Ugh ... My Aggressive Bos!

Ugh ... My Aggressive Bos!
I Like You and I Want You


__ADS_3

...“I like you … and I want you. Aku rasa kamu mengerti apa yang ku maksud.” – Reinhard Salvatore...


...🫧🫧🫧🫧🫧...


Tok! Tok! Tok!


“Bel, mau sampai kapan di dalam?”


Mendengar suara Rein, seketika jantung Bella kembali berdetak dengan kencang. Ia menatap wajahnya di pantulan cermin kamar mandi. Wajahnya merah merona bak udang rebus. Sedari tadi ia berperam di dalam kamar mandi karena mati kutu dan otaknya tak bisa bekerja dengan benar.


Bella menghidupkan keran air dan mencuci mukanya. Kemudian ia membetulkan rambutnya menggunakan jari. Meskipun lipstick di bibirnya sudah memudar, kecantikan alami yang ia miliki sedikitpun tak membuat wajahnya terlihat kurang menarik.


“Bel?”


Ceklek!


Bella membuka pintu dan berusaha terlihat baik-baik saja meski sebenarnya ia jauh dari kata baik-baik saja.


“Ayok.” Rein meraih tangan Bella dan menggenggamnya dengan erat.


Apa tak terbelalak mata Bella saat itu? Bella menarik tangannya karena terkejut. Ia mengangkat wajahnya menatap ke arah Rein. “Kak, tolong jelasin kenapa sikap Kakak tiba-tiba berubah?”


Rein menghadap ke arah Bella. Ia mensejajarkan tingginya dengan Bella dengan tubuh yang sedikit membungkuk sembari kedua tangannya menyilang ke dada.


“I like you … and I want you,” jelas Rein tanpa basa basi, “aku rasa kamu mengerti apa yang ku maksud.”

__ADS_1


“Tapi kenapa? Kakak ‘kan udah nikah? Lagian, aku ‘kan nggak suka sama Kakak.”


Rein menyeringai setengah. Ia mendempetkan wajahnya ke wajah Bella, kemudian mata birunya menatap dalam ke mata hitam Bella. “Are you sure?”


Bella menelan paksa salivanya.


“Tatap mata aku dan katakan kalau kamu nggak suka sama aku,” tegas Rein gamblang.


Bella membuang pandangannya ke samping. Ia tak mampu berkutik saat pria itu menyuruhnya menatap sepasang mata biru itu sambil berkata bahwa ia tak menyukai pria itu. Pikirannya berkecamuk. Apakah saat itu ia harus senang atau bersedih hati karena pria yang baru saja mengungkapkan perasaan padanya adalah suami orang.


“Kak, aku pulang dulu,” Bella melengos meninggalkan Rein.


Rein sengaja tak menahan Bella. Bukan karena ia tak peduli, tapi saat ini ia juga sedang berada di posisi yang salah. Menggoda wanita lain dengan status yang masih menjadi suami orang. Satu-satunya hal yang bisa membuat ia leluasa mengejar Bella adalah segera menceraikan Anya. Toh istrinya sudah berselingkuh sejak lama. Bahkan tak ada cinta di antara mereka.


Setelah kepergian Bella dari kamar hotel tersebut, Rein menuju sisi ranjang dan meraih benda pipih miliknya. Kemudian ia bergegas menghubungi seseorang. Tak lain adalah mata-mata yang selama ini ia bayar untuk mengikuti ke mana Anya pergi.


^^^"Bagaimana dengan percobaan pembunuhan dalam kecelakaan kemaren, Pak?"^^^


"Ya. Kumpulkan juga itu."


^^^"Baik, Pak. Maaf, kalau saya boleh tau, ada perlu apa ya, Pak? Mungkin saya bisa bantu."^^^


"Aku akan menceraikannya."


^^^"Saya akan membantu proses perceraiannya. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih karena bonus yang Bapak berikan selama ini jumlahnya sangat besar."^^^

__ADS_1


“Terima kasih,” ucap Rein sambil menghela nafas lega. Ia pun mematikan ponselnya dan bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Namun, saat ingin melangkahkan kakinya menuju keluar, tiba-tiba ia berhenti. Ia kembali mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Leon.


Rein tak langsung menghubungi Leon. Ia terlihat gelisah bak setrika panas yang mondar mandir tak tentu arah.


...“Aku benci perceraian! Kenapa harus menikah kalau akhirnya bercerai?!”...


Kalimat yang selalu menghantuinya selama 25 tahun ini terus berkelebat di kepala. Karena senyuman Leon tak terlihat usai adiknya itu mengatakan kalimat tersebut dengan isak tangis yang begitu pilu dan menyayat hati. Terlahir dari keluarga yang hancur bukanlah keinginan mereka berdua. Tapi setidaknya beri mereka ruang dan waktu untuk menerima kenyataan pahit tersebut sebelum mereka benar-benar harus berpisah dengan salah satu dari orangtua mereka.


“Hah!” Rein menghela nafas kasar sembari menyeka kasar wajahnya. Kemudian ia duduk di sisi ranjang sambil menghubungi Leon.


^^^“Halo, Kak.”^^^


"Leon, kapan pulang ke Indonesia? Ada yang ingin kubicarakan."


^^^"Minggu depan. Kenapa, Kak?"^^^


"Yaudah. Minggu depan aja kita bicarakan."


^^^“Kak … are you alright?”^^^


Suara Leon terdengar khawatir saat Rein ingin membicarakan sesuatu. Sepertinya ada hal yang mendesak sampai-sampai tak bisa dibicarakan melalui telefon.


“Sure. I’m alright. Kabari aku kalau kamu pulang.”


^^^“Okay, Kak.”^^^

__ADS_1


...🫧🫧🫧...


...BERSAMBUNG…...


__ADS_2