
Hembusan angin di akhir musim semi itu meniup rambut merah gadis itu, ia teringat kali pertama ia pergi ke bandara ini saat mengantar teman sekolahnya saat dia masih duduh di bangku sekolah dasar, tapi kali ini, dialah yang duduk di bangku ruang tunggu. Rose, wanita berumur dua puluh lima tahun itu itu tampak menghela nafas sambil meregangkan lehernya yang kaku. Sudah sejam dia menunggu di kursi bandara. Rasa cemas kembali menghampirinya, ini pertama kalinya dia naik pesawat. irisnya yang berwarna coklat masih terpaku pada arloji kecil yang ia kenakan.
Dirinya kembali memastikan dokumen yang akan dia butuhkan untuk menaiki pesawat nanti. Wanita dengan tinggi badan rata-rata, wajah oval, dan pakaian kasual, seperti itulah yang dilihat orang-orang pada diri Rose, tapi siapa yang tau alasan dia pergi dari kotanya sendiri? Tidak ada. Beberapa saat kemudian, wanita berusia duapuluh lima tahun itu berjalan menuju gate keberangkatan. Akhirnya dia akan memulai perjalanan yang baru, jauh dari semua hal yang dia tinggalkan.
Perjalanan dengan pesawat hanya berlangsung beberapa jam sebelum Rose akhirnya sampai di tujuan, dan tak ada satupun dari penumpang lain yang mengetahui kalau barusan itu adalah penerbangan pertamanya. Walau dalam hatinya dia penuh debar, tapi dia bisa bernafas lega saat pesawat berhasil mendarat dengan aman. Rose mengamati bandara tempat ia baru saja mendarat, bandara ini tak jauh beda dengan bandara di kotanya, hanya saja dengan cuaca yang lebih panas dan juga orang-orang yang bicara dengan bahasa berbeda.
Rose berjalan diantara kerumunan orang, berusaha keluar dari area bandara. Jarinya beberapa kali mengetik sesuatu di telepon genggamnya, mata Rose sesekali melirik layar HP, memastikan bahwa dia sudah memesan mobil online dengan benar. Tak ada siapapun yang menjemputnya disini. Sebuah kota baru tanpa satu orang pun yang dia kenali, kecuali teman dari media sosialnya yang entah kapan terakhir kali mereka bertukar pesan. Awal yang baik bagi Rose.
Setelah sepuluh menit berjalan menuju pintu keluar, mata Rose berusaha mencari mobil yang dia panggil. Wanita itu akhirnya menemukan mobil yang dia cari, mobil itu melaju menuju penginapan yang dia sewa. Sepanjang perjalanan, Rose mengamati deretan bangunan dan juga orang-orang. Dalam hatinya dia merasa tak sabar untuk segera memulai pekerjaannya.
...****************...
Rose memandangi kamar yang ia sewa dengan puas, tak sia-sia dia menghabiskan uangnya yang sudah ia kumpulkan sekian bulan hanya untuk membayar penginapan ini selama sebulan penuh, ia juga harus membersihkan dan menata kamar. Wanita itu membaringkan tubuhnya yang lelah di atas kasur sembari melihat isi sosial medianya di HP.
Tiba-tiba handphone yang digenggamnya bergetar, layarnya menunjukkan sebuah panggilan masuk.
“Halo Ann, ada apa?” tanya Rose.
“Hai, kamu di mana? Apa kamu sudah sampai?" tanya seorang gadis lain di seberang sambungan telpon.
"Tunggu, kok kamu tau?"
"Kamu sudah bilang tanggal kepergianmu kesini. Tapi saat aku sampai di bandara nampaknya kamu susah naik taksi,” jelas gadis itu dengan tawa diakhir kalimatnya.
"Maaf, aku lupa."
"Kenapa kamu tidak bilang apa-apa saat mau berangkat, kan aku bisa menunggumu di bandara."
