Two Love

Two Love
Menerima Takdir


__ADS_3

         Ku ikuti langkah wanita bertubuh seksi ini. Dia 10 cm lebih tinggi dari aku. Langkahnya cepat namun anggun, bak seorang model. Rambut hitamnya tergerai indah. Aku tahu, wanita ini memang layak dikagumi banyak lelaki, bahkan termasuk suamiku. 


   Sarah mengajakku masuk ke dalam cafe sederhana tak jauh dari sekolah Alif, hanya butuh waktu 15 menit dengan berjalan kaki untuk sampai di cafe ini. 


    Sarah memilih tempat duduk paling ujung. Letaknya cukup strategis jika digunakan untuk mengobrol sesuatu yang bersifat pribadi. Sarah memesan dua minum tanpa bertanya dulu, apa yang ku mau. Mungkin karena sejak tadi aku hanya diam denfan wajah ketus, membuat Sarah enggan berbasa-basi. 


 


"Selama dua hari ini, kami mencarimu," ucap sarah. Aku mendengus. Bagiku Hanya sebuah omong kosong. 


"Hanya sebuah omong kosong! Mas Iqbal tahu di kota ini, aku tak memiliki siapa-siapa, dan tak mungkin aku pulang ke kampung membawa berita duka. Jadi, mas Iqbal pasti akan langsung mencariku di rumah Kamilah, jika dia memang masih menginginkanku, " jawabku ketus. Sarah tertawa ringan. 


" Aku bisa memahami perasaanmu, Nafisah. Tapi, seharusnya kamu tahu. Saat mengejarmu kala kau pergi begitu saja dari rumah, mas Iqbal mengalami kecelakaan. "


       Aku terkejut mendengar kabar yang baru saja disampaikan Sarah. Mas Iqbal kecelakaan? Hatiku seketika dilanda kekhawatiran, bagaimanapun juga, dia adalah suamiku, ayah dari putraku. Namun, aku memilih untuk tetap diam, berpura-pura tak peduli. 


Seorang pelayan mengantar minuman yang dipesan Sarah. Wanita ini langsung meneguknya. Aku masih enggan walau sekedar menyentuh gelas itu. 


"Tapi, syukurlah, hanya sebuah kecelakaan ringan. Ya..., walaupun mas Iqbal tetap harus dirawat di rumah sakit selama satu hari. Aku yang merawat dan menjaganya. " Terang Sarah dengan nada bangga. Dadaku mendadak panas, mungkin terbakar cemburu. Namun itu wajar, aku adalah istri sah mas Iqbal. 


" Mungkin kamu memang sangat terluka mengetahui hubungan kami. Namun, sebelum kamu, kami sudah pernah merasakan sakit hati lebih dulu, " ucap Sarah. Aku diam tak menjawab, menunggu kalimatnya lagi. 


" Aku dan mas Iqbal, dulu sekali, saat masih SMA, adalah sepasang kekasih. Kami begitu saling mencintai, merencanakan banyak hal bersama, bahkan tentang sebuah pernikahan. "


Mata Sarah menerawang, mungkin sedang berlari ke dalam kenangan bertahun-tahun yang lalu. Aku masih memilih diam. 


" Setelah lulus kuliah, Mas Iqbal melamarku. Sayangnya, orangtua mas Iqbal tidak setuju. Mereka menolakku. Mungkin karena aku bukan wanita terpelajar, karena memang waktu itu aku tak melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya. "


Ku beranikan diri menatap wajah ayu perempuan di depanku ini. Ada gurat sedih yang tersimpan di sana. 


" Mas Iqbal sangat kecewa, namun juga tak berani melawan keputusan orangtuanya. Aku tahu, mas Iqbal sosok yang sangat berbakti dan patuh pada orangtua. Ahirnya kami berpisah. Takdir mempertemukan mas Iqbal denganmu, sedangkan aku, menerima pinangan seorang prajurit TNi, yang kuanggap bisa membahagiakanku, dan membuatku lupa akan mas Iqbal. Namun ternyata, justru mengantarkan aku dalam neraka pernikahan. Suami yang sangat kasar dan tempramen. Kekerasan dalam rumah tangga sudah kualami, dan bukan hanya hatiku yang sakit dan terluka, namun fisikku pun tersiksa. "


Sarah menyeka air mata yang mulai menetes di ujung netranya. Aku tak tahu harus merasa iba, atau bagaimana. Mas Iqbal juga pernah menceritakan tentang pernikahan Sarah yang penuh dengan penderitaan. Dulu aku tentu sangat iba dan prihatin, namun entah sekarang aku harus apa. 


"Kau tidak ingin minum? " tanya Sarah padaku. 

__ADS_1


" Aku belum haus, " jawabku singkat. 


" Lalu, apa yang kau inginkan? " giliran aku yang bertanya. Sarah menatapku. 


" Aku tak menginginkan apa-apa, selain kerelaanmu membagi mas Iqbal denganku. "


 Jawaban perempuan ini terdengar tak masuk akal. 


" Jika aku tak mau? " Tanyaku lagi padanya. 


