
...“Apa kau bisa menanganinya sendiri kalau aku kembali ke Indonesia?” – Leonidas Salvatore...
Ceklek!
Cindy keluar dari kamar di mana ia telah melewati malam panas dengan pria asing. Ia pergi meninggalkan pria itu usai memuaskan nafsu sesaatnya. Tanpa sepatah kata bahkan tanpa meninggalkan jejak apa-apa, ia melengos menuju lift.
Sementara itu, di dalam kamar yang sudah Cindy tinggalkan, pria asing tersebut membuka matanya. Ia bangun dari tidurnya dan bergegas menapaki lantai dalam keadaan tanpa busana yang melekat di tubuh. Ia berjalan ke depan, di mana ada meja televisi di sana. Kemudian ia mengambil ponsel yang tadinya sengaja ia letakkan di belakang kaki televisi dengan posisi kamera yang menghadap ke arah kasur.
“Ck!” decak pria asing tersebut sembari menyeringai. Ia melihat video yang berhasil ia rekam tanpa sepengetahuan Cindy.
Kemudian, ia bergegas menghubungi seseorang.
“Aku mendapatkan videonya,” papar pria asing itu dengan puas hati. “Jadi, bagaimana dengan bayaran yang anda janjikan?”
“Ah … bukan hanya video. Aku juga merekam percakapan yang menarik tadi.”
“Percakapan tentang dua orang adik kakak yang ingin merampas perusahaan besar Salvatore. HAHAHA!”
“Seharusnya bayaran yang ku terima di tambah 1 kali lipat.”
^^^“Aku akan membayarmu 3 kali lipat.”^^^
__ADS_1
“Senang berbisnis dengan anda. Lagipula aku melakukan ini juga mendapatkan kepuasan.”
“Servis gadis muda itu enak! Dia benar-benar berpengalaman di ranjang.”
...🫧🫧🫧...
Di sebuah ruangan kantor yang luas dan menghadap pemandangan kota Washington, Leon mematikan ponselnya usai menghubungi pria asing yang menemani Cindy melewati malam panas. Ia memang sengaja membayar pria itu untuk mendapatkan bukti yang kuat menyingkirkan Cindy agar tak menjadi parasit bagi wanita yang ia cintai.
Ting!
Sebuah notifikasi telah masuk ke ponsel Leon. Ia melirik notifikasi tersebut. Ternyata ada sebuah email.
Leon bergegas duduk ke kursinya dan menatap fokus ke layar laptop. Kemudian ia membuka email yang tadinya masuk ke ponselnya.
Wajah yang semula penuh dengan kegundahan dan kekhawatiran, mendadak menjadi cerah dan lega usai melihat video yang dikirimkan oleh pria bayarannya. Namun ia penasaran dengan percakapan apa yang direkam oleh pria itu? Percakapan antara Anya dan Cindy?
Karena penasaran, Leon bergegas mendengarkan rekaman audio tersebut dengan seksama. Ia menangkupkan kedua tangannya dengan siku yang menyentuh meja. Kemudian ia mendaratkan dagunya ke atas tangan dengan telinga yang ia tajamkan.
Tak lama setelah mendengarkan rekaman audio antara Anya dan Cindy, Leon langsung mengepalkan tangannya. Ternyata … kedua wanita biadab itu berniat menyandera Bella dan Bianca. Bisa-bisanya mereka berpikiran untuk mengusik dua wanita yang tak bersalah demi mendapatkan apa yang mereka targetkan.
Leon tak lagi bisa tinggal diam. Ia bergegas mencari kontak Bianca untuk segera dihubungi. Namun ia mendadak tersadar bahwa saat ini waktu masih menunjukkan pukul 2 dini hari di Indonesia, sedangkan saat itu waktu di Washington masih menunjukkan pukul 3 sore.
“Haaa … aku akan menghubunginya besok,” lirih Leon pelan.
__ADS_1
Ada rasa rindu yang menyeruak di dada. Rasa rindu yang tak dapat ia bendung dan rasanya akan tumpah saat itu juga. Tapi masih ada tanggung jawab yang harus ia selesaikan. Bahkan, nyawa korban dan reputasi Salvatore tergantung dengan tindakan apa yang akan ia ambil saat ini.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk.”
Brad masuk ke ruang Leon sembari membawa beberapa dokumen di tangannya. “Untuk—”
“Apa kau bisa menanganinya sendiri kalau aku kembali ke Indonesia?” tanya Leon memotong pembicaraan Brad. Bukannya ia tak ingin bertanggung jawab dengan situasi yang genting saat ini. Tapi, ada 3 nyawa yang harus ia selamatkan di Indonesia.
Brad terdiam sambil berfikir sesaat.
“Aku berikan bonus 3 kali lipat dari gajimu sekarang,” jelas Leon tanpa basa basi.
“Bisa, Pak. Tapi sebelum itu Bapak harus menghadiri konferensi pers dan menjenguk beberapa korban ke rumah sakit sebagai bentuk simpati dan turut berduka dengan musibah ini. Untuk ini saya harap Bapak datang sendiri demi citra Salvatore. Karena kalau Bapak menugaskan orang lain, media beranggapan Bapak menyepelekan musibah ini.”
“Okay. Kapan konferensi pers dan jadwal jenguk ke rumah sakit?”
“Jenguk korban bisa kapan saja. Sedangkan jadwal pers minggu depan.”
“Besok kosongkan jadwalku. Kita ke rumah sakit dari pagi.”
...🫧🫧🫧...
__ADS_1
...BERSAMBUNG.....