Ugh ... My Aggressive Bos!

Ugh ... My Aggressive Bos!
Tanpa Pamrih


__ADS_3

...“Sejak kecil, aku dan Leon memiliki segalanya. Tapi kami tak memiliki cinta dan kasih sayang. Jadi tolong, berikan dua hal itu dengan tulus tanpa pamrih.” – Reinhard Salvatore...



“Sayang.” Anya memeluk Rein dari belakang.


Pria yang saat itu sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, ia membalikkan tubuhnya untuk memeluk istrinya. Ia mengecup pucuk kepala Anya dengan wajah yang datar. Entah kenapa, sulit rasanya untuk ia memupuk kembali tunas cinta yang semula subur mendadak layu sebelum tumbuh besar.


“Hari ini aku harus ke Bali. Ada undangan—”


“It’s okay. Berapa lama?” tanya Rein memotong pembicaraan Anya.


“Tiga. Tiga hari.”


“Perlu aku antarkan ke bandara?”


“No. Aku bisa sendiri.”


Rein menghela nafasnya. Ia mengusap pelan punggung Anya. Setelah itu ia berangkat ke kantor tanpa menyentuh sarapan sama sekali. Saat di dalam mobil, ia menatap ke luar ke arah pemandangan lalu lintas yang begitu padat.


“Dari sekian banyak manusia yang ada di dunia, kenapa aku harus mencintai orang yang salah? Bahkan berujung dengan menikahi wanita yang tak pernah aku cintai?” batin Rein. Ia memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Pikirannya melayang membayangkan wajah wanita yang telah lama bersemayam di hatinya.

__ADS_1


Pak Beny yang merupakan supir setia Rein, ia hanya bisa menatap kegundahan yang tergambarkan di wajah Rein melaluin kaca spion dalam mobil. Sesaat kemudian ia kembali fokus membawa mobil dan melaju menuju kantor.


Setibanya di kantor, Rein bekerja seperti biasa. Ia mengalihkan kegundahan hatinya dengan fokus bekerja. Meskipun ia tahu bahwa Anya ke Bali bukan untuk kebutuhan bisnis melainkan pergi liburan dengan Martin, ia tak peduli. Toh selama ini istrinya itu tak pernah mengusik kehidupan pribadi dan pekerjaannya. Asalkan wanita itu bisa menjadi istri yang tercatat di negara saja, ia sudah cukup.


Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Rein memanggil Bianca ke ruangannya.


Tok! Tok! Tok!


“Masuk.”


“Permisi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Bianca sambil memegang tablet dan bersiap-siap mencatat permintaan Rein.


Bianca mengerutkan keningnya. Bukannya ia ingin ikut campur, tapi kenapa pria yang sudah menikah itu memilih untuk tidur di luar daripada tidur di rumah sendiri? Apa pria itu sedang bertengkar dengan istrinya?


“A—”


“Oh iya, selain kamu, siapa sekretaris pribadi yang berada di samping Leon?” tanya Rein yang tiba-tiba penasaran akan pacar adiknya. Selama ini ia terlalu sibuk dengan urusan pribadinya sampai-sampai ia lupa untuk mencari tau siapa wanita yang dikencani adiknya.


“Ng-nggak ada, Pak,” jawab Bianca terbata-bata. Seketika tubuhnya mendadak kaku. Ada begitu banyak fikiran-fikiran negatif yang bersemayam di kepalanya. Apa ia akan di marahi dan disuruh menjauhi Leon? Atau mereka disuruh putus dan ia dipecat dari perusahaan? Bahkan kemungkinan terburuk adalah ia disuruh meninggalkan Indonesia?


Rein tersenyum. Ia mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Bianca. Tatapan yang Bianca sangka akan membuat ia bungkam seribu kata. Ternyata tatapan yang penuh dengan kehangatan.

__ADS_1


“Jadi kamu, perempuan itu?” tanya Rein ramah.


Bianca hanya diam dan tertunduk. Ia meremas roknya karena tangan yang berkeringat. Lagi-lagi ia menggigit bibirnya karena gugup.


“Tolong jaga Leon. Mungkin dia sedikit angkuh, tapi sebenarnya dia itu baik.”


Deg!


Seperti ada sesuatu yang menancap tepat di dada Bianca dan membuat jantungnya seolah-olah berhenti. Apa ia tak salah mendengar? Barusan Rein menitipkan Leon kepadanya? Kepada seorang sekretaris pribadi yang tak memiliki kelebihan apa-apa selain hutang yang menumpuk dan masa lalu yang kelam? Apa mereka tak takut reputasi Salvatore Group tercoreng?


“A-anu, Pak. Kenapa Bapak nggak melarang?”


Rein terkekeh pelan. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi sembari menyilangkan tangannya ke dada. Tatapannya menerawang jauh tak bertumpu.


“Sejak kecil, aku dan Leon memiliki segalanya. Tapi kami tak memiliki cinta dan kasih sayang. Jadi tolong, berikan dua hal itu dengan tulus tanpa pamrih.”


"Dua hal itu seperti benda mahal yang tak pernah bisa kami miliki sejak kecil. Aku sempat khawatir dia akan menyendiri sampai tua. Tapi ternyata aku salah. Ada matahari yang bisa mencairkan es yang beku itu."


...🫧🫧🫧...


...BERSAMBUNG…...

__ADS_1


__ADS_2