Two Love

Two Love
Menahan Duka


__ADS_3

Bab 3


   Mas Iqbal merasa heran denganku pagi ini. Tak ada sarapan. Tak ada kopi tersaji. 


"enggak masak, mi? "tanyanya padaku yang sudah siap berangkat ke warung mbok Yem bersama Alif. 


" maaf, aku sedang kurang enak badan. Kami mau sarapan soto daging di warung mbok Yem, " jawabku datar tanpa menoleh ke arah mas Iqbal. 


" terus aku? "tanyanya, 


" bungkus untukku, ya, " lanjut mas Iqbal. Ia duduk di kursi meja makan. Membuka gawainya. Lalu menutup mulutnya yang menguap dengan punggung telapak tangan. 


" Insyaallah, " ku jawab datar. Alif menggandeng tangan, mengajak ku segera pergi. 


" kok Insyaallah, sih. Ya harus dong. Aku mau dikasih sarapan apa? " Sahut mas Iqbal. Sepertinya dia kesal denganku yang memang mulai cuek. Aku mengangguk lalu ngeloyor pergi. 


     Mas Iqbal membuka handphone nya, hatiku merasa curiga. Teringat chat mereka. Hatiku terbakar luka. 


***


    Alif begitu lahap memakan sotonya. Sedangkan aku, hanya menemani putraku itu. Selera makanku hilang. Hatiku gelisah dan tak tenang. Betapa ingin kulampiaskan amarah dan kecewa ini. Namun, entah mengapa, aku ingin membuka kebenaran ini di depan mataku sendiri. 


   Ku pesan satu porsi soto untuk mas Iqbal. Lalu membawa dan menghidangkan soto itu pada mas Iqbal.

__ADS_1


   Alif bersiap diri berangkat ke sekolah. Aku membantunya mandi, menyiapkan seragam dan perlengkapan sekolahnya. 


  Mas Iqbal nampak sedikit heran karena aku terkesan menghindarinya. Memang sengaja kulakukan itu. Agar emosiku tidak keluar saat berhadapan dengan mas Iqbal. 


"kau tidak membuatkanku sarapan. Kau juga tidak menyiapkan baju kantorku. Aneh sekali kau pagi ini, "seru mas Iqbal. Aku hanya diam. Suamiku menyiapkan kebutuhannya sendiri. Aku masih cuek dan membatasi diri. Sebenarnya aku sudah merasa muak. Ingin sekali aku meluapkan amarah yang tertindih dalam hati. 


  Mas Iqbal menyadari aku sedang marah. Ia menghampiri lalu menyentuh pundakku. 


"kau kenapa, sih, sayang..? Marah? Tak biasanya kau cuek dan dingin seperti ini, " tanya Mas Iqbal. Ia mencoba mengecup pipiku, namun aku menghindari. Aku merasa tak nyaman lagi didekatnya. Bayangan wajah perempuan bernama Sarah itu seolah mengikuti, menari dihadapanku. Muak sekali. 


" aku hanya sedang tak enak badan. Itu saja. Aku mau mengantar Alif dulu. Apa mas langsung ke kantor? Dan pulang malam lagi? "tanya ku pada mas Iqbal. Ia sibuk mencari bajunya. Hal yang belum pernah ia lakukan semenjak kami menikah. Memang aku selalu menyiapkan kebutuhannya sebelum mas Iqbal bertanya dan meminta. 


" ya, iyalah. Kalau nggak langsung ke kantor, mau ke mana lagi? Dan, ya.., kali ini aku masih harus pulang malam. Kemarin ada jadwal rapat dengan atasan yang tertunda. "


  Aku tahu ini hanya alasannya saja. Hatiku sudah kehilangan kepercayaan. Entah benar atau hanya kebohongan saja, bagiku kini keduanya hanya sebatas benang tipis saja.


  Kugandeng lengan Alif. Putraku mengikuti langkahku yang terburu-buru. 