"Ya..ya.. aku tau. Maaf ya... aku sibuk dengan pikiranku sendiri," jawab Rose dengan sedikit rasa bersalah.
"Apa kamu sedang menata barang?"
"Kamu benar lagi... Kenapa Ann?"
"Kalau kamu sudah selesai beres-beres ayo keluar,” ujar suara di seberang.
“Beruntung sakali aku baru selesai beres-beres" sahur Rose bersemangat.
"Ayo pergi keluar kalau gitu," ajak Ann.
"Kamu mau keluar kemana? Maaf, aku tidak bilang saat aku akan pergi. Aku tidak ingin merepotkan,” ujar Rose memelas.
“Kamu ini, tidak perlu sungkan begitu. Cepat beritahu dimana penginapanmu, aku akan menjemputmu dan mengajakmu jalan-jalan. Kamu pasti masih belum tahu jalan sekitar sini, aku bisa menunjukkan tempat-tempat penting juga nanti,” ucap Annie. dari suaranya terdengar anak itu sedang bersemangat.
“Ya ya, nanti aku share lokasiku. Jam berapa kamu kesini?” tanya Rose
__ADS_1
“Aku berangkat dua puluh menit lagi, ya sudah aku tunggu alamatnya,” kata Annie memutuskan pembicaraan.
Rose mengirimkan lokasinya dan bergegas menuju kamar mandi, ini pertama kalinya dia akan bertemu dengan Annie setelah mengenal gadis itu selama tiga tahun. Selama ini mereka berdua hanya berteman lewat sosial media karena jarak yang jauh. Rose pernah beberapa kali melihat wajah Annie di foto, tapi tetap saja rasanya berbeda dengan bertemu secara langsung.
Duapuluh lima menit kemudian, Annie mengirimkan sebuah pesan yang memberitahu kalau dia sudah ada di depan penginapan Rose. Rose pun begegas keluar dan melihat seorang gadis berkulit putih, pipi yang tembam dan sedikit lebih muda dari Rose, gadis itu memiliki tinggi badan lebih rendah dari Rose, dari penampilannya Nampak Annie masih duduk di bangku SMA.
“Annie?” panggil Rose.
“Rose.. hai..! Akhirnya kita bisa bertemu secara langsung, kamu tampak lebih besar dari yang ada di foto” ujar Annie dengan senyumannya yang sedikit kekanakan.
Rose tersenyum melihat semangat Annie. “ Kamu juga tampak lebih lebih pendek dari yang ada di foto," balas Rose dengan nada jahil. Sesaat wajah cemberut Annie terlihat lalu lenyap seketika.
"Hmph..."
" Anyway..kamu mau mengajakku kemana?”
“Sudah ikut saja, ayok” kata Annie menyeret Rose untuk naik sepeda motornya.
Mereka berdua berkeliling kota mengunjungi mall, taman, perpustakaan, tempat rekreasi, toko kelontong, dan pasar. Terakhir, mereka mengunjungi sebuah kafe kecil, letaknya lumayan jauh dipinggiran kota, atau sebut saja Desa. Kafe itu cukup ramai untuk kafe kecil pada umumnya. tampak beberapa pengunjung yang asik bercakap-cakap dengan beberapa pegawai yang bisa dikatakan good-looking. Rose mengamati pegawai kafe itu dengan perasaan sedikit heran.
“Ada apa Rose?” tanya Annie.
“Tidak apa-apa, aku hanya sedikit heran, pegawai disini semuanya cantik dan tampan.”
Annie tertawa mendengar perkataan Rose.
Rose mengangkat satu alisnya mendengar penjelasan Annie, “Yah, beberapa orang memang dikaruniai oleh gen yang bagus.”
“Lupakan soal itu, apa rencamu selanjutnya?”
“Aku melamar di perusahan terdekat dan melakukan beberapa pekerjaan sambilan sambil menunggu aku juga sudah mendapat panggilan wawancara besok,” jawab Rose.