" Maaf, kali ini, aku tidak akan membiarkan mas Iqbal lepas dariku. Aku pernah kehilangan dia. Sekarang, aku tak akan membiarkan takdir memisahkan kami. Karena takdir juga sedikit mendukungku. Aku kembali bertemu dengan mas Iqbal setelah sekian lama, dan ternyata, mas Iqbal masih memiliki cinta yang sama untuk ku, bahkan tidak berkurang sedikitpun meski dia telah memiliki istri dan anak. Dan kau, apakah tidak bisa memberikan kami ruang untuk bahagia? "


Kalimat itu cukup mengusik hatiku. Terasa panas dan sakit. Namun aku tetap berusaha untuk tampak tegar. Tak mau meneteskan air mata di depan perempuan ini. 


" Nanti aku akan menemui mas Iqbal, akan kutanyakan, siapa yang dia pilih. Kau tentu harus ikut dan melihat siapa yang mas Iqbal pilih. Aku akan rela jika mas Iqbal memang lebih memilihmu. Aku akan meninggalkan mas Iqbal," jawabku yakin. 


"Sebenarnya kau tak perlu pergi. Kita bisa sama-sama menjadi istri mas Iqbal. Tentu aku akan sangat menghormatimu sebagai istri pertama mas Iqbal. "


" Tapi aku belum mampu menerima jika harus berbagi suami. "


    ****


         Setelah pulang dari sekolah, kami pun pulang ke rumah mas Iqbal. Sarah iku bersama kami. Aku hany memilih diam, meski berkali-kali Alif menyikut lenganku dan berbisik-bisik menanyakan siapakah perempuan yang ikut bersama kami ini. 


Sesampai di rumah, Alif langsung berlari memeluk ayahnya yang duduk di ruang tamu seorang diri. Kakinya diperban. Naluriku sebagai istri merasa prihatin melihat kondisi mas Iqbal. 


"Ayah...., ayah kenapa? " Alif memberondong mas Iqbal dengan pertanyaan. Bocah itu tampak menghawatirkan ayahnya. 


" Tidak apa-apa, Sayang..., ayah hanya terjatuh saja," jawab mas Iqbal sambil melirikku. 


"Kenapa ayah tidak mengabari kami? Alif juga sangat rindu sama ayah, " Alif mulai berceloteh. Ia memeluk ayahnya, melepas rindu yang tertahan selama dua hari ink. 


" Iya, Sayang..., ayah juga rindu sekali, " timpal mas Iqbal. 


" Alif, ke kamar dulu, gih. Ganti pakaianmu ya, Sayang, " perintahku pada Alif. Anak itu menurut, ia menyeret tasnya masuk ke dalam kamarnya. 

__ADS_1


" Bagaimana kabarmu, Mas? " tanyaku berbasa-basi. Mas Iqbal tersenyum. Sarah duduk tanpa disuruh. 


" Aku baik. Aku sangat senang kau pulang, " ucap mas Iqbal. 


" Tapi aku tidak tahu, apakah akan lama atau tidak di sini, " sambungku lagi. 


" Kenapa begitu? " 


" Karena Sarah memintamu untuk memilih, aku atau dia? " jawabku tegas. Mas Iqbal terdiam. Ia menoleh ke arah Sarah yang duduk santai menatapnya. 


" Nafisah..., kenapa harus memberiku pilihan seperti ini? "


" Ya memang mas Iqbal harus memilih. Karena aku tidak mampu jika harus berbagi suami. Pilihlah di antara kami. Yang mas pilih akan bertahan, dan yang tak terpilih harus pergi. Jangan egois dengan meminta keduanya," ucapku. 


Mas Iqbal menunduk. Lalu membuang napas panjang. 


"Aku menyayangimu, Naf. Tapi aku akui, cintaku untuk Sarah masih sama seperti dulu kala. Aku tidak bisa melupakan perasaanku pada Sarah, dia adalah cinta pertamaku. "


   Sarah tersenyum penuh kemenangan. Hatiku hancur lebur tak bersisa. Jawaban itu jelas menunjukkan, mas Iqbal memilih Sarah. Aku menunduk, mencoba menahan air mata yang berdesakan ingin keluar dari kelopak mataku. Ku seret langkah menuju kamar. Mengemas pakaian dan barangku yang lain. Lalu berganti ke kamar Alif, mengemas barang-barang putraku. 


"Lho, kita mau ke mana, Mik? " tanya Alif keheranan. 


" Kita akan pergi, Nak. "


" Tapi aku masih kangen sama ayah. "


" Kau pilih umi atau ayah? Jika memilih umi, ikutlah dengan umi, jika memilih ayah, Alif bisa tetap di sini. "


Alif nampak bingung. Dia masih terlalu kecil untuk memahami semua ini. 


" Aku sama umi saja, " jawab Alif. Aku memeluknya erat. Hanya bocah kecil ini yang memberiku semangat untuk tetap hidup dan berjuang. 


    ****


  Aku pergi, meninggalkan kisah lama, membuka lembaran baru, tanpa seorang mas Iqbal.

__ADS_1


    Entah, kisah apalagi yang dipersiapkan Allah untukku. Sebagai manusia, aku hanya berpasrah dan berusaha tegar melewati semuanya. 


__ADS_2