Ugh ... My Aggressive Bos!

Ugh ... My Aggressive Bos!
Tunggu Aku Pulang


__ADS_3

...“Aku juga merindukanmu. Tunggu aku pulang.” – Leonidas Salvatore...


...🫧🫧🫧🫧🫧...


“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Bianca saat masuk ke dalam ruangan Rein.


“Tolong hubungi Bella,” pinta Rein ragu-ragu, “katakan asam lambungku kambuh.”


Bianca yang tak tahu bahwa ada peristiwa besar yang telah terjadi antara Bella dan Rein, ia mengerutkan kening dan alisnya secara bersamaan. Pasalnya, saat itu Rein sama sekali tak terlihat sakit. Bahkan wajahnya terlihat segar dan bersemangat.


“Baik, Pak,” sahut Bianca mengiyakan dan tak ingin ikut campur.


Bianca keluar dari ruangan Rein, kemudian ia bergegas menghubungi Bella sesuai dengan permintaan Rein. Setelah itu, ia kembali melanjutkan pekerjaannya.


Di saat Bianca sedang fokus bekerja, ada beberapa karyawan yang melewati mejanya. Ada yang bertingkah sopan seperti menjilat padanya, ada yang mencuri-curi pandang untuk melihat seperti apa wajahnya dan ada juga yang tak peduli. Bianca merasa sangat risih. Tapi bagaimana cara ia bisa melawan semua ketakutan itu?


“Kak,” panggil Cindy yang tiba-tiba mendekat ke arah Bianca sambil membawakan segelas es americano untuk Bianca. “Aku mau minta maaf soal kemaren.”


“Maaf, aku bener-bener nggak sadar dan keceplosan,” imbuhnya dengan wajah yang polos sambil menyodorkan es americano tadi kepada Bianca.


“Makasih,” ucap Bianca menerima es americano tadi tanpa menggubris ucapan Cindy tentang permintaan maaf. Kemudian ia melanjutkan pekerjaannya.


"Tapi, Kakak kok bisa ya mantan Kakak selingkuh? Dia tega banget sama Kakak. Aku nggak nyangka ada orang sejahat itu," keluh Cindy mencoba mencari perhatian Bianca. Namun Bianca tak peduli dan ia hanya tersenyum seperti biasa layaknya seorang sekretaris yang profesional.


"Tadi aku liat undangan pernikahan Kakak. Namanya R—”


"Cindy," potong Bianca tak suka. Kali ini ia benar-benar menunjukkan kerisihannya dengan kehadiran gadis itu di sebelahnya. "Aku sedang kerja."

__ADS_1


"Kamu nggak ada kerjaan? Bukannya Alfred memberikanmu beberapa pekerjaan yang harus segera diselesaikan?" imbuh Bianca dengan mimik wajah yang serius.


"Oh iya ada, Kak. Hehehe." Lagi-lagi Cindy cengengesan dengan sangat menyebalkan.


Ivan yang saat itu melewati meja Bianca, tanpa sengaja ia mendengarkan celoteh Cindy. Pria tampan gemulai itu menggerakkan bibirnya menunjukkan rasa jijik dengan tingkah menggelikan Cindy. Kemudian ia melengos menuju meja kerjanya sambil memegang cangkir minuman hangat yang ia ambil dari pantry.


Cindy kembali duduk di mejanya yang berada di samping meja Alfred. Saat itu Alfred sedang ditugaskan ke lapangan. Jadi ia sedang tak berada di tempat.


Saat Bianca sedang fokus dengan pekerjaannya, ia meraih gelas americano yang diberikan Cindy tadi. Kemudian ia menyeruput minuman tersebut tanpa sedikitpun prasangka buruk. Baru sedikit minuman tersebut ia seruput, ia mendadak tersedak dan kembali meletakkan minuman tersebut ke atas meja kerjanya.


“Sial! Dia pasti sengaja!” umpat Bianca dalam hati. Pasalnya minuman tadi sangat manis. Bahkan seperti setengahnya itu gula dan setengahnya lagi minuman.


Bianca mengepalkan tangannya menahan amarah.


...“Tenanglah. Sekalipun kamu membunuh orang, aku yang akan membersihkannya untukmu.”...


Seketika kata-kata Leon terlintas di kepalanya. Ia yang semula tak berani menyentuh Cindy karena gadis itu adik ipar Rein, ia mendadak berniat ingin membalas perbuatan gadis itu. Memangnya, dia akan diam saja saat ditindas lalu difitnah? Toh, Leon juga tak pernah menampakkan sikap ramahnya terhadap adik ipar Rein itu. Tak mungkin Leon bersikap kasar pada Cindy tanpa sebab. Pasti ada sesuatu yang buruk yang tak ia ketahui tentang gadis licik itu.


“Sayang, apapun yang aku lakukan, kamu yang akan membersihkannya, ‘kan?”


^^^“Yes, My Angel.”^^^


^^^“Tapi tidak dengan selingkuh, aku sendiri yang akan memakanmu.”^^^


^^^“Awas saja kalau sampai itu terjadi.”^^^


Bianca terkekeh pelan saat membaca pesan dari Leon. Bisa-bisanya pria itu malah memikirkan tentang perselingkuhan. Padahal, ia adalah korban perselingkuhan. Tak mungkin ia melakukan hal tersebut dan balik menyakiti orang lain. Lagipula, untuk apa ia menyia-nyiakan pria tampan dan mapan yang ada di depan mata? Bahkan pria itu terlihat sangat bucin padanya.

__ADS_1


“Hahaha. Aku nggak akan pernah selingkuh.”


“Untuk apa aku selingkuh kalau pacarku ini tampan dan buas di ranjang? Hahaha.”


^^^“Kamu beruntung, karena sekarang aku lagi di Amerika.”^^^


“Kalau dekat? Kenapa?"


^^^“Aku akan membuatmu nggak bisa jalan selama 3 hari 3 malam.”^^^


“Ugh ... my agressive bos. Hahaha.”


"I love you, Sayang. Aku merindukanmu."


^^^"Love you more, My Angel."^^^


^^^“Aku juga merindukanmu. Tunggu aku pulang.”^^^


Bianca meletakkan kembali ponselnya sambil tertawa geli. Ia sedang membayangkan bagaimana ekspresi garang Leon yang seperti singa buas dan galak, mendadak menjadi manja dan menggemaskan.


"Haaa ... i miss him," gumam Bianca sambil menatapi foto profil Leon di aplikasi pesan singkat yang ia gunakan.


“Hai, Bi,” sapa Bella yang sudah berada di depan meja Bianca. Ia menenteng tas yang berisikan peralatan medis.


Hari ini, wanita itu terlihat menawan dengan balutan dress midi berwarna cream. Bahkan ia terlihat sedikit berdandan dari biasanya. Apa karena ingin bertemu dengan Rein? Pikir Bianca saat itu.


Bianca hanya tersenyum. Ia berharap agar Bella dapat mengatasi perasaannya. Pasalnya, situasi yang Bella hadapi bisa dikategorikan rumit. Pria yang wanita itu cintai berstatus suami orang. Tak ada jalan mereka bersatu kecuali Rein bercerai. Yah ... itu pun jika Rein juga memiliki perasaan yang sama pada Bella.

__ADS_1


...🫧🫧🫧...


...BERSAMBUNG......


__ADS_2