“Wah..itu bagus. Omong-omong, kalau kamu mau kerjaan sambilan, aku ada satu rekomendasi yang bisa kamu lakukan,” kata Annie.
“Apa itu?”
“Kamu jadi kurir saja, disini beberapa orang terlalu malas untuk mengirimkan barang mereka. Sementara itu, mereka tidak bisa menitipkan barangnya ke ekspedisi biasa karena butuh barangnya cepat sampai. Kalau kamu buka jasa kurir khusus untuk dalam kota, aku rasa akan ada banyak orang yang memakai jasamu.”
“Itu ide yang bagus, tapi dimana aku harus promosi nanti?” tanya Rose.
“Gampang, kamu buat saja pamfletnya. Nanti aku bantu taruh di komunitas yang ada di sosial media. nah.. kamu bisa memasang tarif antara duapuluh sampai limapuluh ribu tergantung jarak.”
“Terimakasih Ann, aku akan buat pamfletnya nanti.”
Sesampainya di kamar, Rose segera membuat pamflet sesuai dengan saran Annie walau dengan desain sederhana tapi tetaplah membuahkan hasil. Karena ini baru pertama kalinya dia membuat jasa seperti ini, Rose memutuskan untuk membatasi jarak jasanya hanya sampai dua KM dari tempat tinggalnya. Setelah mengirimkan file ke Annie, Rose pun menghubungi beberapa nomor penyewaan motor. Lima belas menit kemudian, Rose mengakhiri percakapannya di telepon.
__ADS_1
Rose membaringkan tubuhnya di kasur sembari menatap langit-langit kamar. Dia harus tidur lebih awal malam ini agar tidak mengantuk saat wawancara besok.
Sunyi.. jam menunjukan pukul sepuluh malam. kesunyian ini membawa Rose pada memori lama yang berusaha ia pendam jauh jauh. memori yang harusnya tak lagi ia ingat. Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengusir memori buruk itu. Dia tak punya waktu untuk menjadi lemah, tidak untuk sekarang.
...****************...
Rose menghela nafas lega setelah keluar dari ruang wawancara, sebuah senyum terulas di bibirnya. Dirinya cukup yakin bahwa ia akan diterima di perusahaan ini berdasar tanggapan yang dia terima. Rose hanya perlu menunggu tiga hari sebelum hasilnya diumumkan. Sementara itu, dia bisa mulai mengerjakan pekerjaan sambilannya. Senyum wanita itu semakin merekah saat melihat beberapa notifikasi di taksbar handphonenya menandakan banyaknya pesanan yang dia terima. Kalau dia menyelesaikan semua kiriman hari ini, dia tak perlu khawatir dengan biaya hidup untuk tiga hari kedepan.
Semua ini dia dapatkan hanya dalam sehari, bagaimana dengan seminggu atau sebulan? Kalau dia tidak diterima di perusahaan, Rose merasa cukup yakin dia bisa menafkahi diri sendiri hanya dari kerja sambilannya. Rose pun pulang dan mengeluarkan sepeda motor yang disewanya. Setelah memasang kantong khusus untuk menaruh barang, dia mulai memacu motornya menuju lokasi-lokasi pengambilan paket.
Beberapa hari berlalu dengan Rose yang disibukkan oleh kerja sambilannya. Setelah cukup menghafal jalan, Rose pun meluaskan jarak jasanya. Baru saja dia memasang pamflet yang baru, sebuah pesanan masuk di HP Rose. Berbeda dengan pesanan-pesanan lainnya, yang kebanyakan berada di rumah-rumah. Kali ini pesanan Rose berasal dari daerah industri dan perusahaan lokal yang cukup luas . Beberapa kali Rose melewati area perusahaan tersebut dan melihat penjagaan yang cukup ketat.
