas Iqbal yang duduk di sudut kursi taman depan rumah. Kuperhatikan dia dari kejauhan. Sepertinya mas Iqbal sedang asyik melakukan video call, entah dengan siapa. Kecurigaanku semakin kuat. Entah mengapa aku merasa yakin, dia sedang berbicara dengan Sarah. 


Aku memutar tubuh, dan berlalu pergi ke kamar, mematikan lampu ruang tamu dan ruang tengah. Kutumpahkan tangisku di balik bantal. Cemburu bercampur luka menusuk-nusuk hatiku. Bagaimana mas Iqbal bisa menyempatkan waktu berbicara dengan orang lain di luar sana, sedangkan aku istrinya, hanya dibiarkan sendiri di dalam kamar. Bukan hanya sehari ataupun dua hari, hal ini hampir setiap hari dilakukan mas Iqbal. Sebelumnya aku mengira, mas Iqbal hanya jenuh karena sudah bekerja seharian, aku mencoba mengerti jika suamiku itu butuh suasana baru, atau ingin mengobrok dengan temannya. Namun ternyata, mas Iqbal sibuk dengan wanita lain. 


Air mata membuat basah bantalku. Aku melepas sarung bantal dan menggantinya, agar mas Iqbal tak curiga. Aku harus berpura-pura baik-baik saja. Walaupun ledakan demi ledakan dalam hatiku meluluhlantakkan pertahananku sebagai seorang istri. 


Jarum jam terus berputar, terasa sangat lamban bagiku, karena mas Iqbal tak juga datang masuk dan tidur di sampingku. Artinya dia mungkin masih begitu asyik mengobrok dengan Sarah. Janda beranak 4 yang memang jauh lebih cantik daripada aku. Ah, lagi-lagi, hatiku terbakar cemburu, mengingat isi chat suamiku dengannya. Mesrah dan halus sekali. Tak biasanya suamiku bersikap seperti ini. Tentu saja, mengundang curiga hatiku sebagai seorang istri. 

__ADS_1


Ku coba memejamkan mata, setidaknya aku ingin tidur dan sejenak melupakan apa yang kutemukan tadi, namun tak bisa. Aku hanya berpura-pura tidur. 


Mas Iqbal memasuki kamar, tepat di jam 12. Dengan sangat hati-hati ia membaringkab tubuhnya membelakangi aku. Rasanya aku mulai muak sekali. Ingin segera membongkar kebenaran ini. 


__ADS_2