Ugh ... My Aggressive Bos!

Ugh ... My Aggressive Bos!
Maaf ... Aku Terlambat


__ADS_3

...“Maaf … aku terlambat. Seharusnya aku lebih cepat meraih dirimu ke dalam hidupku.” – Reinhard Salvatore...



Di tengah-tengah kamar hotel yang sedang Rein dan Bella tempati, Rein mengusap lembut bibir Bella dengan sangat berhati-hati. Ia takut wanita itu terjaga dari tidurnya jika ia menyentuh dengan tidak berhati-hati.


Rein menghela nafasnya. Menatap wanita itu sedang tertidur lelap saja sudah membuat hatinya senang. Jadi … ia tak ingin berharap lebih.


“Kak Rein,” gumam Bella pelan dengan mata yang tertutup. “Jangan pergi.”


Rein terkekeh pelan saat Bella mengatakan hal tersebut. “Aku nggak per—”


Rein terdiam. Ia tak melanjutkan ucapannya saat Bella menyebut namanya dan memintanya untuk jangan pergi. Tiba-tiba ia teringat dengan ucapan Bella bahwa pria yang wanita itu cintai adalah suami orang. Tak mungkin ‘kan itu dirinya?! Ia menatap dalam ke arah wajah Bella dengan jantung yang seketika berdebar dengan sangat kencang. Mata yang menegang dengan rahang yang mengeras.


“Bel?” panggil Rein pelan sambil tangannya yang gemetaran mengusap lembut pipi Bella.

__ADS_1


Bella memeluk tangan Rein seketika. “Jangan tinggalin aku. Temani aku semalam aja. Setelah itu, Kakak boleh pergi ke istri Kakak.”


Bak di sambar petir di siang bolong, sekujur tubuh Rein bergetar dengan hebat. Tubuhnya mendadak kaku dengan darah yang seperti membeku. Telapak kaki dan tangannya mendadak dingin bahkan seperti mati rasa. Apa yang ia dengarkan barusan bukan mimpi, ‘kan?


“Bel … aku panggilkan pria itu ke sini, ya? Siapa namanya di hp kamu?” tanya Rein mencoba memancing Bella yang saat itu sedang berada di bawah pengaruh alkohol.


Bella menggelengkan kepalanya. Ia semakin memeluk dengan erat lengan Rein dan bertingkah manja tak ingin ditinggalkan malam itu. “Nggak usah. Sekarang dia ada di sisiku.”


“Reinhard … namanya. Aku mencintainya. Sangat mencintainya. Cinta pertama yang sulit aku lupakan dan sulit kugantikan dengan pria lainnya.”


Kebodohan apa yang selama ini telah ia perbuat?! Bertahun-tahun lamanya ia mencintai wanita itu dalam keheningan! Bahkan wanita itu juga selama ini mencintainya dalam keheningan?! Kebodohan apa itu?! Kenapa di saat ia sudah menikahi wanita lain, baru ia mengetahui kebenaran bahwa selama ini cintanya tak bertepuk sebelah tangan?


“Kak Rein … rasanya sakit,” Bella berkata lirih dengan airmata yang perlahan keluar dari sudut mata yang sedang tertutup itu. “Aku menyaksikan sendiri gimana pria yang aku cintai itu mencintai wanita lain.”


“Memikirkan untuk membuka hatiku pada pria lain saja rasanya sulit. Aku nggak bisa, Kak.”

__ADS_1


“Jangan,” terang Rein melarang, “jangan pernah membuka hatimu untuk pria lain!”


Rein menyeka airmata Bella di mana airmatanya sendiri mengalir tanpa ia sadari. Rasa haru yang begitu menyesakkan dada entah kenapa terasa seperti kupu-kupu yang sedang menggelitiki hati. Sesak yang semula menyakitkan karena mereka terjerat dalam kisah cinta yang rumit, berubah menjadi bahagia karena keduanya sama-sama mencintai dalam keheningan.


“Maaf … aku terlambat. Seharusnya aku lebih cepat meraih dirimu ke dalam hidupku,” lirih Rein pelan.


Rein mendekatkan wajahnya ke wajah Bella. Kedua tangannya memegang kedua pipi Bella dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. Mata biru yang ia miliki, menatap dalam ke arah wajah wanita yang ia cintai itu.


“Baiklah. Aku akan segera menceraikan Anya dan menikahimu,” tegas Rein tanpa basa basi. Kemudian ia mengecup lembut bibir Bella dengan penuh penghayatan. Ciuman yang penuh dengan cinta dan kasih. Ciuman yang selama ini tak pernah ia rasakan saat ia sedang bercumbu dengan istrinya.


Ternyata, ciuman yang didasarkan cinta itu … berbeda dengan ciuman biasa.


...🫧🫧🫧...


...BERSAMBUNG…...

__ADS_1


__ADS_2