Two Love

Two Love
Cinta Yang Baru


__ADS_3

Alif berlari riang ketika melihat ayahnya berdiri di depan pintu gerbang sekolah, melepaskan genggaman tanganku. Alif memeluk erat ayah yang begitu ia rindukan.


"Jagoanku, Sayangku ...., bagaimana kabarmu, Sayang? " Iqbal menggendong putranya, menciumi pipi fan krning bocah itu penuh kerinduan.


Aku hanya diam menyaksikan pemandangan itu. Melipat tangan, bersikap sok tak peduli.


Sayangnya, momen melepas rindu itu harus berhenti setelah terdengar bunyi bel masuk. Alif dengan berat melepaskan pelukannya, lalu masuk ke dalam sekolah.


Mas Iqbal menghampiriku yang berdiri agak jauh dari tempatnya.


"Bagaimana kabarmu, Naf? "


" Alhamdulillah, baik. "


Suasana mendadak hening dan kaku.


" Sekarang kalian tinggak di mana? "


" Di sebuah kontrakan kecil. "


" Ku belikan kalian rumah, Ya. "


" Tak perlu. Insyaallah kami bisa hidup tanpa belas kasihanmu, Mas. "


Iqbal membuang napas berat. Ia mengeluarkan sebuah amplop berwarna cokelat dari tasnya.


" Ini surat perceraian kita, aku sudah selesai mengurusnya. Kau tinggal tanda tangani saja. "


Hatiku tersayat. Surat itu ahirnya harus aku terima.


Masih dengan keraguan, aku menerima amplop itu dengan hati bergetar. Tak pernah terbayangkan, aku akan berpisah dengan lelaki yang telah menikahiku 7 tahun yang lalu. Ayah dari putraku lebih memilih kekasihnya daripada aku.

__ADS_1


Ku tahan air mata yang berdesakan ingin keluar dari kelopak mataku.


"Aku akan menandatanganinya, " ucapku pada Mas Iqbal, lalu memasukkan amplop itu ke dalam tas.


" Ini ATM, untuk biaya sekolah Alif. Kita memang telah berpisah. Tapi Alif tetap tanggung jawabku. Aku tak ingin pendidikannya terganggu. Aku ingin ....., "


" Ya, ya, aku paham. Sudahlah, kau boleh pergi, urusanmu sudah selesai, kan? "tanya ku padanya setelah memutus kalimatnya. Mas Iqbal menganggung. Ia pun berlalu dari hadapanku dan pergi memasukk mobilnya.


Rupanya dalam mobil itu, ada Sarah. Wanita itu tersenyum dan melambaikan tangan, seolah memamerkan kemenangan.


Ku coba menahan gejolak dalam hati. Perih dan luka karena perpisahan ini cukup terasa dalam hatiku. Namun aku harus tetap berpura-pura baik-baik saja.


****


Tangisku pecah setelah sampai di rumah. Tak lagi bisa ku tahan.


Ku tutup pintu kamar, dan menenggelamkan wajah ke dalam bantal. Menangis sepuasnya.


Alif mungkin bingung dengan sikapku, ia hanya bisa diam melihat dukaku yang mulai tampak jelas.


Tok tok tok


Pintu itu diketuk. Aku masih belum bisa berbicara dengan Alif. Anak itu pasti semakin bingung dan syok jika aku tidak membuka pintu.


Namun setrlah ku buka, ternyata bukan Alif yang berdiri di sana, melainkan Harun. Ia membawa segelas teh hangat untukku.


"Alif menelphonku, menggunakan handhphonemu, dia memintaku untuk datang," ucap Harun.


Aku kembali duduk di ranjang tanpa menjawab ucapannya.


Lelaki itu mengikuti, meletakkan gelas berisi teh di atas nakas.

__ADS_1


Entah ini benar atau tidak. Membiarkan lelaki bukan mahrom masuk ke dalam kamar. Dan hanya kami berdua di dalamnya.


Harun meraih tanganku, tentu saja aku cukup terkejut.


"Jangan bersikap lemah. Ceritakan apa yang membuatmu sesedih ini. "


Aku menarik tanganku dari genggamannya.


" Mas Iqbal memberikanku surat cerai," ucapku getir.


Tangisku kembali tumpah. Mendadak Harun menaruh kepalaku dalam pelukannya. Aku bingung harus bagaimana, tapi saat ini aku begitu butuh dukungan dari seseorang.


"Menangislah, sepuasmu. Agar hatimu tenang. Iqbal tidak sadar telah membuang berlian yang sangat berharga, " ucap Harun menghibur dukaku.


Aku yang sadar terisak dalam pelukan Harun segera duduk tegak. Harun menatapku, jemari nya menghapus air mata yang membanjiri pipiku.


Tiba-tiba Harun menyentuh pipiku dengan kedua tangannya.


" Aku akan membuatmu bahagia, aku berjanji. "


Lelaki itu mendaratkan sebuah kecupan di keningku. Mataku terbelalak dan sangat terkejut dengan sikapnya.


" Apa yang kau lakukan Harun? "


" Yah, aku mencintaimu sejak saat itu. Aku yang begitu iba dan tersentuh dengan air mata kesedihanmu. Aku mencintai dan menyayangimu, Naf. "


" Aku baru saja bercerai dan kau ucapkan kata-kata itu? "


" Kenapa? Jika ini adalah kebenarannya. Aku ingin kau sadar dan tahu, kau tak perlu sesedih itu, karena ada aku yang akan menemanimu. "


Aku terhenyak, Harun baru saja mengungkapkan cintanya. Sedangkan aku tak bisa memikirkan hal lain selain luka karena mas Iqbal.

__ADS_1


__ADS_2