
Tidak akan mudah bagi seorang wanita, untuk menata hatinya yang hancur. Namun juga tidak mustahil bagi seorang wanita untuk tetap bersabar dan bertahan dengan melupakan semua kekecewaannya.
Alif berlari memelukku, setelah melihat ibunya ini muncul dari balik pintu gerbang. Rupanya, putraku sudah menanti sejak tadi. Bu Eni pun ikut menemani Alif, meskipun sudah waktunya untuk pulang.
"siapa dia, mi? " tanya Alif saat melihat Harun yang juga datang bersamaku.
" kenalin, sayang. Ini om Harun. Teman umi, " ucapku memperkenalkan Harun. Lelaki di sampingku tersenyum pada Alif.
" hai jagoan. Kelas berapa? " Harun berbasa-basi menyapa Alif.
" masih Tk, om, " jawab Alif.
Bu Eni mendekati kami.
" baiklah, bu. Saya permisi pulang lebih dulu, " pamit guru cantik itu.
" oh, iya, bu Eni. Terimakasih, sudah menjaga Alif dengan sangat baik. Maaf sudah sangat merepotkan. Karena menemani Alif, waktu pulang bu Ani jadi terlambat, " seruku. Yang begitu sungkan pada bu Eni. Seharusnya guru Alif ini sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Tapi terlmbat hanya demi menemani putraku.
" iya, bu. Tidak apa-apa. Saya senang bisa membantu bu Nafisah. Saya pamit, ya. Assalamualaikum. "
" Waalaikumsalam, "
Aku dan Harun berbarengan menjawab salam bu Eni. Guru itu pun pergi, bersama motor yang selalu menjadi kaki yang siap mengantarnya.
"sekarang? Ku antar kau pulang ke rumahmu, atau ke rumah Bu Kamilah?" tanya Harun. Aku berpikir sejenak. Memikirkan bagaimana nasib Alif, entah dia akan nyaman atau tidak di rumah Kamilah nanti. Alif tak biasa ku ajak menginap di tempat asing, dia bukan tipe anak yang betah di tempat asing.
__ADS_1
[16/9 11.18] Masruroh: "ke rumahku saja." jawabku datar. Harun menurut, ia berjalan cepat ke parkiran mobil. Aku dan Alif mengikutinya di belakang.
Mendung di hatiku, masih belum mau pergi. Teringat dengan jelas apa yang mereka lakukan tadi. Entah bagaimana caraku menghadapinya nanti. Masihkah aku bisa menahan amarah dan emosi di depan suamiku nanti?
Harun mulai melajukan mobilnya. Aku membuang pandang ke luar sana. Alif diam, asyik memainkan mainan robot yang ia beli di sekolah tadi.
"rumahnya om Harun, di mana? " tiba-tiba Alif bersuara. Memecah keheningan di dalam mobil. Harun tersenyum mendengar pertanyaan Alif.
" sebenarnya rumah om Harun di Medan, Sumatera Utara. Tapi, om dapat tawaran pekerjaan di Surabaya. Jadi, ya, om menetap di Surabaya," jawab Harun. Alif mengangguk-angguk padahal mungkin dia kurang paham jawaban Harun.
"kapan-kapan, ajaklah anak om ke rumah. Biar bisa bermain dengan ku nanti, " seru Alif. Harun tak menjawab. Hanya tersenyum simpul.
Aku hanya mendengar obrolan kecil mereka. Belum berminat ikut bergabung lebih jauh. Hatiku masih dipenuhi luka. Seolah tak lagi ada harapan di depan sana. Entah, apakah aku bisa memaafkan, atau berhenti berjuang melanjutkan hubungan pernikahan, yang sudah kami bangun 8 tahun lamanya.
****
Langkahku gontai memasuki rumah. Tak ada semangat sama sekali. Ingin rasanya aku pergi, menyendiri, menenangkan hati. Namun, menjadi seorang ibu, tak akan mudah meninggalkan begitu saja putranya. Aku tetap memikirkan Alif. Anak ini tak boleh menjadi korban atas kejadian ini. Entah jalan mana yang harus ku ambil. Haruskah aku bertahan.
Teringat satu pesan ibuku sebelum menikah dengan mas Iqbal. 'menjadi seorang istri, harus siap menjadi tempat sampah suami. Lihatlah tempat sampah itu, menampung apapun yang dilempar ke arahnya'
Setelah mengganti baju seragam Alif dengan baju santai, aku merebahkan tubuh di atas kasur. Kepala terasa berat. Air mataku sesekali menetes, namun segera ku hapus, agar Alif tak sempat melihat air mata dan kesedihanku.
Suara mobil mas Iqbal terdengar, rupanya dia sudah pulang.
Beberapa menit kemudian, mas Iqbal masuk ke dalam kamar. Ia duduk di sampingku. Dia pasti ingin membahas apa yang terjadi hari ini. Aku merasa malas, tak berminat mendengar penjelasannya sama sekali.
__ADS_1
"Nafisah..., maafkan aku, " ucap mas Iqbal. Entah apakah aku bisa memaafkannya atau tidak.
" mas, kalian berzina! " seruku.
" dia sudah menjadi istriku, Naf. Kami menikah secara sirri, " lanjut mas Iqbal. Hatiku seketika remuk. Meski sudah kuduga sebelumnya, bahwa mereka mungkin sudah menikah secara diam-diam, hingga mas Iqbal berani berhubungan badan dengan wanita itu. Namun kenyataan, yang diucapkan langsung oleh mulut mas Iqbal tetaplah sangat menyakitkan.
"kenapa, mas? Kenapa kau.., begitu tega? " tanya ku. Suaraku getir. Lidahku mendadak kaku.
" dia adalah kekasih pertamaku. Aku sangat mencintainya. Dia pun begitu. Setelah berpisah begitu lama, takdir mempertemukan kami. Cinta kami kembali tumbuh. Kami tak bisa mengendalikan perasaan kami, yang memang sudah ada sejak lama. "
Hatiku kembali tertampar. Kenyataan ini begitu pahit. Cinta? Suamiku sangat mencintainya? Lalu padaku?
“kau sangat mencintainya, mas? Lalu padaku?"
"aku juga mencintaimu, Naf. Bahkan Sarah pun sangat menghormati mu. Karena itulah, kami menikah secara sirri. Diam-diam. Dia tak menginginkan apa-apa. Baginya memiliki kesempatan untuk ikut memilikiku adalah sebuah keberuntungan, " ucap Mas Iqbal.
" baik, baik. Lanjutkan saja. Dan biarkan aku pergi sendiri, " seruku.
" apa maksudmu, Naf? "
" ya.. Aku akan pergi. Kita bisa bercerai, kan? "
" tidak! Aku tidak akan menceraikanmu. "
" egois sekali kau, mas? Terserah apa yang ingin mas lakukan. Tak bercerai pun tak apa. Tapi aku ingin pergi. Biarkan aku pergi. Berikan aku waktu untuk sendiri! "
__ADS_1
Itulah keputusanku. Pergi beberapa waktu, mungkin akan bisa mengobati lukaku. Walau sementara.