
...“Aku punya ide. Bukan hanya Salvatore Indonesia. Tapi kita juga bisa menguasai Salvatore Amerika.” - Cindy...
Dentuman musik yang memekakkan telinga tak sedikitpun membuat para pengunjung pergi meninggalkan club malam Black Moon. Mereka betah berlama-lama di sana sambil menikmati minuman yang disuguhkan barista serta alkohol yang membuat tubuh mereka bergerak mengikuti alunan musik.
Di lantai dansa Black Moon, Cindy terlihat sedang menggoyangkan tubuhnya dengan sangat asyik. Gadis yang saat itu mengenakan dress mini berwarna navy terlihat senang dengan pria-pria yang sedang menari mengelilinginya sehingga saat ini posisinya berada di tengah-tengah pria yang matanya jelalatan ke sekitar tubuh Cindy.
“Sendirian?” tanya seorang pria ke telinga Cindy.
Cindy menoleh ke arah suara itu berasal. Matanya menatap wajah pria itu dengan lekat. “Handsome.”
“Hmm. Sendiri,” sahut Cindy sembari membalikkan tubuhnya dan mendekat ke arah pria tersebut.
“Me too.”
Cindy tersenyum saat pria tersebut berkata bahwa ia juga sendiri saat itu.
Mendapatkan sinyal hijau dari Cindy, pria tersebut tanpa ragu berdansa dengan Cindy sambil sesekali tangannya bergerilya ke pinggul Cindy. Bukannya menempik atau merasa dilecehkan, Cindy menerima perlakuan tersebut. Bahkan, ia sendiri yang menekankan dadanya ke dada pria tersebut.
“Should we go?” bisik pria tersebut mengajak Cindy pergi. Yah … ke mana lagi kalau bukan ke hotel untuk melakukan penyatuan tubuh untuk memuaskan nafsu sesaat.
Cindy tak menjawab ucapan pria tersebut. Tapi ia malah berbalik membelakangi pria itu. Setelah ia berjalan beberapa langkah, ia sengaja menoleh ke belakang dengan tatapan mesum ke arah pria yang sedang bengong karena ditinggal sendiri tadi. Pria itu pun menyeringai dan mengerti maksud Cindy bahwa ia ingin dikejar.
...🫧🫧🫧...
Di hotel yang sudah di sediakan club malam Black Moon tersebut, Cindy dan pria tersebut terlihat sedang berpelukan dengan sangat erat. Bahkan tangan pria itu menggerayangi dada Cindy meskipun saat ini mereka masih berada di depan pintu.
__ADS_1
“Baby …,” lirih pria asing tersebut sambil menjilati telinga Cindy.
Cindy meraih tengkuk pria tersebut sambil tangannya meraba ke bawah, ke arah rudal pria tersebut yang sudah mengeras. Namun, di tengah-tengah keasyikan mereka dalam menikmati pemanasan sebelum bercinta, tiba-tiba ponsel Cindy berdering.
Drrttt… Drrttt…
Cindy tak peduli. Ia tetap melanjutkan aksinya dan menerima sentuhan-sentuhan nakal yang pria itu berikan padanya. Bahkan ia membiarkan tangan pria itu menyibak dress mini miliknya ke atas.
Drrttt… Drrttt…
Lagi-lagi ponsel Cindy berdering. Merasa terganggu dengan dering tersebut, ia pun menghentikan seketika pemanasan yang sedang berlangsung itu.
“Kenapa, Kak?” tanya Cindy dengan wajah yang kesal.
^^^“Di mana?”^^^
^^^“Come.”^^^
Cindy mematikan ponselnya usai Anya menyuruhnya untuk datang ke kamarnya. Ia pun menoleh ke arah pria tadi yang sedang menunggunya di sofa.
“Aku ada urusan. Nanti kita—”
“Aku boleh ikut?”
Cindy mengerutkan keningnya. Tapi sesaat kemudian ia mengiyakan ucapan pria itu. Toh, mereka juga baru kenal di lantai dansa. Setelah melewati malam panas, mereka tak akan bertemu lagi.
...🫧🫧🫧...
__ADS_1
Ting!
Pintu lift terbuka. Cindy lansung menuju ke kamar yang biasa ia datangi. Di dalam sana ada Anya dan pacar kakaknya yang sudah ia kenal sejak ia kecil. Siapa lagi kalau bukan Martin? Kekasih gelap yang selama ini kakaknya sembunyikan.
“Beda lagi?” tanya Anya saat melihat sosok pria yang mengikuti Cindy dari belakang.
Cindy hanya cengengesan saat mendapatkan pertanyaan dari kakaknya. Ia menuju sofa di mana Martin sedang duduk menikmati alkohol.
“Wahhh … ada sekretaris pribadi nih,” celetuk Martin sambil menuangkan alkohol dari botol ke gelas wine yang sedang ia pegang. Kemudian ia menyerahkan gelas tadi kepada Cindy.
“Ck! Sekretaris pribadi apaan. Ada cewe lain tuh yang udah duluan jual badan ke Si Leon,” celetuk Cindy kesal. Ia menyeruput alkohol dari gelas yang ia pegang dengan sekali teguk. Kemudian ia meletakkan gelas yang kosong tadi ke atas meja kaca yang ada di depannya.
“Siapa?” tanya Anya penasaran sambil duduk di pangkuan Martin.
“Bianca. Cewe kampungan gitu sih kalo diliat dari penampilannya.” Cindy mengambil bungkus rokok yang ada di atas meja, kemudian ia menyelipkannya ke bibir dan membakar ujung rokok tersebut.
Cindy menghirup rokok tersebut dengan sangat dalam, kemudian ia hembuskan asapnya secara perlahan dengan satu tangan yang sengaja ia letakkan ke atas paha pria asing tadi. Saat ini pria itu sedang duduk di sampingnya.
“Kak, kenapa sih dia nggak mati? Biar cepet dapetin Salvatore, terus kita juga bisa berkuasa.”
“Haaa … aku juga heran. Bisa-bisanya dia selamat dari kecelakaan itu,” sahut Anya yang menunjukkan wajah kesalnya karena rencana membuat Rein tewas dalam kecelakaan ternyata gagal.
“Aku punya ide.” Cindy menatap ke arah Anya sambil menyeringai. “Bukan hanya Salvatore Indonesia. Tapi kita juga bisa menguasai Salvatore Amerika.”
...🫧🫧🫧...
...BERSAMBUNG…...
__ADS_1