
..."From now, you will be mine." – Reinhard Salvatore...
Sinar mentari menyusup masuk melalui celah-celah tirai yang berwarna abu gelap itu.
Di dalam kamar hotel bintang 5 yang terkenal itu, Bella sedang tertidur pulas di dalam pelukan Rein. Kepala wanita itu berada tepat di atas lengan kekar Rein yang saat itu menghadap ke arahnya dengan satu tangan lagi yang melingkar di pinggul Bella.
Mentari terlalu usil mengusik mata Bella dengan cahayanya di pagi itu, sampai-sampai wanita itu perlahan mengerjap-ngerjapkan matanya untuk mengumpulkan kesadaran. Namun, saat tangannya ingin mengucek mata, ia mendadak tersentak. Pasalnya, tangannya tak bisa bergerak karena tertimpa sesuatu yang berat. Bukan hanya badan, tubuhnya juga. Tubuhnya seakan-akan sedang berada dalam kungkungan seseorang.
Bella membuka paksa matanya dengan segera. Mengingat semalam ia terlalu banyak minum sampai mabuk, ia takut jika ia melewatkan malam yang panjang dengan seseorang yang tak ia kenal. Tapi seketika rasa takutnya semakin membabi buta sehingga membuat nafasnya mendadak tertahan begitu melihat pria yang sedang memeluk tubuhnya saat ini.
“K-Kak Rein?!” batin Bella tersentak. Matanya membulat dengan sempurna tanpa harus dikucek. Bahkan ia menggigit kedua bibirnya ke dalam mulut karena khawatir ia akan bersuara.
“A-apa yang terjadi?” pikir Bella sambil menatap wajah Rein yang saat itu sedang tertidur dengan lelap. Ia sedikit bernafas dengan lega karena Rein masih mengenakan kemeja meskipun tiga kancing atasnya terbuka. Tentunya mengekspos dada bidang yang membuat wajah Bella memerah seketika.
Kemudian Bella memastikan dirinya sendiri. Tak satupun busana yang terlepas dari tubuhnya. Semuanya masih utuh tanpa kekurangan satupun. Lalu ia bergerak secara perlahan untuk bangun dan tak ingin mengusik Rein yang masih tidur.
“Bella! What have you done?! Itu suami orang! Astaga!” gerutu Bella ketakutan setengah mati. Bagaimana jika istrinya memergoki mereka berdua yang saat itu sedang tidur sambil berpelukan? Lalu, bagaimana jika dua orang itu bercerai karenanya?
“Argh! Nggak nggak nggak! Aku nggak boleh egois hanya karena aku menyukai Kak Rein!”
Perlahan, wanita itu bergerak menuju sisi ranjang untuk turun sembari terus mengutuki dirinya dalam hati.
“Akhhh!” pekik Bella terkejut setengah mati saat tangannya di tarik oleh Rein.
__ADS_1
Rein memeluk tubuh Bella dari belakang sambil tersenyum tanpa berbicara sepatah kata. Mulai malam tadi, ia bertekad ingin mengejar Bella tanpa memberitahu wanita itu bahwa ia sudah mengetahui isi hati Bella. Toh, Bella pantas untuk dikejar setelah penantian panjangnya. Lagipula, belum tentu wanita itu mengingat apa yang terjadi semalam karena dia sedang mabuk.
“K-Kak Rein?” panggil Bella gugup. “A-aku nggak tau kenapa kita bisa t-tidur b- ... bareng.”
“Maaf, K-Kak. Kakak nggak m-marah, ‘kan? Aku salah. Soalnya kalau udah kebanyakan minum, a-aku nggak sadar.”
Rein hanya diam dan mengeratkan pelukannya. Ia mendaratkan wajahnya ke tengkuk Bella untuk mencari kenyamanan. Bahkan ia menarik selimut untuk menutupi kedua tubuh mereka.
Bella mendadak tersipu dengan tingkah agresif Rein yang tak biasa. Sekujur tubuhnya mendadak bergidik dengan kelakuan Rein tersebut. Ada kupu-kupu yang sedang menggelitiki tubuhnya karena bahagia. Namun, ada rasa takut yang menyatu dalam kebahagiaan tersebut.
Bella keheranan dengan sikap Rein yang berbeda dari biasanya. Apa ada sesuatu yang terjadi semalam? Ia memutar otaknya memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Yang ia ingat, ia berada di dalam lift dan memeluk tubuh Rein dengan erat karena kehilangan kesadaran. Setelah itu, ia tak ingat apa-apa lagi.
“Kak, gimana kalau …,” Bella membalikkan wajahnya ke belakang menghadap ke arah Rein, “istri Kakak tau?”
“A-aku nggak mau jadi pelakor.”
Bella tersentak dengan ucapan Rein. Apa maksud dari ucapan pria itu? Apa semalam ia mengatakan hal yang tidak-tidak bahkan mengungkapkan isi hatinya? “Nggak nggak nggak. Nggak mungkin aku sebodoh itu.”
“Malam tadi kamu terus menyalahkan diri karena menyukai suami orang. Kalau memang cinta, memangnya bisa apa? Emangnya kamu bisa menahan diri?” usil Rein di pagi itu sembari tersenyum setengah.
Bella tak berkutik. Wajahnya memerah menahan malu. Bahkan ia menunduk dan tak berani menatap mata biru Rein yang indah itu. Mata biru yang sudah sejak lama ia sukai, bahkan dari tubuh pria yang sudah lama ia cintai. Bagaimana bisa ia menahan diri jika berada di situasi saat ini? Namun akal sehatnya masih membuat ia tersadar.
“Kak, ini nggak benar. Aku harus pul—”
"Pulang? Hmm?" potong Rein sembari menaikkan alis kirinya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Bella bahkan menempelkan dahinya ke dahi Bella.
__ADS_1
"Setelah membuka kancing kemejaku dan menahanku untuk nggak pulang ke rumah, sekarang kamu yang mau pulang?"
Deg!
Bella menelan paksa salivanya. "A-aku? Melakukan itu?"
Rein menaikkan kedua alisnya sembari bibirnya membentuk lengkungan ke bawah.
"Kak, aku salah. Sumpah aku salah! Aku bener nggak sadar malam tadi. Aku harap Kakak bisa melupakan kejadian malam tadi, ya? Please?" Bella mengerutkan keningnya dengan mata yang memelas agar Rein melepaskannya dan memaafkan kesalahannya malam tadi.
"Give me a kiss. Maka aku akan memaafkannya," bisik Rein mulai agresif.
Bella terbelalak. Apa-apa'an permintaan Rein itu?!
"K-Kakak kesambet setan apa?!"
Rein mendekatkan bibirnya ke telinga Bella. Kemudian ia berbisik dengan lirih. "Setan cinta."
Sekujur tubuh Bella mendadak bergidik dan secara refleks ia mendorong tubuh Rein menjarak dari tubuhnya. Jantungnya berdetak dengan sangat kencang, bahkan ia bisa mendengarkan suara berisik dari jantungnya itu.
Bella bergegas turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi meninggalkan Rein yang masih di atas ranjang. Pria itu terkekeh pelan dan puas usai mengusili wanita yang selama ini sangat takut ia sentuh. Bahkan memimpikan wanita itu saja ia merasa bersalah selama ini.
"From now, you'll be mine," gumam Rein sambil tersenyum.
...🫧🫧🫧...
__ADS_1
...BERSAMBUNG......