Ugh ... My Aggressive Bos!

Ugh ... My Aggressive Bos!
Hilangnya Kesabaran Reinhard


__ADS_3

..."Selama ini aku pikir kesabaranku tak terbatas. Tapi aku salah, ternyata kesabaranku ada batasnya." – Reinhard Salvatore...


...🫧🫧🫧🫧🫧...


"Tadi pagi sarapan apa?" tanya Bella sambil mendekat ke arah Rein yang sedang duduk di kursi kerjanya.


"Nggak sempat sarapan," dusta Rein. Padahal, pagi tadi ia sarapan sandwich dengan segelas susu yang disediakan oleh Bibi Endah.


Bella mendecakkan lidahnya saat Rein mengatakan bahwa ia melewatkan sarapan. Ia menggerutu sambil membuka tas yang berisikan peralatan medis yang ia bawa. "Istri ada, pembantu rumah tangga ada, sekretaris ada, bahkan duit juga ada buat beli sarapan."


"Apa susahnya sih sampai-sampai ngelewatin sarapan pagi?" imbuhnya tanpa menoleh ke arah Rein.


"Lupa," kilah Rein lagi. Ia menahan senyum sambil menatap wajah Bella yang sedang sibuk dengan alat medisnya.


Bella memutarkan bola matanya. Entah sejak kapan ia berani bersikap seperti itu pada Rein. Padahal sebelum-sebelumnya ia selalu jaga image di depan pria itu. "Jangan kayak anak kecil yang harus diingetin sarapan."


Rein tersenyum tipis. Ia bangkit dari duduknya sambil melonggarkan dasinya. Kemudian ia membuka satu per satu kancing bagian atas kemejanya sambil berjalan mendekat ke arah Bella yang sedang berdiri di samping meja kerjanya.


"Hem. Tolong ingatkan aku untuk sarapan," bisik Rein yang entah sejak kapan bibirnya sudah berada di samping telinga Bella, "kalau perlu, tolong sediakan sarapan untukku."


Bella menghentikan kesibukannya. Ia tak berani menoleh ke samping. Karena jika sampai ia menoleh ke samping, pasti wajahnya dan Rein saling berdempetan. Bahkan bibir mereka berdua bisa saja bertemu saat itu. Memikirkan itu saja sudah membuat Bella melayang ke udara. Tapi ia bergegas mengendalikan akal sehatnya agar tak kalah dengan cinta sesaat yang beracun itu.


"Kak, aku ke sini untuk memeriksa keadaan Kakak," tegas Bella. Sekujur tubuh Bella bergidik saat Rein menempatkan kedua tangannya di sisi meja dengan posisi ia berada dalam kurungan tangan pria itu.


Rein tak bisa menahan gejolak bahagianya karena akhirnya ia bisa mengusili bahkan mendekati Bella secara terang-terangan saat ini. Rein mendempetkan tubuhnya ke tubuh Bella yang saat ini sedang membelakanginya. Ada aroma manis yang tercium dari rambut hitam legam wanita tersebut saat hidung Rein menyentuh rambut itu.


"Aku pulang aja!" ketus Bella sambil merapikan kembali peralatan medisnya. Bukannya ia tak senang, hanya saja situasi itu masih terlalu asing buatnya. Seperti mimpi di siang hari, ia tak ingin mimpi tersebut hanya sebatas mimpi dan memberikan harapan padanya. Bisa saja ia benar-benar terpuruk jika harapan itu hanyalah sekedar harapan tanpa sedikitpun menjadi kenyataan.


Rein tak bergeming dan ia masih berada di posisi semula. Ia sengaja mengunci tubuh wanita itu di dalam kungkungannya.


"Kak, tolong minggir," pinta Bella gamblang.


Lagi-lagi Rein hanya diam. Ia menunggu sampai wanita itu kesal sendiri dan berbalik ke arahnya.