Rose memandangi beberapa catatan yang dituliskan oleh si pemesan, untuk menunjukkan pesan ini kepada penjaga agar Rose diijinkan masuk. Dalam hati dia bertanya-tanya kenapa barangnya tidak dititipkan di penjaga saja agar tidak terlalu menyusahkan, namun Rose memilih untuk menuruti permintaan itu. Karena sejujurnya dia juga penasaran, seperti apa isi dari bangunan perusahaan tersebut. Rose melihat informasi mengenai perusahaan itu di internet. Tampaknya ini hanya Laboraturium yang digunakan untuk pengembangan obat untuk ternak dan hewan peliharaan, tak ada yang begitu menyengkan untuk dilihat.
Sinar matahari beranjak diganti dengan dengan gelapnya malam. Ros berbaring dengan perasaan bersemangat setelah apa yang bisa ia capai hari ini. Rose pun tidur nyenyak. Sementara itu di sisi lain, tak jauh dari kompleks perusahaan yang Rose akan tuju besok, beberapa sosok berbaur dengan pepohonan dan kegelapan malam. Sosok-sosok tersebut mengamati area perusahaan dengan dengan iris mata mereka yang abnormal. Mata mereka mengamati dengan seksama.
“Bagaimana?” tanya salah satu dari mereka.
Terdengar dari suaranya yang berat dan tajam, sosok ini adalah laki-laki.
“Sulit untuk menerobos masuk dengan penjagaan seketat itu,” jawab sebuah suara yang terdengar seperti seorang gadis.
“Apa kamu dapat sesuatu yang baru El?” tanya laki-laki itu lagi. cahaya bulan sesaat menyorot sosok mereka yang berbaur dengan gelapnya malam dan barisan pohon pinus.
“Sistemku baru saja menangkap sinyal komunikasi mereka dengan seseorang. Tampaknya mereka akan mengirimkan barang itu melalui paket,” jelas Si gadis, ia berbalik sembari menghadap si laki laki. Dari tinggi badan si gadis yang jauh lebih pendek, sudah bisa disimpulkan siapa yang lebih tua diantara mereka berdua.
“Paket? kau bercanda? Siapa yang mereka hubungi?” tanya si laki laki lagi, kali ini sosoknya benar benar tampak dibawah cahaya bulan, pria berambut abu abu tua dengan iris mata merah tua itu melirik tajam kearah bangunan Lab yang mereka amati.
“Aku yakin kak, itu hanya seorang kurir yang baru- baru ini mulai membuka delivery sevice. Aku sudah memeriksa data kurir itu dan dia tidak ada hubungan sama sekali dengan mereka,” jawab Elga dengan serius.
Terlihat jari jemari gadis itu bermain lincah di atas device yang ia pegang, beberapa headset juga arloji dengan teknologi yang dia kembangkan sendiri menghiasi penampilan gadis bergaya punk tersebut.
“Apa yang akan kita lakukan kak?” tanya gadis lain yang berdiri di belakang mereka berdua.
“Bagaimana jika kita buat kurir itu pingsan dan ambil paketnya?” usul Elga.
“Aku rasa yang mereka kirim besok bukan barang yang kita incar. Mungkin mereka hanya ingin melihat apa kita akan menyerang kurir itu,” ujar si laki-laki. Kali ini suaranya sedikit lebih meragukan.
“Lalu, apa kita akan biarkan saja kurir itu?” tanya Elga.
“Tidak, kita akan hentikan dia dan ambil paketnya. Tapi kita tidak akan membuatnya pingsan. Sebaliknya, kita buat seolah-olah kita sengaja membiarkan dia pergi begitu saja. Jika nanti mereka mencoba memakai kurir lain, kita akan ambil tindakan pada kurir-kurir itu.” jeals si pria berambut abu-abu.
“Apa kamu berencana untuk menjadikan kurir baru itu sebagai umpan, kak Zi?” sosok ketiga di belakang mereka akhirnya ikut bertanya.
“Saat mereka kira ada sesuatu yang istimewa dengan kurir itu dan mulai menyelidiki, saat itulah kita bergerak,” ucap Zi sembari beranjak pergi.
__ADS_1
~[see ya in the next chap]