
...“Bertahanlah sampai aku datang menjemputmu.” – Leonidas Salvatore...
...🫧🫧🫧🫧🫧...
“Kak, aku ikut makan siang ke kantin dong,” ucap Cindy sambil merangkul tangan Bianca.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Bianca ragu-ragu. Pasalnya, selama ini Cindy memesan makanan online ataupun makan di restoran-restoran yang lumayan mahal. Takutnya gadis itu tak sesuai dengan makanan yang ada di kantin dan malah berujung tidak makan apa-apa sama sekali.
“Aku pengen coba, hehehe,” sahut Cindy sambil cengengesan.
Mendengar ucapan Cindy, Bianca pun mengajak gadis itu tanpa berfikir apa-apa. Setibanya di kantin, mereka memilih menu-menu yang ada, kemudian mencari meja yang dapat di tempati. Karena meja sudah penuh di jam makan siang, Bianca pun memilih untuk ikut makan bersama dengan karyawan lainnya. Kebetulan di sana ada Ivan dan teman-teman yang ia kenal saat ia masih berstatus sekretaris junior.
Di meja tersebut ada 8 orang termasuk Bianca dan Cindy. Mereka makan sambil mengobrol ngalur ngidul. Namun, tiba-tiba ada seseorang yang penasaran dengan kehidupan Bianca.
“Bi, lo kenapa sih nggak jadi nikah?”
Bianca tersedak sementara Cindy menatap melotot ke arah Bianca. Kemudian ia bertanya dengan spontan pada Bianca, “Kakak nggak jadi nikah sama Kak Leon?”
Bianca kembali tersedak. Semua mata yang ada di meja itu bahkan di meja sebelah yang mendengarkan ucapan Cindy langsung menengok ke arah Bianca secara bersamaan.
“M-maksudnya?” tanya Bianca yang pura-pura tak mengerti dengan ucapan Cindy. Ia memasang wajah tak nyaman namun tetap memaksakan tersenyum. Gadis yang ada di depannya saat ini benar-benar membuat ia berada dalam bahaya. Bisa saja nanti ada pembicaraan-pembicaraan yang tak baik tentang dirinya.
“Jadi, lo pacaran sama CEO baru kita? Makanya batal nikah dengan tunangan yang seharusnya nikah bulan kemaren?” tanya salah satu karyawan yang ikut makan bersama di meja itu.
Siapa sih yang tak suka bergosip? Apalagi gosip tentang seorang wanita yang batal nikah karena mempunyai hubungan spesial dengan CEO baru di perusahaan tempat mereka bekerja. Terlebih lagi, wanita tersebut mendadak di angkat sebagai sekretaris pribadi di hari pertama ia masuk setelah mengambil cuti.
“Gila! Bi! Diem-diem lo ya!” celetuk seseorang lagi.
“Kak, kenapa Kakak nggak jadi nikah sama mantan tunangan Kakak?” Cindy terus menerus memojokkan Bianca saat itu. Padahal ia dapat menangkap ekspresi tak nyaman di wajah Bianca. Namun, rasanya begitu puas membuat perempuan yang ada di depannya merasa terpojok sendiri. Yah … siapa suruh merebut pria yang menjadi incarannya?
“Ih! Kalian pada kepo deh! Kata siapa Bianca batal tunangan gara-gara pacaran dengan Pak Leon? Kan kalian udah pada tau kalo mantan tunangannya selingkuh!” sanggah Ivan yang tak tahan melihat Bianca terpojokkan sejak tadi.
Cindy menatap terkejut ke arah Ivan. Pria yang selama ini tak pernah bersuara di depannya, bahkan pria yang ia anggap cool dan tampan ternyata memiliki sisi kewanitaan. Sekujur tubuhnya mendadak bergidik menyesali bahwa ia sempat memimpikan untuk bercinta dengan pria itu.
“Hahaha,” Bianca memaksakan tawanya yang terlihat sangat tidak natural, “sorry guys, gue lagi nggak mood bahas mantan.”
__ADS_1
Usai mengatakan hal tersebut, Bianca beranjak pergi meninggalkan meja tersebut. Padahal makanannya belum habis dan masih sisa setengah. Tapi, siapa yang masih berselera untuk makan jika berada di situasi yang memojokkan seperti itu?
Ivan ikut meninggalkan makanannya dan mengejar Bianca. Ia tak peduli dengan tatapan aneh karyawan-karyawan yang lain bahkan bisik-bisik yang mulai membicarakan tentang Bianca.
Sementara Ivan dan Bianca tak berada di sana, Cindy mencoba mendekatkan dirinya dengan karyawan yang ada di sana. Bahkan ia mengorek masa lalu Bianca dan memburuk-burukkan Bianca.