Seperti dugaan dan harapan Rein, benar saja Bella menjadi kesal dan bergegas membalikkan tubuhnya ke belakang menghadap ke arah Rein.


"Kak R—” Bella tak mampu melanjutkan ucapannya. Ia terbelalak dengan sekujur tubuh tersentak karena kaget. Bagaimana tidak, Rein mendekati wajahnya sesaat setelah ia berbalik badan. Bahkan saat ini jarak wajah mereka kurang dari setengah jengkal! Sampai-sampai deruan nafas Rein dapat dirasakan oleh Bella.

__ADS_1


Deg! Deg! Deg!


Entah detak jantung siapa itu. Yang jelas, jantung kedua orang tersebut berdetak dengan sangat kencang. Saking kencangnya seperti sedang berpacu lari.


Bella tak bisa berkutik sama sekali. Lidahnya mendadak kelu dan tubuhnya menjadi kaku. Yang dapat ia lakukan sekarang adalah meremas dengan kuat tepian meja yang menjadi topangan tubuhnya. Ia menumpahkan semua perasaannya yang saat itu sedang bercampur aduk dengan meremas kuat tepian meja.


"Bel ... boleh aku jujur?" bisik Rein dengan suara baritonnya yang membuat Bella semakin meleleh.


"Selama ini aku pikir kesabaranku tak terbatas. Tapi aku salah, ternyata kesabaranku ada batasnya. Sulit bagiku menahan diri," Rein menatap dalam ke arah bola mata Bella.


"Maaf ... hari ini aku tak akan menahan diri lagi. Kamu nggak ada pilihan lain selain menerimanya," bisik Rein sambil kedua bola matanya kini melirik ke arah bibir ranum Bella yang berwarna merah muda itu.


"SAYANG!"


Di saat Rein sedang berusaha meluapkan seluruh isi hatinya selama ini kepada Bella, tiba-tiba saja Anya masuk ke ruangan tersebut tanpa mengetuk pintu. Bahkan ia memanggil Rein dengan suaranya yang begitu keras sampai melengking dan menggema di ruangan yang besar itu.


Anya masuk ke dalam ruangan tersebut dengan dada yang naik turun karena amarah yang meluap-luap. Entah kenapa hatinya begitu sakit melihat pria yang selama ini ia pikir tak punya hati dan perasaan itu sedang bermesraan dengan wanita lain saat ini. Padahal, ia sendiri berselingkuh. Tapi entah kenapa ia tak sudi jika ia diselingkuhi. Meskipun ia sudah merencanakan pembunuhan, tetap saja ia tak suka sesuatu yang sah menjadi miliknya dimiliki oleh orang lain.


Manusia seperti Anya memang banyak di dunia ini. Ia melakukan hal-hal buruk sesuka hatinya dan menyakiti hati orang lain. Tapi saat orang lain balik menyakiti hatinya, ia sama sekali tak terima dan menaruh dendam. Bahkan manusia seperti ini dengan mudahnya memanipulasi situasi sehingga korban menjadi tersangka.


"M-maaf, Pak. Saya—”


Anya berjalan mendekat ke arah Bella. Langkah kakinya begitu cepat dengan heels merah 7 senti yang ia kenakan. Bahkan, kedua tangannya terkepal dan sedang bersiap siaga ingin menjambak rambut Bella.


Tapi sayang, sebelum Anya sempat menyentuh Bella, Rein sudah memasang tubuhnya untuk melindungi Bella.


"Dasar perempuan j a l a n g!!! Pelakor sialan!!!" umpat Anya dengan wajah bengisnya yang penuh ketegangan.


Bella mendadak terhenyak saat kata-kata 'pelakor' dilontarkan kepadanya. Padahal selama ini ia berusaha menahan diri agar tak memasuki hidup Rein karena tak ingin di cap sebagai pelakor. Tapi, situasi yang ia takuti itu akhirnya datang juga.


"Ini nggak seperti yang—”


"Heh! Di mana-mana kalau maling ngaku, penjara bakalan penuh!" hardik Anya memotong pembicaraan Anya.


