Two Love

Two Love
Luka di Sudut Hati


__ADS_3

    Pemandangan menjijikkan itu masih berlangsung di depan mataku. Mulutku terasa kaku. Lidahku mendadak keluh. Amarahku menumpuk, dan sampai di puncaknya. Air mata ku tumpah. Ku lihat dengan jelas mas Iqbal dan Sarah saling menikmati sentuhan mereka. 


"mas! "teriakku seketika. Mas Iqbal menoleh cepat ke arahku. 


" sial! "kudengar mas Iqbal mengumpat. Aku menatapnya tajam. Mas Iqbal kebingungan, begitu pula dengan  Sarah


   Mereka terburu-buru mengenakan pakaian mereka yang berjejer di lantai. Aku membalikkan badan berlari keluar rumah. Mas Iqbal mengejarku, dia hanya sempat mengenakan celana nya. Kemejanya masih tertinggal di dalam sana. Harun melihatku yang berderai air mata. Aku menunduk, menutupi rasa malu dan kecewa. Mas Iqbal menarik lenganku. 


"Nafisah, ku mohon. Maafkan aku! " ucap mas Iqbal. 


" untuk apa kau mengejarku, mas? Lanjutkan saja! Kau sudah sampai di pertengahan jalan, kau sangat menikmati nya. Kalian sangat menjijikkan! "bentakku kasar. Mataku merah karena amarah. 


Mas Iqbal menunduk, entah karena rasa bersalah, atau karena apa, aku tak peduli. 


" ayo kita pergi, Harun! "ajakku pada Harun yang masih mematung, melihatku penuh rasa iba. 


" tunggu! Siapa lelaki ini? "tanya mas Iqbal, menatap penuh curiga pada Harun yang juga menatapnya. 

__ADS_1


" kenapa, ha? Tidak perlu mas tanyakan siapa dia! Urus perempuan simpananmu si Sarah! "ucapku sengit. Aku meninggalkannya tanpa memberi kesempatan untuk berbicara. Mas Iqbal menutup wajahnya dengan telapak tangan. Mengacak rambutnya kasar. 


Aku tak lagi peduli. Apa yang kulihat tadi, adalah sebuah penjelasan yang benar-benar jelas. Suamiku tega berbuat nista di belakangku. Hubungan mereka sudah begitu jauh. 


Harun membukakan pintu mobil. Aku masuk dan duduk di kursi belakang. Air mataku tumpah ruah. Bersama dengan pecahnya hatiku yang tak terkira. 


Harun melajukan mobil. Sesekali melihatku yang sesenggukan. 


"apa kita perlu menepi dulu? Tenangkan dulu dirimu, "ucap Harun. Ia menepikan mobil, memarkirkan mobil di sebuah halaman cafe. 


" apa aku bisa menenangkan diri di tempat seperti ini? "tanya ku saat menyadari, mobil berhenti di halaman sebuah cafe. 


" menangislah! Dengan menangis, kau mungkin akan lebih tenang, "ucap Harun. Ia menyerahkan sebuah sapu tangan. Aku menerimanya. Ku gunakan mengusap air mata yang sudah membanjiri kerudungku. 


" mengapa dia begitu tega padaku, apa yang harus aku lakukan? "gumamku sendiri. 


" kau tak bisa memikirkan ini sekarang. Butuh waktu. Butuh ketenangan. Tenangkan fikiranmu, satu atau dua minggu, "Harun memberi saran. Ku dengarkan tanpa ekspresi. Air mataku masih meleleh. 

__ADS_1


" bagaimana? Kau mau turun di sini? Atau pergi melanjutkan perjalanan? "tanya Harun. Aku masih diam. Entah, apa yang sedang kuinginkan. 


" kita jemput putramu, lalu pikirkan mau ke mana. Apa kau mau pulang? "


"baiklah, kita jemput Alif dulu. Tapi aku tak ingin pulang. Aku pergi ke rumah Kamilah saja. Dia pasti akan menerima dan memberikan aku nasehat,"jawabku datar. 


Harun melajukan mobil. Menyusuri jalan. Air mataku meleleh kembali. Teringat mas Iqbal dan Sarah. Entah apa yang mereka lakukan sekarang. Masih ada rasa bersalahkah, atau merasa berdosa. Atau justru mereka mengabaikan aku? Entahlah. Aku mulai tak peduli lagi. 


Pandanganku menerawang jauh ke luar jendela mobil. 


Mencari ketenganan yang mungkin bisa meredam amarah dan kecewa. Entah di mana, dan pada siapa.


"sebuha perjalanan tidak akan mudah dilalui begitu saja. Cobaan nya berbeda-beda. Yang jelas, semua tetap memiliki cobaan dan ujian. Ada yang diuji dengan sakit, ada yang diuji dengan ekonomi, ada juga yang diuji dengan sulitnya keturunan. Kebetulan, ujian mu adalah tentang perselingkuhan suami. Ini mungkin tidak mudah, tapi juga tidak mustahil bagimu melewati semua ini dengan baik dan bijak, " ucap Harun. Aku mendengar tanpa bersuara. Tak ada lagi hasratku untuk berbicara. 


" kalian sudah memiliki seorang putra. Saranku, bicarakan masalah kalian baik-baik, dan ambil solusi yang paling baik. Apa menurutmu suamimu memang sudah terbiasa berzina? " lanjut Harun bertanya. Aku malas untuk menjawab, tapu apa yang ia tanyakan memang benar. Aku kenal mas Iqbal, dia bukan lelaki yang dengan mudah melakukan hububgan terlarang. Aku tahu dia selalu menjaga diri. Sebelum menikah denganku dulu pun, ia tak pernah menyentuhku. Kami hanya mengobrol dengan jarak cukup jauh, tidak pernah berdekatan. Lalu, bagaimana mas Iqbal bisa sampai melakukan hal itu dengan Sarah? Apa artinya mereka sudah menikah secara diam-diam? Ah, kepalaku terasa berat sekali. Aku tak ingin memikirkan masalah ini dulu. 


   Harun fokus pada kemudi. Tak lagi berbicara seperti tadi. Mungkin karena aku memilih untuk diam tak menanggapi. Namun aku tak menyangka, Harun memiliki sikap yang cukup bijak. 

__ADS_1


Mobil terus melaju. Mataku mulai lelah, aku menutup mata. Terlelap sekejap. Melupakan luka yang baru saja kuterima. 


__ADS_2