
"Kau pikir sebuah hubungan itu segampang apa, Run? Lihat! Bahkan surat perceraian saja belum ku tanda tangani, dan kau sudah mengucapkan kalimat cinta? Apa ini bukan sebuah keegoisan?"
"Apa kau tidak bisa melihat maksudku, Naf? Aku tidak memintamu untuk mencintaiku, aku hanya ingin kau tahu, bahwa di dunia ini, kau tak perlu menangisi mantan suamimu lagi, karena ada aku yang mencintaimu lebih baik daripada dia. "
" Sudahlah! Aku tidak ingin membicarakan apapun lagi! Biarkan aku istirahat dan jangan lagi kau bersikap sok peduli denganku. "
Aku membanting pintu kamar setelah Harun keluar. Tak kubayangkan sebelumnya, mengapa lelaki ini begitu mudah mengartikan sebuah cinta? Lagipula aku tidak ingin membahas tentang cinta, atau apapun juga. Aku hanya ingin fokus pada masa depan Alif.
Putraku sudah tidur, hatinya pasti sedang gelisah, melihat sikapku yang lemah.
Ku cium keningnya, bocahku menggeliat, aku kembali membetulkan selimutnya yang melorot.
Tiba-tiba, wajah Harun kembali hadir. Dan ucapan-ucapan nya tentang cinta menggema di telingaku. Membuat hatiku sesak saja.
Ku buka kembali amplop berisi surat perceraian yang belum kutanda tangani. Entah aku menunggu apa dan siapa, segalanya telah berakhir. Dan endingnya memang menyedihkan.
Kenangan tentang Mas Iqbal juga menari-nari, kami pernah bersama, bahagia, berjuang dalam segala hal. Namun segalanya telah berakhir. Benar-benar berakhir, seperti mimpi yang harus terputus karena terbangun dari tidur yang panjang.
Segera ku ambil bolpoint, dan membubuhkan tanda tangan di kertas itu. Tuntas, semuanya selesai.
Kembali kulipat kertas itu, dan memasukkannya ke amplop, lalu menyimpannya dalam laci.
Baju Kamilah yang menggantung di hanger, menunggu untuk segera ku selesaikan. Hanya tinggal sedikit saja.
__ADS_1
Setelah ini, aku akan menyiapkan contoh pola yang akan ku bawa ke butik Dahlia, perusahaan fashion yang menerima sebagai anggota mereka.
Gambar-gambar baju desainanku juga sudah rapi. Aku kembali membuka-buka bukuku. Berharap akan disukai owner butik Dahlia. Agar bisa membuktikan kualitas pekerjaannku.
'Naf, maafkan aku .... '
Sebuah pesan dari Harun masuk ke dalam whatsap ku.
Setelah membuka, aku merasa malas untuk membalas. Namun, teringat dengan jelas semua kebaikan yang pernah ia lakukan pada kami, tak adil jika aku harus begitu marah padanya.
' iya, tidak masalah. Kita tetap sahanta yang sangat baik. '
Kukirimkan balasan. Lalu kembali meletakkan ponsel di atas nakas.
****
Satu bulan terasa begitu cepat. Aku menerima kebebasanku dari menjadi istribmas Iqbal.
Tak ada lagi sisa cinta ataupun rasa lainnya. Usaha untuk melupakan mantan suamiku itu pun berhasil. Kesibukan menghibur hari-hariku.
Namun pandangan dan cemoohan tetangga justru membuat aku kepikiran. Menjadi janda, tak semudah yang dibayangkan. Prasangka buruk dari berbagai arah, lebih sulit terlewati dari sekedar menjadi single parents.
'Setiap hari pulang malam. Lalu anaknya dititipkan pada lelaki yang bukan siapa-siapanya, coba bayangkan! Pasti mereka ada apa-apanya, '
__ADS_1
Bahkan terkadang cemoohan itu terdengar langsung ditelingaku. Setiap hari ku kumpulkan keberanian untuk melewati godaan para lelaki hidung belang, bapak-bapak mata keranjang. Yang kerap melontarkan siulan diringi kalimat kalimat tak senonoh.
"Kadang aku ingin pindah saja dari sini. "
" Masih karena lingkungan? " tanya Harun.
Dia masih menjadi sahabatku. Dia sudah tidak pernah lagi menyinggung tentang perasaannya.
" iya, berada di sini merasa sesak setiap harinya. "
" Apakah harus kucarikan kontrakan lain? Tapi kita sudah membayar kontrakanmu ini untuk waktu satu tahun. Sayang jika harus pindah, membuang uang namanya. "
Saran Harun bagiku selalu masuk akal, dan sesuai dengan keinginanku.
" Bersabarlah sebentar, setelah satu tahun, barulah kau pindah kontrakan lagi. "
" Siapa tahu aku juga bisa beli rumah sendiri, Kan, hahahah. "
" Amin. Semoga. Aku juga sudah membeli sebuah rumah, meskipun masih menyicil. Sementara tidak kutempati, jadi, kalian bisa main-main ke sana jika sedang suntuk," ucap Harun.
Aku ikit girang mendengar kabar itu.
"Wah, sepertinya menyenangkan. Ahirnya kau juga punya rumah sendiri, meskipun di sini hanya merantau. "
__ADS_1
Harun tersenyum.