"Dasar pelakor! Sampah! Pelacur murahan!"


"DIAM!!!" bentak Rein dengan suara lantang yang membuat amarah Anya seketika menciut. Pasalnya, pria yang selama ini tak pernah marah meski hanya sekali, tiba-tiba meninggikan suara padanya.

__ADS_1


Ternyata benar, marahnya orang sabar itu sangat menakutkan. Bella sampai terkejut melihat sifat Rein yang selama ini tak pernah ia ketahui. Di mata Anya dan Bella, bahkan di mata siapapun yang mengenalnya, Rein adalah sosok yang ramah, humble dan hangat. Sefatal apapun kesalahan yang orang lakukan, ia tak pernah menunjukkan amarahnya.


Lalu ... apa yang barusan terjadi?


"Sayang ... b-barusan ... k-kamu memarahiku?" keluh Anya dengan suara pelan seperti tikus terjepit.


"Maaf, aku pulang dulu, Kak," ucap Bella yang tak nyaman dengan situasi yang ada di depannya saat ini.


"Bel." Rein menahan tangan Bella tepat di depan mata Anya.


Namun Bella menempik tangan Rein dengan kasar. "Kak, jangan buat aku terlihat seperti pelakor sungguhan! Aku ke sini cuma mau ngobatin Kakak!"


Bella pergi meninggalkan ruangan tersebut dan keluar dari ruangan. Seluruh mata karyawan yang ada di sana termasuk Bianca, mereka menatap Bella dengan tatapan yang penuh makna. Teriakan Anya tadi saja sampai keluar, apalagi bentakan Rein? Semua yang ada di sana beranggapan bahwa Bella adalah seorang pelakor dan pihak ketiga yang sedang menggunakan tubuhnya untuk memikat suami orang.


Bella melangkahkan kakinya dengan langkah yang besar dan cepat. Bianca yang melihat hal tersebut, ia bergegas mengejar Bella.


Sementara itu, di ruangan CEO di mana Rein dan Anya sedang beradu debat, Anya mencecar Rein dan mengatakan bahwa dia adalah korban saat itu.


"Mas kok tega mempermainkan aku? Padahal aku ke Bali u—”


"Apa? Perjalanan dinas?! Undangan vendor? Supplier?!" potong Rein tak tahan.


Rein meraih ponselnya yang ada di atas meja. Kemudian ia membuka galeri fotonya dan menunjukkannya ke mata Anya.


"Ini yang disebut perjalanan dinas?! Bercinta tanpa henti tak kenal waktu dan tak punya malu dengan pacar yang sudah kamu kencani sejak SMA?!" tuding Rein tanpa basa basi.


Rein menunjukkan sebuah foto di mana Anya sedang mengenakan bikini dan berciuman dengan Martin di tepi pantai yang terkenal di Bali. Tak hanya berciuman, tanpa malu mereka berpelukan sembari tangan Martin terlihat sedang berada di atas salah satu gundukan gunung milik Anya.


"Jawab aku Anya!" hardik Rein dengan mata yang menegang dan urat merah yang menonjol di bola putih mata Rein. Rein melotot sejadi-jadinya ke arah Anya.


"M-Mas ... a-aku bisa jelasin ini."


"Apalagi yang mau dijelasin?!" hardik Rein tak kenal kasihan. Rein kembali menilik galeri ponselnya. Kemudian ia membuka salah satu foto di mana Anya sedang memasuki kamar hotel yang ada di Black Moon. Terlihat Martin sedang merangkul pinggul Anya dengan sangat mesra.


"Dengar Anya," Rein menatap tajam ke arah Anya, "selama ini aku diam dengan perbuatanmu."


"Tapi ... sedikit saja kau menyentuh Bella, aku sendiri yang akan mengantarkanmu ke neraka!"

__ADS_1


...🫧🫧🫧...


...BERSAMBUNG......


__ADS_2