
...“Siapa sih pria beruntung itu?” – Reinhard Salvatore...
Di sebuah bar yang ada di lantai atas Hotel Oleander, Rein terlihat berjalan memasuki bar tersebut dengan wajah yang kusut. Ia menuju ke arah bartender yang sedang sibuk dengan peralatannya. Pria bertubuh tegap dengan mata biru yang khas itu memesan alkohol ringan hanya sekedar melepas penat dan lelahnya. Yah … sekalian ia juga ingin melupakan masalah asmaranya yang tak kunjung teratasi sejak dulu.
“Mas, satu gelas lagi ya,” pinta seorang wanita kepada bartender.
Suara wanita tersebut terdengar tak asing. Rein menoleh ke samping. “Bella?”
“Kak Rein?” sentak Bella yang saat itu sudah mulai setengah sadar. Sepertinya wanita itu sudah menghabiskan beberapa gelas alkohol.
Rein turun dari kursi tinggi yang ia duduki dan berpindah mendekat ke sisi Bella. “Udah lama?”
Bella hanya menggelengkan kepalanya. Ia menenggak minuman yang sudah kosong di gelasnya. Tak membutuhkan waktu yang lama, pesanan Rein dan Bella datang secara bersamaan. Keduanya pun menenggak minuman tersebut tanpa berbicara sepatah katapun.
Keduanya terlihat sedang menikmati alunan musik jazz yang menggunakan alat musik saxophone. Tapi kenyataannya tidak. Keduanya sedang memikirkan hal lain yang mengusik pikiran mereka.
“Kak … kamu itu punya asam lambung. Jangan minum alkohol!” seru Bella sambil menoleh ke arah Rein. Ia menopang wajahnya menggunakan satu tangan yang sikunya menyentuh meja bar.
“Sesekali. Nggak sering kok.”
“Nggak dicariin istri? Malam-malam malah ke bar sendirian,” celetuk Bella asal bicara.
__ADS_1
Rein hanya terkekeh pelan. Kekehan yang ia berikan pada dirinya karena saat ini istrinya sedang bersenang-senang dengan pria lain. Tapi hatinya sedikitpun tak terluka.
“Kamu sendiri ngapain di sini?” tanya Rein mengalihkan pembicaraan.
“Aku?” Bella menunjuk ke arah dirinya. Ia meraih gelas yang berisikan alkohol dengan es batu yang masih utuh di dalam alkohol tersebut. Kemudian ia gerakkan alkohol tersebut dengan gerakan memutar pelan. Matanya menatap kosong ke arah es batu yang ada di dalam gelas tersebut.
“Sedang berusaha melupakan suami orang,” lirih Bella pelan sambil terkekeh pelan. Meskipun bibirnya tersenyum, hatinya terasa sesak dan panas. “Di antara banyaknya pria, kenapa harus dia yang mencuri hatiku?”
Rein tertawa mendengarkan ucapan Bella. Apa yang mereka alami saat itu benar-benar sama dan tak ada bedanya. Mencintai seseorang yang salah. Mencintai seseorang yang tak mungkin mereka miliki.
“Hahaha … kita sama Bel,” sahut Rein. Sesaat kemudian ia menyeruput minumannya dan menatap lurus ke depan.
Keduanya duduk bersampingan sembari menatapi rak alkohol yang terpajang di depan mata mereka. Alkohol yang tertata rapi di dalam rak kayu yang menempel di dinding.
“Kita nggak sama, Kak,” lirih Bella pilu, “pria yang aku cintai itu … bermata bi—”
Gelas yang Bella pegang mendadak jatuh ke lantai dan pecah sebelum Bella mengatakan ciri-ciri pria yang ia cintai. Bahkan, Rein samar-samar mendengarkan Bella mengatakan pria yang ia cintai itu bermata apa.
Tanpa berlama-lama, Rein bergegas mengatakan kepada bartender untuk memberikannya tagihan minuman serta tagihan untuk gelas yang Bella pecahkan tadi. Kemudian ia bergegas menyelesaikan pembayaran.
“Bel, alamatmu di mana?” tanya Rein khawatir.
“Alamat? Ck! Bahkan pria yang kucintai itu tak tahu di mana alamatku. Selama ini aku ada di sisinya dan dekat dengannya,” kekeh Bella sambil merebahkan kepalanya ke meja bar. “Aku nggak mau pulang. Aku mau di sisinya malam ini.”
__ADS_1
“No. Kamu nggak boleh—”
“Kenapa nggak boleh?” tanya Bella sambil mendaratkan kepalanya ke dada bidang Rein dan memeluk erat tubuh kekar pria itu. “Bertahun-tahun aku mencintainya, apa nggak boleh semalam saja aku berada di sisinya? Hmm?”
Rein tertegun saat Bella memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Aroma manis dari parfum yang wanita itu kenakan tercium ke hidungnya. Bahkan, seketika jantungnya berdetak dengan sangat kencang.
“Bel. Aku udah booking kamar. Kamu tidur di kamar itu aja, ya? Aku akan pulang,” jelas Rein sambil melepaskan pelukan Bella secara perlahan. Kemudian ia memapah tubuh Bella berjalan meninggalkan bar dan menuju lift.
Bella hanya diam dan tak berkutik. Ia berjalan mengikuti pria itu dengan jalan yang sempoyongan.
Ting!
Pintu lift terbuka. Bella mulai oleng dan memeluk tubuh Rein dengan sangat erat. Pelukan yang menandakan bahwa ia tak ingin berjauhan dengan pria yang ada di sampingnya saat ini. Rein yang melihat tingkah Bella, ia bergegas membopong tubuh Bella dan membawa wanita itu ke kamar yang sudah di pesankan oleh Bianca sore tadi.
Setibanya di kamar hotel, Rein merebahkan tubuh Bella dengan perlahan ke atas ranjang. Kemudian ia melepaskan heels serta cardigan yang wanita itu kenakan agar bisa tidur dengan nyenyak. Merasa tak ada lagi yang dapat ia lakukan, Rein pun duduk di sisi ranjang. Ia menatap wajah tenang Bella yang sedang terlelap. Tanpa sadar, tangannya merapikan rambut Bella yang sedikit menutupi wajah anggun wanita itu.
“Siapa sih pria beruntung itu?” gumam Rein putus asa.
“Padahal, ada aku yang selama ini tak pernah terlihat di matamu. Andai aku tau kamu dan Leon nggak ada hubungan apa-apa, mungkin … sejak lama aku sudah mengejarmu.”
Rein menatap pilu ke arah wajah tenang Bella. Ada perasaan sebak yang menyeruak memenuhi dada. Perasaan penuh yang membuat dadanya sesak akan cinta yang tak terbalas sekian tahun lamanya. Wanita yang ia sangka adalah wanita yang adiknya cintai, ternyata diam-diam telah mencuri cinta pertamanya sejak dulu. Namun selama ini ia hanya diam dan menutupi cinta yang besar itu dalam keheningan. Ia tak ingin wanita itu menjauhinya saat mengetahui perasaan yang selama ini ia pendam.
Karena Rein, ia tak ingin dijauhi oleh Bella jika wanita itu mengetahui perasaannya yang sebenarnya selama ini. Pasti wanita itu akan merasa geli jika mengetahui rasa cinta yang sudah lama ia pendam.
__ADS_1
...🫧🫧🫧...
...BERSAMBUNG…...