
Aku masih belum bisa benar-benar sembuh dari rasa sakit dan sedih. Namun aku harus memulai kehidupan yang baru.
Selama satu minggu, aku menginap di rumah Kamilah. Sahabtku itu, menawarkan untuk tetap tinggal di rumahnya, namun entah, apakah harus ku terima, ataukah tidak?.
Kamilah belum memiliki asisten rumah tangga, pembatu rumah yang sebelumnya pamit untuk cuti karena akan melahirkan, dan pulang kampung. jadi selama ini, akulah yang mengerjakan semua tugas rumah. Memasak, mencuci piring, membersihkan rumah, juga mencuci baju Kamilah.
Ku beranikan diri untuk melamar menjadi pembantu di sini. Setidaknya mungkin untuk sementara, demi untuk menyambung hidup yang sudah terlepas dari tanggung jawab mas Iqbal.
"Aku akan mencarikanmu pekerjaan yang lebih baik, Naf. Tapi, aku butuh sedikit waktu. Bersabar, ya, "
Seperti itu jawabnya kala aku menawarkan diri. Aku tahu, sahabatku itu pasti akan merasa tak enak jika aku menjadi pembantunya. Apalagi, aku cukup memiliki pendidikan dan ijazah yang mungkin bisa kubuat mencari pekerjaan yang lebih baik lagi.
" Sebenarnya aku tidak mempermasalahkan pekerjaanku, Mil. Menjadi seorang pembantu, bukan pekerjaan yang buruk. Aku tidak keberatan, " ucapku.
" Iya ..., bukan seperti itu, maksudnya, aku sebagai sahabatmu pun ingin, agar kau menjadi wanita yang lebih sukses lagi, supaya bisa membuktikan pada mantan suamimu kalau adalah wanita yang istimewa dan tak pantas dicampakan, " jawab Kamilah. Aku termenung dan membenarkan pendapatnya dalam hati.
" kau seorang desainer, dulu, sebelum menikah, kau sudah memiliki butik yang cukup berkembang dan maju. Menurutku, kau harus memulainya kembali, atau bisa bergabung bersama perusahaan baju ternama, aku punya banyak kenalan, karena aku salah satu suplier kain. Bagaimana? Kau mau? "
__ADS_1
Sebuah ide yang sangat bagus. Aku bukan hanya akan bekerja, tapi juga bekerja dalam bidang yang ku senangi. Tentu saja aku sangat mau.
" Wah, aku suka ini, Mil. Terimakasih ya sahabatku."
Ku peluk perempuan ini. Satu-satunya teman yang mendukungku di saat aku benar-benar jatuh.
Aku belum memberi kabar keluarga di kampung tentang perceraianku. Kabar ini pasti akan sangat melukai mereka. Butuh waktu dan cara untuk menjelaskan semuanya, apalagi pada ibu dan bapak.
Alif semakin memahami keadaanku, entah seperti apa perasaannya. Jagoanku itu, tidak lagi seceriah dulu. Tentu saja, seorang anak pun akan sangat terluka melihat orangtuanya berpisah. Namun anak sekecil Alif, belum bisa mengungkapkan rasa sedihnya. Dia hanya sering diam termenung.
****
Harun kembali datang di sore hari, membawa warna dalam diri Alif. Anak itu mrngangguk cepat. Wajahnya berseri.
" Kali ini, aku mau sama ibu juga. Aku tidak mau ibu sendirian di rumah, " pinta Alif, anak itu menatap ku yang duduk di ruang tamu. Aku menoleh ke arah Harun, dia juga melihatku. Selama ini, aku memang selu menolak untuk pergi bersama mereka, rasanya begitu canggung jika harus berjalan-jalan bersama lelaki bukan mahromku.
" Tapi...., "
" Kalau ibu tidak mau pergi, baiklah tidak usah pergi. Aku mau tidur saja, " sahut Alif memotong kalimatku.
__ADS_1
" Baiklah, aku ikut, " jawabku lirih. Alif semakin girang, ia melompat senang. Entah apa keinginan Alif. Mungkin, anak itu pun berharap aku mendapat hiburan di luar sana. Melupakan kesedihan yang ku pikul sorang diri. Harun tersenyum dan mengangguk padaku. Lelaki ini, mendadak menjadi sahabat kami.
***
Mobil perusahaan yang dibawa Harun melaju pelan, ke alun-alun kota.
Suasana malam itu cukup ramai. Meski hawa dingin cukup mengganggu.
Aku duduk di bangku, di bawah sebuah lampu hias. Alif berlarian ke sana ke mari, melepaskan penatnya.
Harun ikut duduk di sampingku.
"Kau harus sering berpura-pura bahagia, demi kebahagiaan anakmu. Karena, jika tidak, kesedihan itu akan membekas dalam dirinya sampai dewasa nanti, " ucap Harun membuka obrolan.
" Aku tidak tahu bagaimana cara berpura-pura bahagia. Dan aku yakin, Alifku akan menjadi anak yang riang sampai dewasa nanti. Dia akan bahagia dan baik-baik saja. "
" Itu adalah pendapatmu, karena kau berada di tengah orang tua yang harmonis. Tapi, aku adalah saksi, betapa luka akan perpisahan orangtua adalah sebuah konsekuensi yang harus aku tanggung sampai detik ini. Aku juga korban dari perpisahan ayah dan ibuku dulu sekali, saat aku lasih kecil, seusia dengan Alif. Itulah kenapa, aku merasa begitu prihatin pada anak itu. "
Kini aku memahami, mengapa Harun bersikap sangat manis pada Alif, ternyata mereka memilikk riwayat luka yang sama.
__ADS_1