“Pantesan perjodohan aku dan Kak Leon gagal, ternyata dia pacaran dengan Kak Bianca,” lirih Cindy pilu dengan wajah yang menampakkan kesedihan. Ia menunjukkan sisi menyedihkan dirinya untuk menarik simpati pada karyawan yang ada di sana. “Padahal, aku udah menahan diri untuk nggak pacaran dengan siapa-siapa selama ini.”
...🫧🫧🫧...
“Hmm. Cari tau informasi tentang pria yang bernama Rey itu.”
Cindy menyeringai puas usai mematikan ponselnya. Ia mendapatkan undangan pernikahan Bianca dan Rey dari salah seorang karyawan yang berhasil ia dekati. Bahkan ia menyuruh seseorang untuk menyelidiki data pria tersebut dan mencari informasi tentang mantan tunangan Bianca.
Sementara itu, Bianca menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan tangan yang terbentang. Ia memejamkan matanya untuk mencoba melupakan semua permasalahan yang ada di kantor tadi. Andai ia tak memiliki hutang yang menumpuk, pasti ia sudah mengajukan resign dan keluar dari perusahaan tersebut.
Drrttt… Drrttt…
Bianca tak menggubris benda pipih miliknya yang sedang bergetar. Ia memunggungi ponselnya dan memeluk guling. Kemudian ia tenggelamkan wajahnya ke dalam guling mencoba mencari ketenangan.
Drrttt… Drrttt…
“Leon …,” lirih Bianca pilu.
Bianca menolak panggilan video Leon. Kemudian ia menghubungi pria itu melalui panggilan suara.
^^^“Sayang? Kenapa telfon? Aku mau video call.”^^^
“Besok aja ya? Aku lagi—”
^^^“No. I want video.”^^^
“Leon?” Bianca memelas dan memohon agar pria itu tak memaksanya.
Di sebrang sana, terdengar suara Leon yang sedang menghela nafas. Bukan menghela nafas kesal, hanya saja ia sedikit sedih karena tak bisa melihat wajah gadis yang ia cintai saat itu.
__ADS_1
^^^“Kamu resign aja ya?”^^^
Bianca mendadak mengerutkan keningnya saat Leon tiba-tiba menyuruhnya berhenti dari pekerjaan. Memangnya ada masalah apa sampai-sampai ia harus berhenti?
“Aku bikin masalah ya?”
^^^“Nggak. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa.”^^^
Mendengar ucapan Leon, seketika Bianca terdiam. Ia kembali teringat akan kejadian siang tadi saat di kantor. Andai ia tak tahu malu, pasti ia akan langsung resign dan meminta Leon membiayai hidupnya. Toh, pacarnya CEO dari perusahaan ternama yang kaya raya bukan? Namun, dengan ia melarikan diri dan bersembunyi, bukankah akan membuat orang semakin memandang dirinya sebelah mata?
^^^“Pasti ada sesuatu di kantor, 'kan?"^^^
Leon yang begitu peka, ia menebak gadis yang ia cintai mendapatkan perlakuan tak enak di kantor. Apalagi ia sudah mengetahui rencana licik Cindy dan Anya adalah menargetkan Bianca di antara 3 orang yang menjadi incaran 2 wanita sialan itu. Tapi saat itu ia sedang berada di Amerika. Jadi ia tak tahu berita terbaru apa yang terjadi. Mau tak mau, ia harus menanyakan langsung apa yang terjadi pada gadis itu langsung.
“Nggak—”
^^^“Kamu beda, Sayang. Kamu nggak kayak biasa.”^^^
^^^“Cindy? Hmm? Dia bikin masalah?”^^^
Bianca menggigit bibirnya. Ingin rasanya ia mengatakan iya dan berkeluh kesah pada pria itu, tapi ….
^^^“Kesalahan apapun yang kamu lakukan, aku jamin kamu nggak akan dipecat dari perusahaan. Kalo emang kamu bikin kesalahan, aku yang akan membiayai hidup kamu sampai mati.”^^^
^^^“Jadi, tolong jangan diam aja kalo emang Cindy keterlaluan. Aku nggak masalah kalau kamu menggunakan kekuasaanku.”^^^
“Tapi, aku nggak mau orang-orang beranggapan negatif. Apalagi aku ini hanya seorang sekretaris.”
^^^“Terus? Masalahnya apa? You are my girl. You are my future. Jadi apa yang kamu takutin?"^^^
Bianca hanya diam dan tak menjawab. Ia mencoba mencerna dan memikirkan ucapan Leon tadi. Sebenarnya ia ingin sekali melawan Cindy dan bersikap tegar. Tapi ia takut karena Cindy adalah adik ipar Reinhard, CEO Salvatore Indonesia.
^^^“Tenanglah. Sekalipun kamu membunuh orang, aku yang akan membersihkannya untukmu.”^^^
^^^“Tolong, bertahanlah sampai aku datang menjemputmu.”^^^
__ADS_1
...🫧🫧🫧...
...BERSAMBUNG......