
..."Aku sudah memberimu surat peringatan. Sekarang saatnya aku memberimu hukuman." – Leonidas Salvatore...
"Bianca Francesca ...."
Leon berbisik dengan suara yang berat tepat di telinga kanan Bianca. Memanggil nama gadis itu dengan penuh perasaan, bahkan sampai angin lembut yang keluar dari bibir pria itu menggelitiki telinga Bianca.
"I-iya, Pak."
"Kenapa nggak ada kabar? Hmm?" bisik Leon sambil tangan kirinya perlahan menarik ikat rambut yang menguncir rambut panjang coklat gadis itu.
Rambut yang semula terikat dengan rapi, perlahan mulai terurai. Jantung Bianca berdetak dengan samgat kencang saat ia menyadari ada sepasang tangan kekar yang memegang kedua sisi pinggulnya.
"Jawablah," ucap Leon lirih sembari nafas beratnya menyapu leher jenjang Bianca.
Bianca tersentak kaget dan tersadar dari rasa gugupnya. "Di sana nggak ada sinyal."
__ADS_1
"Terus, kenapa nggak mengabariku sebelum pergi?"
Bianca menggerakkan kepalanya secara spontan saat hembusan nafas Leon menggelitiki lehernya. "Leon, kita lagi di kantor. Berhentilah me—”
"Sejak kapan kamu berani memberiku perintah? Hmm?" tanya Leon sambil mengecup lembut leher jenjang gadis itu, "dan bersikap profesional lah sebagai seorang sekretaris. Saat ini aku adalah CEO-mu, bukan Leon."
Bianca mengerutkan keningnya keheranan. Padahal pria itu sendiri yang menyuruhnya memanggil namanya saat mereka berdua. Lantas, kenapa sekarang malah bersikap formal dan profesional? Tapi kelakuan agresifnya saat ini jauh dari kata profesional. Apa yang pria itu lakukan, tak sesuai dengan apa yang pria itu ucapkan.
Belum sempat Bianca terlepas dari kebingungannya, ia dibuat bergidik karena tangan Leon yang tiba-tiba merayap ke dadanya. Bahkan bibir pria itu mulai nakal membasahi telinganya. Hal itu membuat sekujur tubuh Bianca menggelinjang. Bahkan, entah kenapa kakinya merasa lemah dan goyah.
"Pak. Ini jam kantor," lirih Bianca yang mulai terhanyut dengan sentuhan-sentuhan nakal Leon. Namun ia mencoba menahan diri dengan memegang dan menahan kedua tangan Leon yang merayap di dadanya.
"Pak Leon." Bianca membalikkan badannya berhadapan dengan Leon.
"Hmm?" sahut Leon sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Bianca dengan membungkukkan tubuh atasnya.
Bianca mengambil langkah mundur secara perlahan untuk menjaga jarak dengan Leon.
__ADS_1
"Saya mengaku salah. Bapak boleh memberi saya hukuman dan surat peringatan. Tapi jangan melakukan hal ini di kantor," tolak Bianca dengan suara yang bergetar karena ketakutan.
Leon mengikuti langkah kaki Bianca. Selangkah gadis itu mundur, selangkah juga ia maju. Sehingga jarak mereka tetap sama seperti semula. Sampai akhirnya Bianca terpojok di meja kerja Leon. Gadis itu tak bisa lagi mengambil langkah mundur.
"Aku sudah memberimu surat peringatan," ucap Leon sembari meletakkan kedua tangannya di meja sehingga gadis itu berada di dalam kungkungannya.
"Sekarang saatnya aku memberimu hukuman," imbuhnya sambil menempelkan dahinya ke dahi Bianca.
Bianca tak berani menatap wajah Leon. Ia membuang pandangannya ke samping karena ia tahu sebentar lagi ia akan menjadi mangsa pria itu. Tapi melakukan hal itu di kantor terasa begitu menakutkan. Bagaimana jika ada yang memergoki mereka saat aktifitas panas itu sedang berlangsung? Bukankah ia yang paling malu dan paling dirugikan?
"Lihat atasanmu yang sedang berbicara," tegas Leon dengan suara yang pelan namun penuh penekanan. Tangan kanannya memegang dagu lancip Bianca dan membawanya ke depan untuk menatap ke arahnya.
"Selama ini aku terlalu lunak padamu sampai-sampai kau berani bertindak seenaknya," sambung Leon.
Pria itu menatap dalam ke arah mata hazel Bianca. Ia dapat melihat pantulan dirinya di mata gadis itu. Hal itu membuat jantungnya berdetak dengan sangat kencang bahkan rasanya ingin meledak saat itu juga. Ada hasrat yang harus dituntaskan siang itu. Tak peduli apakah gadis itu masih bisa berjalan usai ia melampiaskan semua kerinduan dan hasratnya yang membara.
"Maaf— ... hmphh!"
__ADS_1
...🫧🫧🫧...
...BERSAMBUNG......