Two Love

Two Love
Seorang Sahabat


__ADS_3

Aku mulai belajar mandiri. Benar-benar mandiri.


Kamilah yang awalnya tidak setuju jika aku pergi dari rumahnya pun ahirnya melepaskan.


Aku mencari sebuah kontrakan. Syukur aku masih memiliki sedikit tabungan, kugunakan uang itu untuk menyewa sebuah rumah kecil, namun cukup nyaman.


Aku membeli sebuah mesin jahit baru, Kamilah adalah pelanggan pertamaku. Ia meminta aku memnuatkannya 2 potong baju. lamaran untuk pekerjaan sebagai desainer pun telah terkirim, aku hanya perlu menunggu panggilan saja.


Namun, aku masih bingung dengan Alif. Jika seandainya aku meninggalkan anak ini untuk bekerja, lalu Alif yang masih kecil, harus bersama siapa saat ku tinggal kerja.


Aku belum berpikir sejauh itu, yang terpenting adalah saat ini, aku bisa membahagiakan diriku sendiri dan juga Alif.


"Jika aku sering berkunjung ke sini, bolehkah?" tanya Harun setelah meletakkan koper berisi barang-barangku di kamar.


" Boleh saja," jawabku datar.


"Kau tidak keberatan jika aku menjadi sahabat kalian? " tanya lelaki itu lagi.


" Tentu, mengapa harus keberatan? Kau adalah orang baik, bahkan aku sangat berterima kasih atas kebaikan yang selama ini telah kau berikan pada kami," kali ini aku tersenyum padanya.


Lelaki itu membalas senyumku.

__ADS_1


"Umi, aku lelah sekali, aku mau langsung tidur, ya" anakku berucap. Aku mengangguk.


"Pergilah, Sayang. Kamarmu sudah bersih dan siap di tempati. Tidur yang nyenyak ya, " seru ku padanya.


Rumah kontrakan kami memang sudah bersih, kemarin, aku, masih dibantu Harun, membersihkan rumah ini. Bahkan Harun pula yang mencarikan rumah mungil ini untuk kami. Dia begitu tahu kebutuhan kami, pun bisa menyesuaikan dengan badget kami.


"Rumah ini sangat nyaman. Terimakasih, ya," ucapku pada Harun saat menyajikan kopi hangat untuk nya.


"Tak perlu berterimakasih. Mungkin suatu hari nantk, aku juga akan membutuhkan bantuanmu. "


" Jika kau butuh bantuanku, katakan saja, aku akan sangat dengan senang hati membantu, sebisaku. "


" Iya, Naf. "


Harun terdiama setelah kulontarkan pertanyaan itu, mungkin aku terlalu lancang menanyakan privasinya.


"Ah, maaf. Aku tidak bermaksud ...., "


" tak masalah, " sahut Harun


" Bukan maksudku menutupi kehidupanku. Aku hanya tak ingin membuka luka lama, " lanjut Harun. Aku mengangguk-angguk.

__ADS_1


" Aku juga memiliki masa lalu yang menyedihkan. Kegagalan yang tak ingin aku buka kembali. Dan harus kututup rapat. Agar tidak mempengaruhi masa depanku, " imbuh Harun lagi.


" Oh, seperti itu, ya. "


Ku tatap wajah Harun, gurat kesabaran dan kebijakan terukir di sana. Namun, entah, seperti apa masa lalu yang ingin ia lupakan itu. Aku tak berhak membukanya.


" Jangan menatapku seperti itu!!! Kau bisa jatuh cinta nanti, " godanya padaku. Setelah menyadari aku menatap wajahnya. Aku mencibir.


" Hhhhmm, terlalu percaya diri juga ya, kau. "


" Yaaa, kebanyakan wanita yang menatap wajahku terlalu lama, bisa terpesona. Hahahah. "


Lelaki itu tertawa. Baru kali ini aku melihat tawa itu. Tawa riang yang menampakkan deretan gigi putihnya, membuat Harun tampak terlihat lebih manis.


" Aku pergi dulu saja, ya. Besok pagi, akan aku antar Alif ke sekolah. "


" Ah, apa tidak akan merepotkan? Hampir setiap hari kau melakukan ini pada kami. "


" iya, Karena Non Kamilah juga yang menyuruhku. Kau belum bisa benar-benar mandiri, kan? Nanti belilah motor sendiri, dan bepergian sendiri ke manapun kau inginkan. "


Aku tersenyum mendengar ucapananya. Betul. Aku juga perlu kendaraan yang bisa mengantarkan aku pergi ke mana-mana.

__ADS_1


Harun berjalan gontai, melaju pergi bersama mobil Kamilah.


__ADS_2