Two Love

Two Love
Memulai Asa


__ADS_3

   "pertama, maafkan apa yang sudah dilakukan suamimu. Memaafkan memang sangat sulit, tapi, itu adalah gerbang utama agar kau bisa melangkah maju," ucap Kamilah. 


      Dua hari ini, aku menginap di rumah Kamilah. Mencoba mencari ketenangan dalam kesendirian. Memilih rumah Kamilah, selain karena lebih dekat, aku pun tak ingin menjadi beban keluarga jika pulang ke rumah orang tua di kampun. Mereka tak boleh tahu tentang dukaku. Karena aku tahu, dukaku adalah juga duka orang tuaku. 


     Kamilah memberiku kebebasan di rumah ini. Hingga terasa seperti berada di rumah sendiri. Tenang dan nyaman. 


   Alif pun sama. Dia kerasan dan tampak senang. Atau mungkin dia hanya berpura-pura. Aku masih belum bisa membaca hati anakku. Kali ini, Alif tidak mengeluh, walau aku mengajaknya berencana untuk menginap lebih lama di sini. Seolah putraku itu tahu, apa yang sedang dialami uminya. 


  Alif pun terhibur dengan kedatangan Harun. Lelaki itu selalu menyempatkan diri untuk sekedar bermain dengan Alif. Mungkin ia merasa iba dengan kondisiku sekarang, yang belum bisa menerima kenyataan tentang kebenaran suamiku. 


  Entah seperti apa sekarang keadaan mas Iqbal. Nomernya sudah ku blokir, agar tak lagi bisa menghubungiku sementara waktu. 


  "saat ini, aku masih belum bisa memaafkan mas Iqbal, Mil. Penghianatannya begitu menyakitkan," seruku pada Kamilah. Sahabatku itu masih duduk di shofa sambil berkutat dengan laptopnya. 


  "yah. Memang tak akan mudah. Tapi jika kau bisa memaafkan Iqbal, kau bisa mendamaikan hatimu sendiri." 


Aku merenung. Mencerna nasihat Kamilah. 


"ingatlah apa yang pernah kalian lewati bersama. Bukankah selama ini, kau pun sempat merasakan banyak bahagia bersamanya? "


 Lanjut Kamilah. 

__ADS_1


Apa yang dia katakan memang benar. Namun, tentu ini tak akan mudah. Butuh waktu untuk kembali membuka hati. Kamilah menutup laptopnya, kini ia duduk di sampingku yang berbaring santai di atas kasur. 


"lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Kau tetap mempertahankan suamimu, kan? "tanya Kamilah. 


" entahlah, " jawabku singkat. 


" jangan putus asa dulu. Cobalah untuk tetap bertahan, " saran Kamilah. 


" artinya, aku akan membagi suamiku dengan wanita lain? Bersikap biasa, tanpa boleh cemburu ataupun sakit hati? " tanya ku dengan nada protes, lebih tepat lagi tak terima dengan saran Kamilah. 


" kau masih mencintainya, kan? Dan, pikirkan tentang Alif, kasihan dia. Dengan merelakan semuanya, suami dan perempuan itu akan lebih menghormati mu. Percayalah. "


" aku bukan orang yang sangat religius, bahkan lebih religius kamu, Zif. Tapi, benarkah ada surga untuk mu jika bisa bersabar? Cobalah untuk menjalani ini dulu. Seminggu, dua minggu. Sebulan, atau dua bulan. Jika kau benar-benar tidak mampu. Maka, lakukan apapun yang menurut mu lebih baik dan bisa membuatmu nyaman. "


  Kamilah menepuk-nepuk pundakku. Mungkin memang benar, saran dari sahabatku itu. Akan ku coba menjalani. Demi putraku Alif. 


***


    Hari ini aku mulai mengantarkan Alif kembali ke sekolah. Keputusanku adalah, tetap menjalani garis takdir yang diberikan Allah padaku. Tentu saja, aku tak memiliki kuasa untuk menolaknya. Jika mas Iqbal, memintaku untuk tetap menjadi istrinya, maka aku akan mencoba dan berusaha menjalaninya. Namun, jika mas Iqbal memang sudah tak mencintaiku dan merelakan aku pergi, maka mungkin memang seperti itu takdirku. 


   Kali ini, Harun mengantarkan kami. Lelaki ini mendadak menjadi sangat akrab, seolah dia berusaha menjadi sahabat kami. Apalagi pada Alif, lelaki berdarah medan itu sangat peduli dan menyayangi putraku. 

__ADS_1


  Aku sempat bertanya pada Kamilah, apakah Harun memang mudah akrab dan peduli pada setiap orang, dan ternyata lelaki ini memang mudah menaruh simpati pada orang yang menurutnya baik dan tertindas, hampir seperti aku lah. 


  Harun menepikan mobil, kemudian aku dan Alif turun. Kami tersenyum dan melambaikan tangan pada Harun yang mulai berlalu dari hadapan kami. 


Aku menggenggam tangan Alif, melangkah masuk ke dalam sekolah. 


Tiba-tiba seorang wanita cantik muncul, ia memanggil namaku dari jauh. 


"Nafisah, tunggu! " teriak perempuan itu, menghentikan langkahku. 


Setelah wanita berpenampilan modis, dengan rambut tergerai indah itu berdiri tepat di hadapanku, barulah aku tahu, perempuan ini adalah Sarah. Simpanan suamiku.


  Wanita cantik dengan dua lesung pipi itu tersenyum padaku. Alif menarik tanganku, mengajakku beranjak dari tempat kami berdiri, tak peduli dengan kedatangan perempuan ini. Tentu putraku belum memahami, siapa wanita yang berdiri di depan kami. 


  Aku mengangguk pada Alif, memberi isyarat pada bocah itu, agar masuk ke dalam sekolah sendiri, karena aku mungkin masih perlu berbicara dengan wanita bertubuh seksi ini. 


 Alif pun mengerti. Ia masuk sendiri, tanpa perlu ku temani. Ia mencium punggung telapak tanganku dan mencium pipiku, sebelum berlalu. Kalimat salam tak pernah lupa ia ucapkan sebelum pergi. Ku jawab dengan suara lembut dan senyum tulus penuh kasih sayang. 


Kini, mataku menatap lurus ke wajah perempuan ini. Perempuan yang dengan lancang, mencuri tempatku sebagai seorang istri. 


"bisa kita bicara sebentar? " tanyanya padaku. Hanya ku jawab anggukan pelan. Aku mengikuti langkahnya pergi, dengan perasaan aneh, penuh tanda tanya. 

__ADS_1


__ADS_2