
Sebelum subuh, seusai salat tahajud, setelah mengadukan semua lara yang membebani hati, aku mencari gawai suamiku. Mas Iqbal masih tetidur pulas, dengkur halusnya bagai irama di ujung fajar. Perlahan kuraih handphonenya yang terselip di bawah tangannya. Ku tahu ini sangat beresiko, aku tak pernah melakukan ini sebelumnya, bagiku ini bukan hal baik, mengambil dan memeriksa gawau suami tanpa meminta izin terlebih dulu. Namun, tetap harus kulakukan, demi sebuah kebenaran.
Aku berhasil membuka handphone itu, tangaku lincah mencari satu kontak yang sudah sangat ku hafal profilnya, Sarah. Benar saja, notif panggilan menunjukkan semalam mas Iqbal menelpon wanita itu. Cukup lama. Beralih ke chat, aku melihat salam pamit wanita itu.
'batreiku dah lobat, say. Besok lagi, ya. Kutunggu besok di rumah. Peluk cium terhangat untukmu. ' begitu salam pamit itu. Hatiku mendadak panas. Apalagi membaca balasan dari mas Iqbal,
'jaga diri, ya. Aku mencintaimu.'
Gusti, betapa teganya mas Iqbal, dia mengucapkan cinta untuk wanita ini.
Air mataku meleleh, kali ini aku sungguh terluka. Suamiku benar-benar telah menghianatiku. Dia mencintai perempuan itu.
***
Adzan subuh berkumandang, memecah keheningan, suara sang muazin mendayu-dayu, terasa damai dalam kalbu. Kembali ku gelar sajadahku, mengahadap sang esa. Bermunajat kepadaNya. Mengadukan lukaku yang mulai nyata.
Mas Iqbal belum terbangun, kali ini kubiarkan saja dia. Biasanya, aku selalu membangunkan dia dengan penuh kelembutan, lalu mengajaknya salat berjamaah di musholla rumah. Mas Iqbal menggeliat, matanya mulai terbuka, sedikit terkejut melihat aku yang sudah melepas mukena.
"sudah bangun, Mi? " Tanyanya padaku. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya.
__ADS_1
" sudah, " jawabku singkat dan datar. Mas Iqbal menarik selilutnya. Melanjutkan tidur.
Pagi ini aku merasa malas sekali untuk beraktifitas, apalagi memasak. Aku memilih diam bermain handphone di kamar Alif, putraku itu masih tertidur. Sesekali kuciumi keningnya, putraku masih kecil, baru saja masuk sekolah dasar, tapi ayahnya sudah menghianati kami. Perih itu kembali menyerang hatiku.
Kembali ku kirimkan chat pada Kamilah, kuceritakan kembali apa yang kutemukan dalam pesan mas Iqbal pada perempuan itu.
'subhanallah, sabar, ya temanku.., Azifatun Nafisah.., kau perempuan hebat dan tangguh. Percayalah semua akan baik-baik saja, ' balasan dari Kamilah sudah masuk ke dalam waku. Air mataku menetes satu demi satu. Kututup mulut dengan punggung tangan, agar suara isak tangisku tak membangunkan Alif.
' lalu aku harus bagaimana?' tanya ku pada Kamilah.
'kau bisa bicarakan baik-baik sama suamimu, tanyakan seperti apa kebenarannya, lalu katakan apa yang kau inginkan, ' saran itu kubaca baik-baik. Sedang air mataku masih meleleh.
' aku akan mengikuti mas Iqbal nanti siang, kau bisa bantu aku?' tanya ku kembali pada Kamilah yang masih online. Sayang aku tak bisa langsung menelpon, karena suaraku pasti akan didengar mas Iqbal. Atau bisa juga membangunkan Alif.
' ha? Karyawanmu? Siapa? Aku tak enak nanti, tak biasa pergi dengan lelaki asing, ' pesanku sedikit terkejut. Mana bisa aku pergi dengan lelaki asing. Kebetulan, sahabtku Kamilah, memang telah menjadi seorang wanita karir yang sukses. Ia mendirikan bisnis properti yang maju pesat. Sayang, sampai sekarang perempuan yang lebih senang memanggilku Azif itu belum memutuskan untuk menikah. Kamilah belum bisa melupakan mantan calon suaminya yang meninggal sebulan setelah pernikahan mereka ditentukan. Ia bilang lagi ada cinta, saat ini hanya ingin fokus kerja dan kerja.
'anggaplah sebagai tukang ojek. Kupilihkan karyawan yang paling baik dan jujur. Biasanya karyawan satu ini memang ku tugaskan di lapangan. Namanya Harun. Dia baik, kok.'
Aku menerima saja tawaran Kamilah. Tak ada pilihan lain.
__ADS_1
Di kota ini aku hanya sebatang kara, semua keluargaku di desa. Aku ikut suami. Mas Iqbal mendapat pekerjaan di kota, tentu saja sebagai istri aku mengikutinya.
Setiap harinya, hari-hariku hanya dipenuhi sunyi dan sepi. Tinggal di sebuah komplek perumahan yang sebagian besar penghuninya orang kantor nan sibuk.
Satu-satunya hiburan adalah ketika aku mengantar Alif ke sekolah. Di sana, aku bisa bertemu dengan ibu-ibu lain, saling bercerita seputar kesibukan rumah.
Terkadang Kamilah mengajakku pergi jalan-jalan. Hanya sebulan sekali, karena sahabatku itu memang perempuan sibuk. Kami lebih sering mengobrol lewat telpon atau chating saja.
Merawat Alif, membersihakn rumah, lalu menunggu suami pulang. Hanya seperti itu kegiatanku setiap hari.
Sayangnya mas Iqbal tidak pernah bisa mengerti, aku yang selalu menunggu dia pulang lebih awal. Sekedar menjadi teman bicara, penghilang sunyi semata.
Setiap ku kirimkan pesan, meminta agar mas Iqbal pulang lebih awal, ia selalu marah, menurutnya aku istri yang manja dan lebay, tak bisa mengerti situasi suami yang sedang sibuk bekerja demi keluarga.
Nyatanya, keterlambatanya pulang adalah karena sibuk dengan wanita lain. Mungkin, karena aku baru bisa yakin jika sudah melihat dengan mata kepala sendiri.
Tak terasa, mentari semakin menampakkan diri. Secepatnya ku hapus sisa air mata. Alif menggeliat, mulai membuka mata. Ia bisa melihatku yang duduk di sampingnya.
"umi, kok tumben, biasanya saat Alif bangun, umi masih sibuk di dapur? "tanya Alif. Aku tersenyum, berusaha menyembunyikan luka yang kutahan dalam hati.
__ADS_1
" umi sedang malas masak, kita sarapan di warung mbok yem, yuk. Soto daging kesukaan Alif, pasti enak. Mau? " tawarku pada Alif yang masih Mengerjap-ngerjapkan matanya. Putraku mengangguk penuh semangat.
" ok. Sana ke kamar mandi dulu! " perintahku pada Alif. Dia menurut dan berjalan gontai ke kamar mandi. Aku bergegas untuk bersiap-siap.