
...“Besok aku harus ke Amerika dan aku nggak tau berapa lama aku akan di sana.” – Leonidas Salvatore...
Tok! Tok! Tok!
“Masuk.”
Bianca masuk ke dalam ruangan sembari memegang tablet, kemudian ia menutup pintu ruangan tersebut dan berjalan menuju meja Leon. Saat itu, kekasihnya terlihat sedang sibuk tanpa menoleh ke arahnya walau hanya sesaat.
“Pembukaan hotel baru—”
“Ah. Aku melupakan itu,” Leon memotong pembicaraan Bianca sambil meletakkan dokumen yang sejak tadi ia baca dengan teliti. Ia bersandar ke kursi sambil memijat kepalanya yang pusing karena tumpukan-tumpukan berkas yang tak kunjung berhenti untuk ia cek dan ia tanda tangani.
“Aku akan membuatkanmu kopi,” ucap Bianca sambil memutar badannya membelakangi Leon.
“Ntar aja,” lirih Leon menghentikan langkah kaki Bianca.
Gadis itu kembali membalikkan badannya menoleh ke arah Leon. Kemudian ia menatap layar tablet untuk menyampaikan beberapa informasi penting yang tak boleh pria itu lewatkan.
“Sejak Pak Rein sakit, ada beberapa kunjungan keluar kota yang sempat tertunda.”
__ADS_1
“Kunjungan ke Raja Ampat untuk menghadiri acara pernikahan anak gubernur yang diadakan di hotel kita, lalu kunjungan ke Gili Trawangan untuk—”
“Sayang, tolong pilihkan jadwal-jadwal penting yang berhubungan dengan pekerjaan. Untuk saat ini, selain yang berhubungan dengan pekerjaan, minta divisi public relation yang mewakiliku untuk hadir,” potong Leon sambil menghela nafasnya.
“Baik,” sahut Bianca sambil menilik layar tabletnya. “Bagaimana dengan undangan kerjasama yang diajukan Smart Group?”
“Kapan?”
“Kamis ini.”
“Okay. Kirimkan email balasan,” sahut Leon sambil memejamkan matanya sesaat untuk mencoba menghilangkan rasa sakit kepala yang kian membuatnya tak nyaman.
Drttt… Drttt…
“Ada apa, Brad?”
^^^“Resort kita yang di Miami kebakaran. Nggak ada korban jiwa, tapi ada banyak yang luka-luka. Bahkan—”^^^
“Jadwalkan pesawatku ke Amerika malam in—” Leon terdiam sejenak. Ia menoleh ke arah Bianca yang saat itu sedang berdiri menatap ke arahnya dengan tatapan yang bingung apa yang sedang terjadi. “… besok pagi. Ya, penerbanganku besok pagi aja.”
^^^“Baik, Pak.”^^^
__ADS_1
Leon mematikan ponselnya dan meletakkannya ke atas meja. Ada begitu banyak pekerjaan yang tak kunjung selesai dan membuat kepalanya terasa ingin pecah. Mood yang berantakan karena kehadiran Cindy di kantornya pagi tadi, urusan pekerjaan yang menumpuk, bahkan kabar buruk melanda resort yang paling meraup untung terbesar bagi Salvatore Group cabang Amerika.
Sejak awal Leon memang tak bisa membayangkan bagaimana ia bisa menjadi CEO untuk dua perusahaan besar sekaligus apalagi beda negara. Namun, ia langsung mengambil tanggungjawab besar itu tanpa berfikir panjang saat mendapat kabar janggal tentang kecelakaan kakaknya.
“Ayo pulang,” ajak Leon sambil bangkit dari duduknya.
“Tapi, ini masih pukul 3 sore,” ucap Bianca sambil melirik jam di tangannya.
“Aku akan pulang cepat karena ada hal mendesak di Salvatore Amerika,” jelas Leon, “lalu tolong jadwalkan ulang undangan kerjasama Smart Group saat aku sudah kembali ke Indonesia.”
“Baik,” sahut Bianca sambil membalikkan tubuhnya. Kemudian ia pun berjalan menuju pintu. Namun langkahnya terhenti saat Leon menahan tangan dan memeluk tubuhnya dari belakang.
“Sebentar aja,” lirih Leon pelan dengan suara yang lelah. Ia mendaratkan dagunya ke bahu Bianca sambil memejamkan matanya. Meskipun penerbangannya ke Amerika besok pagi, bukan malam ini, tetap saja rasanya begitu berat berpisah dengan gadis itu.
Menyadari rasa lelah dan pusing yang pria itu rasakan, Bianca berdiam diri dan patuh tanpa perlawanan. Ia mengelus lembut lengan kekar pria itu yang melingkar ke tubuhnya.
“Malam ini, tidur di apartemen ya?”
“Besok aku harus ke Amerika dan aku nggak tau berapa lama aku akan di sana,” terang Leon memelas. Ia tak tahu berapa lama ia akan berada di sana, jadi ia ingin menghabiskan malam yang panjang dengan gadis itu sebagai bekal selama ia di sana.
...🫧🫧🫧...
__ADS_1
...BERSAMBUNG…...