Two Love

Two Love
Mengejar Kisah


__ADS_3

      Sebuah chat masuk ke dalam watsapku. Kontak tanpa nama. Namun aku sudah mengira kalau ini adalah pesan dari orang suruhan Kamilah. 


'saya Harun. Bu Kamilah meminta saya untuk menghubungi dan membantu urusan anda. Sekarang posisi sedang ada di mana?'


Kukirimkan balasan secepatnya pada nomer itu. Menjelaskan posisi ku saat ini.


Harun langsung paham di mana aku. 


'siap! Aku segera sampai di sana. '


Ku tutup gawaiku. Lalu duduk di sebuah bangku sebelah gerbang sekolah, hatiku cemas dan gelisah. Berharap agar aku berhasil menangkap basah mas Iqbal. 


Dalam chat mas Iqbal yang kubaca sebelum subuh tadi, aku tahu mas Iqbal akan ke rumah Sarah hari ini. Entah, apakah mas Iqbal sengaja tak masuk kantor atau bagaimana. Yang jelas, ada janji antara mereka. 


Beberapa menit kemudian, sebuah mobil putih berhenti di depanku. Mobil milik Kamilah. Aku sudah sangat hafal. Ternyata karyawan Kamilah ini memang cerdas, ia tahu bahwa akulah perempuan yang ia cari. 


"mbak, kita pergi sekarang? "tanya nya setelah keluar dari mobil dan berdiri tak jauh dariku. Aku mengangguk, lalu berjalan mengikutinya yang membukakan pintu mobil untukku. Lelaki ini terlihat cukup sopan. Namun, aku tetap tak nyaman, karena tak biasa berdua dalam satu mobil dengan lelaki asing. Apalagi kali ini, lelaki ini membantuku membongkar perselingkuhan mas Iqbal. 


"tenanglah, mbak. Aku tidak akan membocorkan rahasia keluarga mbak. Anggaplah aku adalah sahabat yang sudah mbak kenal sejak lama, seperti bu Kamilah, " ucap Harun sambil fokus pada kemudi. Aku mencoba untuk bersikap tenang, mungkin Kamilah sudah menceritakan masalah pada lelaki ini. 

__ADS_1


" aku bukan tipe wanita yang terlalu peduli dengan nama baik. Bagiku, jika memang kita baik, maka nama kita akan dikenal sebagai orang baik. Apa yang mungkin dilakukan suamiku adalah aib yang harus ia tanggung jika memang kebenaran itu diketahui banyak orang,"jawabku. Harun mengangguk - angguk. 


"kita ke mana ini, mbak?"tanya Harun. Ia menoleh ke arahku. Ku sebutkan sebuah alamat. Tempat tinggal Sarah, yang jaraknya cukup jauh. Rupanya Harun cukup hafal daerah Malang, meskipun ia berasal dari luar jawa. 


***


  Cukup lama dalam perjalanan, aku membuang bosan dengan membuka gawai. Kukirimkan pesan pada mas Iqbal. 


'sudah sampai kantor, mas? 'tanyaku. Jam menunjukkan pukul setengah delapan, seharusnya jam segini, mas Iqbal sudah di kantor dan disibukkan dengan pekerjaan. Sebagai ceo, tentu banyak pekerjaan menunggunya. 


' sudah, sayang. Bagaimana tadi? Aman dengan taksinya? Sudah sampai di sekolah, kan?'mas Iqbal membalas pesanku dengan memberondong pertanyaan, seolah ia begitu perhatian.  Entah sekarang dia memang sedang di kantor, atau justru berada di rumah Sarah. 


Aku mengedarkan pandangan. Mencari petunjuk. Harun memarkinkan mobil. Ia menitipkan mobil pada seorang lelaki tua yang rupanya pemilik toko yang halamannya dipinjam Harun untuk parkir mobil. 


Ku pakai cadar yang memang kusiapkan sebagai penyamaran. 


Mataku menangkap satu mobilbyang baru saja datang. Mobil yang sangat ku kenal. Mobil mas Iqbal. 


'oh, ternyata mas Iqbal benar-benar berbohong padaku. Dia bilang sudah ada di kantor, ternyata dia  menuju ke rumah Sarah. ' batinku. Hatiku mulai panas. 

__ADS_1


Mas Iqbal keluar dari mobinya. Berjalan cepat menyusuri lorong gang kecil itu. Aku memperhatikan langkah suamiku dengan hati yang perih menahan cemburu dan kecewa.


 "apa dia suamimu?" tanya Harun. Aku mengangguk. Lalu melangkah cepat mengikuti suamiku. 


"tunggulah sebentar, kau jangan terburu-buru! Kita tunggu beberapa menit, agar benar-benar tahu apa yang dilakukan suamimu di sana, "ucap Harun mencegah langkahku pergi. Aku menurut. Memang benar apa yang ia katakan, jika aku ke sana sekarang, mungkin aku tak akan menemukan apa-apa. 


15 menit kemudian, tak kudapati suamiku muncul dari lorong gang kecil itu. Hatiku sangat curiga, cemburu menggangguku. 


"aku ke sana sekarang, "ucapku pada Harun. Lelaki itu mengangguk. 


" apa aku perlu ikut dibelakangmu? Aku bertanya dulu karena ini adalah urusan rumah tanggamu, mungkin kau tidak nyaman? "tanya nya sebeluma ku melangkah. 


" ikutlah!  mungkin nanti aku perlu bantuanmu, "jawabku sambil melanjutkan langkah. Harun mengikutiku di belakang. Kami begegas menuju sebuah rumah kecil bercat biru muda. Rumah Sarah. Pintu rumah itu tertutup. Perlahan aku lebih mendekat ke sana. Ku dengar sebuah percakapan di dalam rumah itu. Rumah kecil tanpa teras ataupun pagar. Rumah yang sangat sederhana. Memang ku tahu dari cerita mas Iqbal, Sarah adalah janda miskin yang harus berjuang keras demi hidup anak-anaknya. 


Harun siap siaga di belakangku seperti seorang body guard. 


Aku masih mematung luar. Tepat di depan pintu. Ku dengar tawa dan suara mas Iqbal. Jika memang tak  ada hubungan gelap, mengapa pintu rumah harus tertutup seperti ini? Aku semakin yakin dengan kecurigaanku. Kuberanikan diri memutar gagang pintu. Sukurlah tak terkunci. Suara itu tak terdengar lagi, entah apa yang sekarang mereka lakukan di dalam. 


Ruang tamu itu kosong. Kini hanya terdengar suara televisi di ruang tengah. Aku masuk, walau tanpa permisi. Biar saja aku bersikap lancang. Toh suamiku ada di dalam.

__ADS_1


  Betapa terkejutnya aku, saat melihat mas Iqbal dan Sarah di sana. Aku memejamkan mata. Mereka masih belum menyadari kehadiranku yang melihat dengan jelas perbuatan mereka. Hatiku seketika panas. Emosi berdesakan ingin keluar dan terlampiaskan. 


__ADS_2