 Di depan gerbang rumah, sudah ada taksi yang menunggu kami. 


"mi! "panggil mas Iqbal, aku urung membuka pintu taksi. Mas Iqbal berlari ke arah kami. 


" kau yakin berangkat sama taksi? Aku bisa mengantar kalian kok, ini kan masih jam setengah tujuh, jam masuk Alif masih satu jam lagi. " Cegah mas Iqbal. Sepertinya ia mulai mencium kecurigaanku. 

__ADS_1


" sayang.., tidak apa-apa, kok. Kebetulan ada yang mau aku beli di toko buku, beberapa keperluan sekolah Alif. Makanya aku sengaja berangkat lebih awal, dan kupikir, aku tak mau merepotkan mas Iqbal, takut nanti bisa terlambat ke kantor, "jawabku. Berusaha menutupi dengan mengarang kegiatan yang sebenarnya tak kujadwalkan. Tak ingin jika mas Iqbal tahu aku sudah mengetahui hubungannya dengan Sarah. 


" oh, ya sudah. Bagus kalau begitu. Kau istri yang pintar dan cerdas, "puji mas Iqbal. Aku tersenyum. Alif mengangkat jempol dan tertawa. Mas Iqbal mencium pipi putra kami, lalu mengacak gemas rambut tebalnya. 


Ku buka pintu taksi, lalu masuk dan duduk bersampingan dengan Alif. Putraku melambaikan tangan ke ayahnya yang masih berdiri di depan gerbang rumah, memandang kami yang berlalu bersama mobil taksi ini. 


***


"kata umi, kita ke toko buku dulu? Kok langsung ke sekolah? "tanya Alif terheran,  karena kami langsung turun di depan gerbang sekolah. 


" tidak apa-apa, sayang. Maaf, umi berbohong. Umi sedang ada urusan. Mungkin nanti umi telat jemput Alif, tapi jangan hawatir, ya. Umi sudah bilang sama bu Eni, guru Alif, agar nanti menjaga Alif sebentar. Yuk, kita temui bu Eni," ajakku pada Alif yang masih kebingungan. Masih ku gamit lengan putraku, ia mengikuti langkahku menuju kantor sekolah. Bu Eni dan beberapa guru lain sudah di sana. Memang sudah biasa, para guru di sekolah ini datang satu jam lebih awal dari jam masuk anak-anak, untuk menyiapkan tugas-tugas anak didik mereka. 


"Assalamu'alaikum, bu," ucapku sambil mengetuk pintu. Para guru menoleh ke arahku, bu Eni tersenyumnya. Ia paham maksud kedatanganku, karena memang sudah ku beri tahu lewat chat sebelumnya. 


"oh, bu Nafisah, mari, bu.., silakan masuk,"sambut bu Eni ramah pada kami. Aku dan Alif masuk ke ruangan itu. Alif mencium takdim punggung tangan gurunya. 


Aku dan Alif duduk di sofa. Bu Eni menghampiri kami setelah menyelesaikan pekerjaannya. 


"bu, saya mohon sedikit bantuan ibu. Nanti setelah jam sekolah usai, jika saya belum datang menjemput, jagalah Alif. Saya sedang ada urusan yang sangat penting, dan tidak punya sanak saudara yang bisa kutitipi Alif. Bukankah bu Eni pulang satu jam setelah jam sekolah usai? "punyaku pada guru muda berwajah manis ini. 


" iya, bu. Tidak usah hawatir, ya. Insyaallah saya akan menjaga Alif dengan baik. Selesaikan urusan bu Nafisah dengan baik, dan jangan hawatirkan Alif. "


Bu Eni tersenyum ramah. Aku merasa lebih tenang. Kupeluk Alif,putraku itu mengangguk, seolah memberi jawaban bahwa dia akan baik-baik saja bersama gurunya. 

__ADS_1


Aku melangkah pergi sebelum mencium kening putraku, lalu melambaikan tangan padanya dan bu Eni. 


***


__ADS_2